Pasangan Suka Mengintil

Pasangan Suka Mengintil

  Sabtu, 22 Oktober 2016 09:00

Berita Terkait

Kebanyakan orang ingin mengetahui kegiatan yang dilakukan suami atau istrinya. Tak sedikit pula keinginan ini dikarenakan rasa cemburu yang terus menghantui. Akhirnya muncul keinginan untuk mengikuti kemana pun pasangan pergi, bahkan ke kantor. Tak heran, pasangan seperti ini sering mendapat julukan si tukang mengintil. Mengintil berasal dari kata dasar kintil, yang berarti mengikuti atau membuntuti.

Lantas, sehatkah hubungan seperti itu?

Yeni Sukarini, S. Psi, Psikolog mengatakan dalam hubungan ada berbagai karakter pada pasangan, termasuk yang ingin ikut kemana pun pasangannya pergi. Ini biasanya oleh berbagai alasan.

“Ikut kemana pasangan pergi dan mencari tahu apa yang dilakukan pasangan itu tidak apa-apa, asalkan itu wajar. Tetapi menjadi tidak sehat bila sudah berlebihan. Sampai-sampai pasangan tidak memiliki ruang privasi bagi dirinya sendiri,” ungkap Guru BK di SMP 13 Pontianak ini.

Salah satu alasannya bisa dari pengalaman-pengalaman yang dia dapatkan. Pengalaman tersebut bisa saja dari dirinya bersama pasangan maupun pengalaman orang lain. Jika dia pernah melihat suami atau istri seseorang selingkuh, muncul kekhawatiran akan terjadi hal yang sama pada pasangannya. Dia pun menaruh curiga, apalagi jika sebelumnya dia dan pasangan punya masalah yang sama.

“Itu sebabnya dia tidak ingin kejadian tersebut terjadi lagi dan memilih selalu ikut pasangannya ke mana- mana,” ungkapnya. Yeni menjelaskan ada pula kebiasaan mengintil berawal dari rasa cemburu yang dialami pasangan. Tetapi rasa cemburu itu akhirnya menjadi berlebihan.

“Cemburu pada pasangan itu harus. Cemburu itu bisa melahirkan perhatian kepada pasangan, rasa cinta, tetapi tentu cemburu yang sewajarnya,” ulasnya.

Sikap posesif yang dimiliki pasangan juga dapat memicu seseorang menjadi ingin tahu dan ingin ikut kemana saja pasangannya pergi. “Kalau sudah posesif, dia ingin tahu segala hal dengan pasangannya. Akhirnya akan memunculkan prasangka-prasangka negatif terhadap pasangannya dan selalu menaruh curiga,” jelasnya.

Sebagai pasangan sudah seharusnya mendampingi suami atau istrinya. Mendampingi pasangan akan membangun rasa cinta dan tanggung jawab dalam membina rumah tangga. Tapi jika sudah pada tahapan mengganggu, akan memunculkan pengaruh negatif pada hubungan keduanya.

 “Suami atau istri merasa tidak nyaman, apalagi jika muncul pengekangan-pengekangan pada hal-hal yang sebenarnya tidak perlu di kekang. Pasangan akan merasa dicurigai, padahal dalam hubungan suami istri dibutuhkan rasa percaya satu sama lain,” katanya.

Pada pasangan suami istri yang bekerja, tentu ini akan berpengaruh pada lingkungan kerja. Sebab  lingkungan kerja tentu tidak sama dengan suasana di rumah. Contohnya ketika ada seorang suami yang hampir setiap hari datang ke kantor istrinya. Jika ada hal serius yang diperbincangkan, tentu tidak menjadi persoalan. Akan sangat mengganggu, jika dia datang hanya sekadar memantau aktivitas istrinya.

“Istri pun bekerja menjadi tidak tenang. Sekalipun kedatangan suami tidak bermaksud mengganggu kinerjanya. Tetapi tetap saja ini bukan sikap yang tepat untuk menunjukkan perhatian kepada pasangan,” tuturnya.

Ia menyarankan agar mengomunikasikan hal tersebut kepada pasangan. Jangan membiarkannya malah menjadi penyebab rusaknya rumah tangga. Berikan pengertian kepada pasangan bahwa ada hal-hal atau situasi dan kondisi tertentu yang mengharuskan dia tidak ikut. 

“Misalnya ada tugas ke luar kota, pasangan juga ingin ikut sementara kondisi tempat penginapan tidak memungkinkan. Sebaiknya bicarakan dengan baik agar tidak menjadi masalah dalam rumah tangga,” pungkasnya. **

 

 

Berita Terkait