Para Petani Minta Digolongkan dalam HHBK

Para Petani Minta Digolongkan dalam HHBK

  Selasa, 22 March 2016 08:48
PANEN PURIK: Sejumlah petani di Nanga Boyan sedang memanen daun purik. Para petani kini mulai melirik daun tersebut sebagai komoditas unggulan. CVSARANANUSANTARA.BLOGSPOT.CO.ID

Berita Terkait

PUTUSSIBAU – Rencana kepala Dinas (Kadis) Perkebunan dan Kehutanan Kapuas Hulu, Abdurrasyid, menjadikan daun purik (kratom) sebagai komoditas unggulan daerah, direspons banyak kalangan, terutama petani. Pemerintah pun diharapkan  segera mengeluarkan regulasi khusus untuk tata niaga purik, dengan memasukkannya ke dalam golongan hasil hutan bukan kayu (HHBK) Kapuas Hulu.

“Saya kira langkah Kadis Perkebunan dan Kehutanan Kapuas Hulu yang berkoordinasi dengan aparat kepolisian dan TNI terkait tata niaga daun purik sudah sangat tepat,” terang Kamsuadi, ketua Kelompok Tani Mujan Bersatu. Dia memastikan jika langkah itu direspons positif para petani. Kebijakan tersebut bagi mereka begitu membela kepentingan petani yang saat ini pada posisi serba sulit dalam berusaha, sejak harga karet anjlok.

Hanya saja, kata Kamsuadi, pemerintah daerah mesti segera merespons semangat petani, yang sudah menanam ratusan hetare purik. Terutama, menurut dia, di daerah Kecamatan Bunut Hilir, Embaloh Hilir, Putussibau Selatan, dan Putussibau Utara, serta beberapa kecamatan lainnya. Jika pemda tidak segera merespons semangat para petani, dia khawatir jika mereka pula nanti yang akan dirugikan. Terlebih, dia mengambahkan bahwa mereka sudah terlanjur berkebun purik.

“Bisa saja pemda mengusulkan pada Pemerintah Pusat untuk membuat aturan yang permanen terkait tata niaga purik. Karena purik ini tidak tumbuh di semua daerah di Kalbar, hanya Kapuas Hulu. di Kapuas Hulu tidak semua ditumbuhi purik,” jelasnya. Untuk daerah Kapuas Hulu yang ditumbuhi pohon purik, diungkapkan dia, adalah daerah Kecamatan Bunut Hilir, Boyan Tanjung, Bunut Hulu, Mentebah, dan Kalis. Selain itu, dia menambahkan, juga ada di sebagian Kecamatan Jongkong dan Pengkadan, Embaloh Hilir, Embaloh Hulu, Putussibau Selatan, dan Putussibau Utara.

“Pohon purik ini hanya cocok dibataran sungai dan daerah dataran rendahm” jelasnya. Saat ini, dipastikan dia bagaimana masyarakat secara mandiri dan tradisional, beramai-ramai menanam pohon purik. Bahkan dia memperkirakan sudah ratusan hingga ribuan hetare pohon purik sudah dikebunkan.

Dia yakin jika purik memang bisa dijadikan usaha unggulan masyarakat Kapuas Hulu, yang sejalan dengan kabupaten konservasi setelah budi daya madu alam, penangkaran arwana, dan komoditas lainnya. “Saya yakin daun purik bisa jadi usaha unggulan daerah, karena sajalan dengan konservasi,” jelasnya. (aan)

Berita Terkait