Pabrikan Lain Gatal Ingin Turun

Pabrikan Lain Gatal Ingin Turun

  Senin, 4 January 2016 13:44
crash.net

PERGANTIAN tahun berarti pula dimulainya musim baru balapan MotoGP. Diprediksi musim ini akan berlangsung lebih menarik dan ketat dibandingkan dengan musim lalu. Atau bahkan tahun ini akan menjadi salah satu musim paling dalam sejarah kelas premium.

Bukan cuma soal perombakan regulasi, tapi tentang kehadiran dua pabrikan yang bisa dikatakan baru dalam persaingan tim pabrikan. Mereka adalah Suzuki dan Aprilia. Suzuki sudah datang sebagai pabrikan penuh musim 2015, sedangkan Aprilia menyusul tahun ini.

Ini sinyal bahwa MotoGP terus bergeliat dari krisis kontestan. Tahun depan (2017) sudah menanti pabrikan Austria KTM untuk ikut bertarung dengan pemain-pemain lama. Artinya pertarungan musim 2017 terjadi antara tiga pabrikan Jepang: Honda, Suzuki, Yamaha, berhadapan dengan tiga produsen Eropa: Ducati, Aprilia, KTM. Semarak.

Sudah lama MotoGP tidak sesemarak ini. Terpaan krisis global 2009 silam membuat MotoGP tergopoh-gopoh mempertahankan eksistensinya. Popularitasnya nyaris tergerus dengan World Superbike (WSBK) yang lebih murah, lebih ramai peserta. Pada 2010 ada masing-masing empat pabrikan Eropa dan Jepang berlaga di WSBK. Hanya dilawan dengan empat pabrikan di MotoGP.

Dua tahun berikutnya situasnya memburuk. Suzuki sudah tak kuat lagi bertahan dan ikut-ikutan mundur dari kelas para raja itu. Praktis tinggal Honda, Yamaha, dan Ducati saja yang tersisa. MotoGP sekali lagi hampir terpuruk karena dominasi Honda di dua musim 2013-2014. Marc Marquez datang sebagai anak ajaib yang mengagetkan banyak orang sekaligus membuat ilfil karena balapan mudah ditebak.

Tapi musim 2015, magnet MotoGP kembali menarik pabrikan-pabrikan motor dunia untuk pulang. Suzuki melalukan debutnya dengan baik. Pun Aprilia. Bahkan pabrikan Italia itu kembali lebih cepat daripada rencana sebelumnya. Jika KTM sudah pasti datang 2017 nanti, Kawasaki dikabarkan sudah mulai ancang-ancang.

Tak ada yang merasa terusik dengan kehadiran mereka. Justru itu menjadi tantangan. ’’Datangnya para pabrikan ini berarti MotoGP akan makin menarik bagi penggemar. MotoGP adalah pertunjukan teknis. Tapi kita jangan sampai lupa bahwa pertunjukan yang menarik butuh 'aktor' yang baik pula. Makin banyak, makin baik,’’ kata Sport Director Ducati Paolo Ciabatti kepada Speedweek mengomentari tantangan tersebut.

Popularitas MotoGP bahkan membuat kalangan Formula 1 iri. Legenda hidup F1 Niki Lauda yang kini menjabat non-executive Mercedes menyempatkan diri menonton langsung balapan di Sirkuit Brno, Republik Ceko 16 Agustus lalu. Dia mengakui MotoGP lebih baik dibandingkan F1 saat ini dari segi tontonan. ’’Ini adalah balapan motor paling hebat di dunia saat ini. Anda bisa lihat betapa sulitnya para rider mengendalikan motornya,’’ terangnya ditkuip El Mundo Deprtivo saat itu. ’’Sayang dalam F1 situasinya menjadi sebaliknya. Mobil-mobil mudah ditunggangi,’’ tandasnya.

Senada dengan Lauda mantan pembalap F1 Mark Webber menyatakan kurang kompetitifnya atmosfer balapan membuat F1 ditinggal penonton. Dia mengaku sudah berbicara pada banyak pembalap dan kecewa dengan kecepatan mesin V6 yang kalah garang dari generasi sebelumnya, V8 atau V10.

’’Kecepatan per lap-nya sama sekali tidak membuat para pilot F1 terpacu untuk melakukan overtaking,’’ terangnya di tengah GP Austria Juni lalu. ’’Tapi MotoGP, YA Tuhan, tak banyak manusia yang bisa berduel seperti itu. Dan karena itu pula penonton menyukainya,’’ pujinya. (cak)