Pajak dan Ritual Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi

Pajak dan Ritual Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi

  Jumat, 25 March 2016 12:58   2,623

Oleh: Tri Radite Priambodo

BULAN Maret akan berakhir beberapa hari lagi, batas waktu penyampaian SPT Tahunan Orang Pribadi yang jatuh pada 31 Maret tiap tahunnya akan segera tiba.  Konsekuensi sebagai warga negara Indonesia yang telah memiliki penghasilan dan ber NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) untuk melaporkan SPT nampaknya dilaksanakan dengan baik,antrean panjang selalu terjadi memasuki bulan Maret tiap tahunnya. 

Sistem perpajakan self assessment yang menjadi pilihan negara kita mengharuskan Wajib Pajak untuk mendaftar sendiri untuk menjadi wajib pajak, menghitung sendiri besarnya pajak yang terutang, menyetorkan sendiri pajak yang terutang tersebut ke loket pembayaran yang dapat dilakukan di Kantor Pos atau Bank Persepsi, dan pada akhirnya diwajibkan untuk melaporkan pajak yang telah dibayarkan tersebut ke Kantor Pelayanan Pajak terdekat atau mengirimkannya melalui pos. 

Jumlah Wajib Pajak Orang Pribadi yang wajib lapor per 31 Maret 2015 sejumlah 16.975.024 wajib pajak (sumber : www.pajak.go.id), jumlah tersebut sudah pasti akan terus bertambah dari tahun ke tahun, hal ini tentu saja akan menjadi “bom waktu” apabila Direktorat Jenderal Pajak tidak melakukan inovasi terhadap sistem pelaporan SPT yang dirasa “kurang bersahabat” bagi sebagian masyarakat tersebut. Banyak potensi resources yang “terbuang” dengan cara pelaporan konvensional tersebut seperti penggunaan kertas dalam jumlah yang tidak sedikit, dan waktu yang diperlukan untuk sekedar mengantri melaporkan SPT Tahunan Orang Pribadi.

Seiring tuntutan kebutuhan masyarakat yang tak lepas dari teknologi informasi, efektif per tahun 2011 melalui PER-39/PJ/2011, Direktorat Jenderal Pajak telah memiliki sistem pelaporan SPT Tahunan Orang Pribadi yang membuat wajib pajak semakin mudah dan nyaman dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya, yaitu fasilitas penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) WP Orang Pribadi secara online melalui aplikasi e-filing yang dapat diakses melalui situs resmi Direktorat Jenderal Pajak.  Dengan sistem berbasis internet ini, selain memudahkan wajib pajak, juga sebagai sarana perbaikan birokrasi di tubuh Direktorat Jenderal Pajak terkait dengan Misi yang akan dicapai yaitu dengan menjamin penyelenggaraan negara yang berdaulat dan mandiri salah satunya dengan pelayanan berbasis teknologi modern untuk kemudahan pemenuhan kewajiban perpajakan.

A good start is a half way of success.., nampaknya ”kelahiran” e-filing ini disambut baik oleh masyarakat, walaupun terus dilakukan evaluasi dan penyempurnaan, pada tahun 2015 Direktorat Jenderal Pajak mencatat penyampaian SPT Tahunan PPh Orang Pribadi Tahun Pajak 2014 melalui e-filing adalah sejumlah 2.469.572 SPT. Jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya sejumlah 1.081.164 SPT, maka penyampaian SPT PPh Orang Pribadi Tahun Pajak 2014 melalui e-filing tumbuh 128,42% (sumber : www.pajak.go.id).  Hal ini tentu saja menjawaab pertanyaan ”liar” yang timbul di masyarakat mengenai pengaruh e-filing terhadap minat dan kepatuhan wajib pajak dalam penyampaian SPT Tahunan Orang Pribadi.

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan Pusat Kajian Komunikasi (PUSKAKOM) UI yang di rilis bulan April 2015 lalu, diperoleh informasi bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 88,1 juta, dimana 85% diakses dengan enggunakan smartphone, 32% menggunakan laptop/notebook, 14% menggunakan PC, dan 13% menggunakan tablet.  Dari data tersebut paling tidak memberikan gambaran bahwa Direktorat Jenderal Pajak juga harus siap dengan aplikasi yang bersifat mobile, dan hal ini ternyata sudah dilakukan dengan aplikasi e-filing android melalui siaran pers bulan Maret tahun lalu.  Keseriusan Direktorat Jenderal Pajak dalam pengembangan aplikasi e-filing ini bukan tanggung-tanggung, tinggal bagaimana kesiapan serverpendukung aplikasi ini, apakah mampu menampung lebih dari 17 juta input an, bagaimana jika 17 juta wajib pajak tersebut menginput secara bersamaan?.  Sekarang tinggal giliran kita menyikapinya dengan sesuatu yang positif, tentu saja dengan melaporkan SPT Tahunan Orang Pribadi kita sebelum 31 Maret 2016.

 

Penulis; Mahasiswa Magister Akuntansi

STAR BPKP Batch V Universitas Gadjah Mada