Palsu Tidak Tulen

Palsu Tidak Tulen

  Sabtu, 30 July 2016 09:06   430

Oleh: Ferry Yasin

PALSU  berarti sesuatu itu tidak tulen atau asli. Di seluruh dunia, hukumnya sama: yang palsu pasti hadir belakangan setelah yang asli ada. Tidak mungkin yang palsu ada mendahului yang asli. Dan karena yang asli hadir yang pertama, maka yang palsu niscaya kualitasnya lebih rendah—atau sangat parah—dari yang asli. Yang asli selalu menjadi patokan atau barometer dari mereka yang datang belakangan. Untuk membuktikan sesuatu itu asli, bisa terlihat dari ciri-ciri fisiknya atau unsur-unsur yang mengkonstruksi fisik itu, ada stempel, cap atau materai dalam sesuatu itu atau kemasannya, atau dilampiri surat maupun sertifikat dari institusi yang berwenang untuk mengeluarkannya.

Sesuatu yang palsu, ternyata sudah mengejala di negeri ini, dan mencapai puncaknya, dengan diketemukannya vaksin palsu. Ini masuk kategori kejahatan yang luar biasa (extraordinary crime). Aktivitas illegal ini telah berlangsung selama 13 tahun, ia menyasar anak-anak sebagai korbannya. Yang lebih tidak masuk akal lagi, diduga para tenaga medis baik perawat maupun dokter serta rumah sakit ikut terlibat bermain di dalamnya. Sungguh sesuatu yang membuat hati miris, karena berkenaan dengan kondisi kesehatan dan kekuatan sebuah generasi penerus bangsa. Harus ada tindakan yang tegas dari pemerintah atas kejadian ini terhadap para aktor yang telah menindas nuraninya sendiri demi kenikmatan yang sifatnya sesaat saja.

Sesuatu yang palsu di Indonesia, ketika ia diungkap itu hanyalah puncak dari gunung es saja. Selalu ribut-ribut, media gencar memberitakan secara intens, lalu senyap hilang ditelan angin. Padahal permasalah besarnya berada di bawah permukaan, yaitu badan gunung esnya itu sendiri. Peredaran uang palsu selalu saja terjadi. Bahkan sindikat besar yang baru-bari ini terkuak, ternyata dinahkodai oleh seorang pejabat yang tugasnya seharusnya mencegah dan memberantas peredaran uang palsu.

Ternyata, tidak semua sesuatu yang palsu disumpahserapahi. Masih ingat dalam memori kita beberapa tahun silam tentang ijasah palsu. Ironisnya, justru yang palsu satu ini, secara berbondong-bondong banyak orang  mencari dan mengejarnya. Ada permintaan ada penawaran terjadilah pasar jual beli ijasah (dan sarjana) palsu. Malahan beberapa institusi pendidikan tinggi yang formal dan resmi pun sanggup menyediakannya. Penyebab hal ini adalah budaya jalan pintas dan keengganan untuk kerja keras serta belajar. Berita tentang ijasah palsu sudah mencapai klimaks, tetapi dalam diam sekarang apakah masalah itu sudak tuntas? Jangan-jangan gunung es yang dibiarkan karena tiadanya pengawasan dan tindakan yang berefek sangat jera, gejala-gejala itu masih tetap eksis bahkan makin menemukan pijakannya.

Di lain pihak, banyak baju dan fashion serta segala asesorisnya dari merk-merk terkenal dunia yang berbasiskan di Milan, Paris, London, New York dan Tokyo justru dipalsukan dan, hebohnya justru diminati banyak orang. Jelas merk-merk itu eksklusif dan hanya bisa dikonsumsi oleh kalangan jetset , selebritis dan para sosialita saja, yang secara kocek mencukupi untuk membelinya. Kalangan biasa, demi sebuah keutamaan penampilan, berjuang untuk mendapatkan yang pseudo (palsu) saja. Yang penting bagi mereka merk terkenal saja yang tertera, peduli amat dengan bahan. Jelas ini melanggar hak cipta.

Herannya, ada sesuatu yang palsu karena diperlukan dan sifatnya legal pula. Itulah gigi palsu. Asal yang memasang orang yang kompeten dan memiliki ijin resmi, misal dokter gigi, sesuatu yang palsu ini justru membuat orang merasa nyaman, apalagi dari segi tampilan terutama ketika senyum. Anehnya, mereka malah berani bayar mahal, terutama untuk gigi palsu dari emas. Belum ada sampai sekarang, teknologi secanggih apapun yang bisa menggantikan organ manusia yang sama persis, termasuk juga gigi. Yang bisa dilakukan oleh manusia adalah membuat dari bahan-bahan yang tersedia di alam, dan diharapkan bisa melakukan fungsinya seperti aslinya. Terimakasih kepada dunia kedokteran yang telah menyiasati kesehatan dan kehidupan dengan mencipta organ imitasi atau palsu. Tetapi yang asli tetap datang dari Tuhan.

Bisa sederet dirinci disini apa-apa saja yang palsu, baik yang positif mapun yang negatif. Tetapi, hidup di dunia dimana batas antara yang asli dan palsu sudah sangat tipis sekali, dan tak terlihat secara kasat mata oleh orang awam, masyarakat kebanyakan, adalah tugas pemerintah dalam hal ini instansi terkait untuk memantapkan regulasi dan pelaksanaan aturan yang ada serta pengawasannya.

Sesuatu yang palsu (yang merugikan masyarakat) pastilah hasil kreasi dan cipta manusia-manusia palsu. Sebagai manusia yang berdarah daging jelas ia asli adanya. Tetapi perilaku dan tindak tanduknya jelas, tak diragukan lagi palsu.  Bagaimana perilaku manusia yang asli, ya, seharuanya sesuai dengan tatanan norma, etika dan moral yang merupakan seperangkat nilai-nilai sejati yang ada dalam sebuah masyarakat bangsa. Manusia palsu mungkin saja ia menjalankan ibadah agamanya dengan rajin dan telaten, tetapi sifatnya formal saja dan jelas-jelas ditudungi oleh motivasi yang palsu.

Manusia palsu telah terkontaminasi dan dirasuki oleh ideologi yang datangnya dari negeri antah berantah. Ideologi uang adalah segalanya, dan untuk mendapatkannya menegasi proses dan cara (end justify means), akan menghasilkan produk-produk palsu. Ideologi hedonisme, yang penting hidup senang bagi diri sendiri tidak peduli penderitaan orang lain di sekitar, juga berdampak munculnya produk palsu. Ideologi narsisme yang lebih menggelembungkan ego diri sendiri juga turut andil banyaknya barang-barang palsu.

Supaya produk palsu tiada, manusia palsu harus sadar dan kembali ke jatidiri bahwa sebenarnya dirinya asli, dengan kembali ke pencipta dari segala yang asli, penyebab utama dari semua yang asli  Causa Prima. (**) Pengajar di SMA Taruna Bumi Khatulistiwa Kab.Kubu Raya