Panen Ubur ubur di Sambas

Panen Ubur ubur di Sambas

  Sabtu, 26 March 2016 09:24
PANEN: Dari kejauhan, proyek galian C terhadap di sebuah perbukitan di wilayah Selatan Kota Singkawang. Beberapa warga mengkhawatirkan penggalian batu dan tanah merah malah akan menimbulkan longsor. ISTIMEWA/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

SAMBAS- Pelabuhan tradisional Setinggak Tawar di Desa Sebubus, Kecamatan Paloh setiap pertengahan Maret hingga April, kebanjiran tamu untuk memanen ubur-ubur di laut. Pelabuhan ini bertetangga dengan desa Temajuk, tempat panen ubur-ubur dilakukan.

Caranya memanennya pun gampang. Pagi dan sore, nelayan menggunakan motor mendekati kumpulan ubur-ubur yang bermain pada setiap bulan-bulan tertentu dan langsung menaikkan ke motor.

Sariadi misalnya. Cukup dengan perlengkapan jarring dia menaikkan berpuluh-puluh binatang berbentuk jelly jernih itu.

Harga per ekor menurutnya cukup lumayan. Per ekor dengan berat 1 hingga 1,5 kilogram, binatang lunak ini bisa dihargai Rp 3 – 4 ribuan.

Mereka pun tak kesulitan memasarkannya. Sebab, sudah ada penampung untuk ubur-ubur tersebut. Dari pengumpul, kemudian hewan laut ini dibersihkan kemudian dijual ke penampung yang lebih besar.

Pencarian ubur-ubur ini menjadi pekerjaan sampingan nelayan, karena hanya ada pada bulan tertentu saja. Hasil panen ubur-ubur ini kemudian akan ditampung di Pontianak, . Selanjutnya, ubur-ubur asal kabupaten Sambas akan melanglang ke negeri mancanegara seperti Korea, Jepang, Singapura bahkan ke Tiongkok.

Siapa pun tak menyangkal, awalnya, tak ada yang melirik hewan ini untuk bisnis atau laku dijual. Malah, dianggap mengotori pantai karena binatang ini bisa menyengat.

Konon, setelah melalui pengolahan khusus, ubur-ubur dapat dijadikan menu utama bernilai tinggi, seperti sirip hiu atau pun sarang walet. Di beberapa Negara, panganan ini cukup dicari.

Diharapkan panen ubur-ubur ini bisa dilakukan dengan maksimal, selain menaikkan taraf hidup nelayannya, juga menjadi pendapatan daerah. (fah)

Berita Terkait