Pakan Alami Menipis, Berharap Rumput di Perbukitan

Pakan Alami Menipis, Berharap Rumput di Perbukitan

  Senin, 23 May 2016 09:30
KELAPARAN: Seorang warga mengawasi hewan ternak miliknya yang terpaksa disimpan di teras rumah. Mereka pun bingung akibat ketiadaan pakan alami, yakni rumput. WAHYU/PONTIANAKPOST

Sejumlah peternak korban banjir di Desa Pasir resah. Pasalnya, kebanjiran besar yang melanda Mempawah sepekan terakhir, membuat area padang rumput menghilang dan terendam air. Peternak pun kelabakan. Apalagi buat ternak yang biasa digembalakan. 

Wahyu Izmir, Mempawah

SEGEROMBOLAN kambing mencari tempat tinggi. Di sekelilingnya, air sisa banjir masih tertahan. Sayangnya, tempatyang tinggi itu pun tidak menyediakan makanan yang berupa dedaunan atau pun rumput. 

Peternak pun bingung. Banjir yang telah berlangsung sepuluh hari itu menyebabkan pasokan makanan ternak menipis. Bahkan, menurut mereka, bukan tidak mungkin banyak ternak yang terancam mati kelaparan.

“Kasihan dengan warga yang memiliki ternak sapi maupun kambing. Mereka kebingungan mencari makanan untuk ternak. Satu-satunya sumber makanan ternak berada di daerah perbukitan yang tidak terendam air,” kata warga Desa Pasir, Heri kepada Pontianak Post, Minggu (22/5) sore.

Selama banjir merendam pemukiman masyarakat Desa Pasir, tutur Heri, para peternak hanya mengandalkan daun-daun dari pohon yang tidak terendam air. Minimnya persediaan makanan ternak, membuat pemiliknya harus pintar-pintar mengatur jadwal makanan ternak agar tetap bertahan hidup.

“Semoga banjir segera berlalu, agar peternak bisa mencari pasokan makanan untuk hewan ternaknya. Sebab, jika ternak tersebut mati maka akan menimbulkan kerugian yang besar,” pendapatnya.

Sementara itu, Komandan Tim Penanggulangan Bencana Pemerintah Kabupaten Mempawah, Drs. Mochrizal mengungkapkan merendam lima wilayah kecamatan. Yakni Kecamatan Toho, Sadaniang, Segedong, Mempawah Hilir, dan Mempawah Timur. Dua kecamatan terkahir yakni Mempawah Hilir dan Mempawah Timur merupakan daerah terparah diterjang banjir.

“Kedua kecamatan ini berada di dataran rendah. Makanya banyak warga yang menjadi korban banjir dari kedua wilayah itu. Untuk ketinggian banjir bervariasi antara 60 centimeter hingga 2 meter, ungkap Mochizal.

Mochrizal yang juga pejabat Sekda Pemkab Mempawah itu menuturkan, parahnya dampak banjir yang terjadi di daerah itu selain disebabkan curah hujan yang cukup tinggi, juga diperparah dengan banjir kiriman dari Kecamatan Menjalin dan Hulu Karangan, Kabupaten Landak.

“Kedua faktor itulah yang menyebabkan volume air bertambah hingga tak mampu ditampung Sungai Mempawah. Dampaknya, air meluap dan menggenangi lingkungan pemukiman masyarakat,” ujarnya.

Lebih jauh, Sekda mengatakan, sejak awal pihaknya telah melakukan upaya penanggulangan terhadap titik-titik banjir. Sehingga ketika banjir merendam lingkungan masyarakat, pihaknya langsung bergerak melakukan penanganan termasuk menyalurkan bantuan-bantuan.

“Dalam mendistribusikan bantuan, kami terlebih dulu memetakan lokasi sasaran dengan mempertimbangkan tingkat keparahan banjir serta kondisi warga yang tertimpa musibah. Hal ini kami lakukan karena jumlah bantuan yang akan disalurkan tergolong besar, untuk menjangkau ke seluruh lokasi banjir, pendapatnya.

Hingga Minggu (22/5), banjir masih merendam sejumlah wilayah di Kabupaten Mempawah, salah satunya Desa Pasir, Kecamatan Mempawah Hilir. Meski dikabarkan ketinggian air sudah menurun hingga 30 centimeter, namun volume air masih rumah-rumah warga setempat. (wah)