Panen Bawang Merah di Lahan Percontohan

Panen Bawang Merah di Lahan Percontohan

  Minggu, 23 Oktober 2016 09:44
PANEN BAWANG: Gubernur Kalimantan Barat Cornelis, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaeman, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Kalbar Frederika Cornelis, anggota DPR RI dr. Karolin Margret Natasa, panen bawang merah di lahan percontohan PKK Provinsi Kalbar di Ngabang Kabupaten Landak, Sabtu (22/10). ramses/pontianak post

Berita Terkait

Dorong Kalbar Mandiri Pangan

PONTIANAK- Lahan percontohan PKK Provinsi Kalbar di Kabupaten Landak menghasilan produksi sebanyak 16 ton bawang merah, Sabtu (22/10). Ini merupakan lahan percontohan untuk komoditas bawang merah. Notabenenya tanaman bumbu dapur ini di tanam di Jawa Tengah.  Menteri Pertanian Amran Sulaiman ketika melakukan panen bawang merah mengapresiasi gagasan dari ibu-ibu PKK. Gagasan ini muncul karena ibu-ibu PKK mengeluhkan tingginya harga bawang merah di pasar. 

"Kami apresiasi Ibu Gubernur (Kalbar). Ini gagasan luar biasa dimulai menanam bawang. Produksinya 16 ton per hektar. Kalau ini dikembangkan luar biasa," ujar Amran. Hadir dan ikut memanen juga, Gubernur Kalimantan Cornelis serta istri Gubernur Frederika, Wakil Ketua Komisi IV Daniel Johan, Anggota Komisi IX Dapil Kalbar Karolin Margret Natasa. Dilokasi yang tidak terlalu jauh, dilakukan tanam bawang merah. 

Menurut Amran, ini merupakan pertama kalinya tanam bawang merah di Kalbar. Selama ini bawang merah hanya berasal dari Jawa Tengah. Hal ini berdampak pada tingginya biaya distribusi sehingga membuat harga bawang mahal. Akibatnya ongkos angkutnya pun dibebankan kepada konsumen.  Saat ini harga bawang merah di Kabupaten Landak sekitar Rp 40.000/ kg. Dengan volumen panen tersebut, petani mendapatkan omzet Rp 600 juta.

Amran mengatakan dengan gagasan ini maka bisa menguntungkan daerah. Oleh karenanya tahun 2017 ditargetkan ada 100 hektar lahan untuk ditanami bawang agar menambah pendapatan daerah dan mengurangi inflasi akibat biaya distribusi.

"Kita hitung saja 1 hektar bisa 600 juta. Ini luar biasa. Biaya produksinya Rp200 juta. Ada untung Rp400 juta, itu per bulan Rp200 juta. Itu jauh dari gaji menteri sehingga kami minta pak Kadis ini di tambah 100 hektar," beber Amran.

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Kalbar Frederika Cornelis, mengaku banyak ibu-ibu mengeluh harga bawang mahal karena dikirim dari Jawa. Oleh karena itu munculah percobaan untuk menanam bawang di lahan 1 hektar. 

"Karena setiap bulan itu naik harganya. Kami mencoba tanam bawang ternyata bisa. Mau lihat satu hektarnya seberapa sih ternyata dengan 16 ton jadi nggak sia-sia juga," ujar Frederika. Frederika yang juga Ketua Forikan Kalbar mengatakan jika ini baru percontohan kalau sudah 16 ton. 

"Mudah-mudahan tim penggerak PKK bisa mensosialisasikan sehingga meyakinkan masyarakat itu mau nanam bawang karena kalau orang desa itu nggak mau dia kalau belum lihat kerja nyata," kata Frederika lagi.  

Sementara itu Menteri Pertanian RI Amran Sulaiman mendorong Kalimantan Barat agar menjadi salah satu wilayah di Indonesia yang mandiri pangan dan bisa menjadi pengekspor bahan pangan terutama beras.   Hal itu disampaikannya karena Kalimantan Barat memiliki wilayah luas untuk lahan pertanian. Apalagi di tahun 2015 sudah surplus 300 ribu ton beras.  "Kami mendorong Kalbar mandiri pangan dan menjadi salah satu sentra ekspor pangan ke negara tetangga Malaysia. Kami ingin swasembada pangan di Kalbar," pinta Amran Sulaeman ketika menanam padi dalam rangka upsus Pajale di Bebehatn Desa Sidas Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak bersama Gubernur Kalbar Cornelis, Anggota DPR RI dr. Karolin Margret Natasa, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Kalbar Frederika Cornelis, Bupati Landak Jakius Sinyor serta tamu undangan lainnya, Sabtu (22/10). 

Menteri Pertanian juga memberikan bantuan 10 handtraktor dan bibit jagung untuk Kabupaten Landak. Tidak tanggung-tanggung dalam tempo seminggu ke depan handtraktor ditargetkan Amran sudah berada di Landak.  Sebelum tanam padi, Gubernur Cornelis bersama Menteri Amran melepaskan bibit nila di parit yang mengelilingi sawah. 

Menurut Amran, teknologi mina padi adalah keuntungan ganda. Dengan modal 600 ribu rupiah bisa mendapatkan penghasilan 24 juta. Belum lagi hasil padi yang ditanam dengan teknologi haszton dan sayur-sayuran yang ditanam di pematang sawah akan mendapat keuntungan sendiri. 

Untuk mencapai target Kalbar mandiri pangan, Amran mengungkapkan akan memperluas lahan pertanian dan membantu bibit serta pemberdayaan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA).

"Target Lahan pertanian minimal 5000 hektar, tahun lalu kurang karena permasalahan area hutan, tapi kami sudah telpon menteri kehutanan Insya Allah bisa dikabulkan alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian," ujar Amran. 

Amran juga memuji tanam padi dengan teknologi hazton yang ditemukan pemerintah provinsi Kalbar. Ia mengakui hazton sudah menasional, karena teknik tanamnya mencapai 20 bibit jadi sulit diserang hama. Apalagi metode hazton juga sudah diujicoba di Jawa Barat dan Jawa tengah dan hasilnya meningkat 400 persen. 

"Kami harus bahu membahu meningkatkan produksi pangan, karena perbatasan sangat jelas pasarannya," ungkap Amran.

Gubernur Kalimantan Barat Cornelis, mendorong masyarakat Kalimantan Barat tidak minder jadi petani. Ia bahkan mengusulkan agar di daerah yang penduduknya jarang seperti Kalbar agar boleh memiliki sertifikat kepemilikan tanah sampai 10 ribu hektar lahan pertanian seperti di New Zealand. Menurutnya dengan seperti itu maka petani bisa memiliki modal lebih besar dan petani bisa mandiri. "Kami harap petani bisa mandiri dan bisa makan dari hasil tanah sendiri, jangan minder jadi petani, harapan ada, pasar jelas, dan jadi petani juga harus berorganisasi agar Ada jaringan," pungkas  Cornelis.(mse)

Berita Terkait