Pangkas Pelayanan Berbelit-Belit

Pangkas Pelayanan Berbelit-Belit

  Selasa, 24 May 2016 09:30
APEL Bupati H Ria Norsan saat memimpin apel Peringatan Harkitnas 2016 di Mempawah. WAHYU/PONTIANAKPOST

MEMPAWAH- Penyelenggaraan pemerintahan daerah dituntut lebih efisien dan transparan dalam bekerja. Salah satunya dengan memangkas proses pelayanan yang berbelit-belit dan berkepanjangan tanpa kejelasan. Manfaatkan waktu dengan baik agar mampu memaksimalkan pelayanan publik.

Pesan itu disampaikan Bupati Mempawah, H. Ria Norsan ketika membacakan sambutan tertulis Menteri Komunikasin dan Informatika RI, Rudiantara pada apel bendera Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-108 tahun 2016 di Halaman Kantor Bupati Mempawah, belum lama ini.

Harkitnas ke-108 ini mengangkat tema ‘Mengukir Makna Kebangkitan Nasional dengan Mewujudkan Indonesia yang Bekerja Nyata, Mandiri dan Berkarakter’. Tema tersebut dimaknai sebagai motivasi bagi seluruh element bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan globalisasi di masyarakat.

“Melalui kemajuan teknologi digital, ancaman radikalisme dan terorisme misalnya, mendapatkan medium baru untuk penyebaran  paham dan praktiknya,” tuturnya.

Selain itu, imbuh Norsan, bangsa Indonesia juga sedang dihadapkan pada permasalahan ketahanan secara kultural. Munculnya kekerasan terhadap anak dan pornografi menjadi permasalahan serius yang dapat mengancam kelangsungan hidup generasi bangsa.

“Dampak kemajuan teknologi digital sangat berperan penting dalam penyebaran informasi, baik positif maupun negatif, secara cepat dan massif,” tegasnya.

Lebih jauh, Bupati menilai tantangan baru yang muncul ditengah kehidupan masyarakat memiliki dua dimensi penting, yakni kecepatan dan cakupan. Pemerintah harus menentukan langkah strategis agar tidak kedodoran dalam menjaga keutuhan NKRI.

“Kerja nyata, kemandirian dan karakter kita terpusat pada pemahaman bahwa saat ini kita dihadapkan dalam kompetisi global. Persaingan bukan lagi muncul dari tetangga-tetangga disekitar lingkungan saja,” ujarnya.

Kini, timpal Norsan, bukan saatnya lagi mengedepankan hal-hal sekedar pengembangan wacana yang bersifat seremonial dan tidak produktif. Melainkan saatnya untuk bekerja nyata dan mandiri dengan cara-cara baru penuh inisiatif.

“Jangan kita mempertahankan dan membenarkan cara-cara lama hanya karena menjadi kebiasaan sehari-hari. Mulai sekarang, kita harus membiasakan yang benar dan membenarkan yang biasa,” pesannya mengakhiri.(wah)