Pakai Cara Tradisional, tapi Terjamin Higienis

Pakai Cara Tradisional, tapi Terjamin Higienis

  Rabu, 20 April 2016 09:10
BUDI DAYA: Chairul Umam di depan kantor sekretariat Kelompok Eco Shrimp.MOHAMAD NUR KHOTIB/JAWA POS

Julukan Kota Udang bagi Sidoarjo tidak lepas dari banyaknya petambak udang di kota ini. Sebagian di anta ranya tergabung dalam Kelompok Eco Shrimp (KES). Hasil produksi KES telah teruji dan tidak lagi untuk konsumsi lokal MOHAMAD NUR KHOTIB

KAUS lengan panjang, celana panjang, dan sandal jepit adalah ’’seragam’’ favorit Chairul Umam. Saat berkunjung ke kantor sekretariat Kelompok Eco Shrimp, hampir setiap hari, dia berbusana kalem. Ya, semuanya tampak sederhana. Namun, pria 37 tahun tersebut memegang peran penting dalam kelompok itu. Dia menjabat wakil ketua KES.

’’Ya orang-orang di Eco Shrimp memang begini, Mas, menyesuaikan dengan tempat,’’ ujar Umam saat ditemui Jawa Pos kemarin (12/4). Kendati demikian, para anggota KES tersebut tidak bisa dibilang sederhana. Sebab, mereka rata-rata memiliki puluhan hektare tambak. Baik untuk budi daya udang windu maupun bandeng. Sebanyak 31 anggota tersebar di daerah Sidoarjo Kota, Sedati, Tanggulangin, Porong, dan Jabon.

Dalam setahun, KES bisa memproduksi 183.507 kilogram udang windu dan 917.535 kilogram bandeng. Namun, ucap Umam, orientasi KES bukan pada kuantitas atau jumlah produksi, melainkan kualitas produksi. Artinya, mereka berkomit men mengha silkan ikan yang aman untuk dikonsumsi. ’’Jadi, kami berusaha se mak si mal mungkin agar yang kami hasilkan ini benar-benar sehat,’’ jelas ayah dua anak tersebut.

Karena itulah, kelompok tersebut me milih nama Eco Shrimp. Umam menyatakan, nama itu memiliki filosofi. Eco berarti ilmu yang mempelajari hubungan makhluk hidup dengan lingkungan. Shrim berarti udang. Jadi, segala kegiatan petani tambak KES harus menyeimbangkan dengan kondisi lingkungan. Yang proses pertambakannya paling dijaga ketat adalah udang windu.

Sebab, KES bekerja sama dengan salah satu perusahaan Jepang sejak 2008. Seluruh udang windu hasil panen mereka disetorkan ke perusahaan tersebut. Dengan demikian, proses pengamanan udang windu dilakukan secara ketat. Mulai pembenihan sampai panen. Tujuannya, semata-mata menghasilkan udang windu yang higienis.

Umam menuturkan, sejak saat itulah, KES memiliki standar panen. Yakni, meliputi bio security, trace ability, food safety, environmental friendly, social responsibility, dan animal health and welfare. Semua unsur itu, menurut dia, dirumuskan bersama dengan pihak perusahaan Jepang. Dia menjelaskan, sistem tersebut sudah disetujui para anggota KES.

Yang paling penting bagi mereka, menjaga kesehatan udang. ’’Semua hasil produksi sudah bisa kami jamin higienis,’’ katanya. Meski sistem mereka dilakukan secara tradisional, harus dikerjakan secara telaten. Pertama, dilakukan pembajakan tanah dalam kadar tertentu. Tujuannya, menyuburkan tanah. Dengan demikian, pakan alami udang windu pun bisa dihasilkan secara alami. ’’Dari tanah yang dibajak tadi, nanti muncul cacing dan plankton. Nah, itu pakan terbaik bagi udang windu,’’ ungkapnya.

Kedua, tutur Umam, dilakukan proses keruk kedokan. Yakni, pembersihan kotoran bekas endapan air dari sungai. Hal tersebut sangat penting supaya saluran air ke tambak bisa lancar. Dengan demikian, keberlangsungan hidup udang windu bisa dijamin. Selain itu, para anggota KES tersebut selalu menanam mangrove agar abrasi tanah bisa terjaga. Proses panen pun begitu. Ada tahapan raga (mengambil udang dengan tangan), prayang (dengan alat penjaring), uji laboratorium, udang dibekukan dengan ice tube, packaging box, dan pengiriman ke Jepang. Semua diproses dengan cara higinies. ’’Jadi, semua sudah tertata untuk pakannya si udang ini,’’ tuturnya.

Di usianya yang ke-8 tahun, KES semakin mengalami kemajuan. Para anggotanya diundang berturut-turut untuk hadir dalam forum koperasi di Jepang. Antara lain, di Tokyo, Osaka, Kobe, dan beberapa kota lain. Di sana mereka mempresentasikan cara budi daya udang yang baik. Berkat itulah, KES juga mendapat sertifikat cara budi daya ikan yang baik (CBIB) dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia. Sekali dalam sebulan, jelas Umam, para anggota melakukan konsolidasi berupa program evaluasi sekaligus peningkatan SDM anggota maupun manajemen kelompok. Dengan begitu, harapan ke depan, KES akan lebih memfokuskan daya ekspor mereka. Jika memungkinkan, KES akan menjangkau lagi beberapa negara di Asia. ’’Itu doa dan harapan kami. Tapi, untuk sementara ini, kami tekankan yang ada di Jepang,’’ tandas warga Tanggulangin tersebut. (*/c20/tia)