Pasangan Pranikah Wajib Tes HIV

Pasangan Pranikah Wajib Tes HIV

  Sabtu, 20 February 2016 09:34
Gambar dari JawaPos

Berita Terkait

PONTIANAK - Anggota DPRD Kota Pontianak dari Komisi D meminta tiap pasangan calon pengantin mesti melakukan pengecekan tes HIV sebelum pelaksanaan pernikahan. Keseriusan dorongan menggema ketika melakukan rapat bersama beberapa instansi terkait, di gedung wakil rakyat, Kamis (18/2).

Ketua Komisi D, dari Partai Nasdem, M. Yuli Armansyah mengatakan, dalam hasil rapat bersama Departemen Agama Pontianak, KPA Pontianak dan Dinas Kesehatan Pontianak salah satunya Komisi D mendorong, agar ke depan pasangan pra nikah wajib melakukan tes HIV. Tujuannnya untuk mengidentifikasi dan menekan virus mematikan itu, dengan sasaran ibu dan anak. “Sudah kami tekankan ke lembaga tersebut untuk tiap pasangan pra nikah mesti melalui tes HIV,” tegasnya kepada Pontianak Post, Jumat kemarin.

Dorongan itu nyata di respon positif oleh Departemen Agama Kota Pontianak, yang turut meminta pemberlakuan aturan pasangan pranikah melakukan tes HIV. Terlebih lanjutnya mencuat temuan pasangan nikah sesama jenis di satu daerah juga di antisipasi kalangan dewan agar pihak terkait lebih peka dan teliti. “LGBT lebih rentan terjangkit HIV. Apalagi jika biseksual. Makanya kami dorong lakukan tes HIV sebelum nikah,” ujarnya.

Menurut dia, tes HIV penting. Pasalnya dapat mencegah virus mematikan agar tak menular dengan individu yang sebelumnnya bebas HIV. Ia tak ingin masyarakat Pontianak tertular dengan cara tersebut. Makanya pencegahan dini dilakukan. Sejauh ini tanggapan Dinkes Pontianak menanggapi dorongan tes HIV masih dalam tahap pengkajian.

Jika pelunasan pembayaran PBB bisa jadi ajuan Wali Kota sebagai salah satu syarat agar bisa menikah, kenapa tes HIV bagi calon pasangan nikah tidak dilakukan. Makanya Komisi D dorong agar aturan ini dapat di terapkan. “Kami ingin di aturan ini tidak hanya calon pasangan nikah di Pontianak, namun warga Pontianak yang menikah di kota kabupaten lain juga mesti lakukan tes lebih dahulu,” terangnya.

Terkait LGBT, Yuli meminta semua pihak dapat waspada dengan gerak gerik kaum ini. Sulitnya mendeteksi LGBT pikirnya juga jadi persoalan. Di contohkan, jika ke dua wanita atau pria menginap di penginapan tentu tidak dicurigai dengan anggapan hanya sebatas teman atau sahabat. Namun setelah masuk di dalam kamar, tentu tak ada yang tahu perbuatan mereka. “Kalau Pol PP mau nangkap mesti ada bukti. Harusnya LGBT ini di bawa ke psikiater guna diberi bimbingan dan harapan saya mereka bisa sembuh. Kalau dibiarkan terlalu jauh akan mengkhawatirkan,” cetusnya.(iza)

 

Berita Terkait