Pahlawan Mangrove dari Mempawah

Pahlawan Mangrove dari Mempawah

  Rabu, 19 Oktober 2016 08:47   599

Oleh: Muhammad Bibie Saputro

SEBAGAI negara kepulauan, Indonesia merupakan salah satu negara dengan luas hutan mangrove terbesar di dunia. Hutan mangrove memiliki peranan penting dan manfaat yang banyak, baik bagi lingkungan maupun manfaat lain khususnya bagi penduduk pesisir. 

Secara umum hutan bakau atau mangrove mempunyai definisi sebagai hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak di garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut tepatnya di daerah pantai dan di sekitar muara sungai. Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dan ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Hutan mangrove ini mempunyai beberapa manfaat dan peranan sebagai berikut:

-    Mencegah Intrusi Air Laut

 Intrusi air laut merupakan peristiwa pembesaran air laut ke tanah daratan. Instrusi air laut menyebabkan  air tanah menjadi payau sehingga tidak baik untuk dikonsumsi. Hutan mangrove memiliki fungsi mengendapkan lumpur diakar-akar pohon bakau sehingga dapat mencegah terjadinya Instrusi air laut ke daratan.

-    Mencegah Erosi dan Abrasi Pantai

Erosi merupakan pengikisan permukaan tanah oleh aliran air sedangkan abrasi merupakan pengikisan permukaan tanah akibat hempasan air laut. Hutan mangrove memilik akar yang efisien dalam melindungi tanah di wilayah pesisir,sehingga dapat menjadi pelindung pengikisan tanah akibat air.

-    Sebagai pencegah dan penyaring alami

Hutan mangrove biasanya dipenuhi akar pohon bakau dan berlumpur. Akar tersebut dapat mempercepat penguraian limbah organik yang terbawa ke wilayah pantai. Selain sebagai pengurai limbah organik, hutan mangrove dapat juga mempercepat proses penguraian bahan kimia yang mencemari laut seperti minyak dan deterjen.  Selain itu, hutan mangrove dapat juga menjadi penghalang alami terhadap angin laut yang kencang pada musim tertentu.

-    Sebagai tempat hidup dan sumber makanan bagi beberapa jenis satwa

Hutan mangrove juga merupakan tempat tinggal yang cocok bagi banyak hewan seperti biawak, kura-kura, monyet, burung, ular, dan lain sebagainya. Akar tongkat pohon mangrove memberi zat makanan dan menjadi daerah nursery bagi hewan ikan dan invertebrata yang hidup di sekitarnya. Selain itu, hutan mangrove dapat juga menjadi tempat bertengger dan mencari makan oleh berbagai jenis hewan darat di habitat mangrove tersebut.

-    Berperan dalam pembentukan pulau dan menstabilkan daerah pesisir

Hutan mangrove seringkali dikatakan sebagai pembentuk daratan karena endapan dan tanah yang ditahannya menumbuhkan perkembangan garis pantai dari waktu ke waktu. Pertumbuhan mangrove memperluas batas pantai dan memberikan kesempatan bagi tumbuhan terestrial untuk hidup dan berkembang di wilayah daratan.

Hutan mangrove di Indonesia kini tidak luput dari permasalahan lingkungan. Akibat pengelolaan yang buruk, ekosistem hutan mangrove di pesisir pantai terancam punah sehingga akan mempercepat proses abrasi pantai dalam beberapa tahun ke depan. Maka dengan itu, melestarikan hutan mangrove adalah salah satu tindakan yang sangat tepat untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Upaya konservasi mangrove merupakan bagian dari strategi dalam mendorong penyelamatan, pelestarian, dan pengelolaan sabuk hijau Kalimantan Barat secara multipihak. Secara administratif sabuk hijau ini terletak di banyak kabupaten dari Sambas hingga Ketapang dengan melibatkan aparat penegak hukum seperti kepolisian, TNI AL, swasta, LSM, dan kelompok masyarakat dalam konteks strategi mitigasi perubahan iklim. Konservasi mangrove bisa ikut mencegah risiko bencana berupa abrasi di beberapa titik dari jalur utama jalan lintas utara akibat semakin kuatnya hantaman gelombang air laut. 

Kondisi mangrove yang berada di Mempawah dan sekitarnya sangat memprihatikan sekali. Banyak sampah yang berserakan di sekitar laut hulu sehingga sulit untuk mengembangbiakan tanaman mangrove. Hal ini mengakibatkan abrasi. Abrasi ini mengancam masyarakat yang tinggal di sekitaran daerah pesisir. Banyak diantara mereka yang sekarang pindah ke daratan disebabkan tanah yang dulunya mereka tinggali kini telah menyatu dengan lautan. Hal ini seperti yang terjadi pada pulau penibung.

Di zaman yang semakin modern ini orang – orang jarang memperhatikan kondisi laut dan dampak dari laut tersebut tanpa tanaman mangorve , untunglah ada seorang pahlawan yang memerhatikan kondisi laut pesisir disekitar kabupaten mempawah.

Ialah seorang Raja FajarAzansyah, perintis sekaligus ketua  Mempawah Mangrove Conservation(MMC). Lulusan Tourism Manajement di STIEPAR Yapari Akripa Bandung.   Pemuda kelahiran Tanjung Pinang yang kini tinggal di Mempawah, Kalimantan Barat. Potret pribadi yang patut ditiru atas dedikasinya terhadap keberlangsungan hutan Mangrove di pesisir Kabupaten Mempawah. Berawal dari keperihatinannya atas pesisir Kabupaten Mempawah yang kian hari semakin tergerus, Beliau dan beberapa rekannya mencoba menjemput simpati dari sekolah ke sekolah, dari instansi ke instansi bak seorang sales guna menyadarkan akan pentingnya menjaga kelestarian hutan Mangrove yang saat itu kian memperihatinkan terkhusus di beberapa desa seperti didesa pasir,desa benteng,desa bakau besar laut, dan beberapa desa lain yang ada di kabupaten Mempawah. 

Disamping melakukan konservasi, Raja Fajar Azansyah beserta Rekan MMC lainnya juga membentuk industri menengah yang kreatif dengan memanfaatkan buah  tanaman Mangrovejenis sonneratia apetala atau yang lebih dikenal dengan buah kedabu, menjadi olahan sirup Mangrove dan olahan dodol yang enak dan sehat untuk dikonsumsi. Industri menengah yang  kreatif ini melibatkan ibu-ibu rumah tangga di Desa Sungai Bakau Besar Laut, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah. Dengan adanya industri menengah yang kreatif ini diharapkan agar buah kedabu yang banyak tumbuh di  pesisir Kabupaten Mempawah dapat termanfaatkan dan menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat sekitar. 

Semua hal diatas tidaklah mudah untuk mewujudkannya. Begitu banyak halang rintangan yang Fajar Azansyah beserta rekan-rekannya hadapi. Beliau mengungkapkan  bahwa untuk membentuk sebuah organisasi kemasyarakatan yang berniat melakukan konservasi Mangrove ini tidaklah mudah. Begitu banyak cercaan, cemohan, serta kata “GILA” yang telah mereka terima. Masyarakat dan teman dekatnya bahkan menganggap mereka di MMC kurang kerjaan melakukan konservasi Mangrove, mereka beranggapan bahwa Mangrove tersebut dapat tumbuh dengan sendirinya tanpa harus ditanam. Fajar berharap agar ada regulasi atas perlindungan hutan Mangrove yang ada baik berupa PERDA, PERBUP ataupun PERDES seperti yang pernah dilakukannya bersama pemerintahan desa Sungai Bakau Kecil awal tahun 2016 lalu.**

*) Pemerhati tanaman Mangrove