Orgil dan Pengemis Meresahkan

Orgil dan Pengemis Meresahkan

  Rabu, 30 March 2016 09:55
TERLANTAR: Salah seorang orgil terlantar yang berkeliaran di pasar. WAHYU/PONTIANAK POST

Berita Terkait

SUNGAI PINYUH- Belakangan ini keberadaan orang gila (orgil) terlantar dan pengemis meresahkan masyarakat Sungai Pinyuh. Mereka khawatir kondisi itu mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Karenanya, dinas terkait dituntut segera melakukan upaya penertiban.

“Sudah beberapa hari ini, saya perhatikan ada beberapa orgil terlantar yang berkeliaran diwilayah Pasar Sungai Pinyuh. Kita khawatir orgil ini dapat mengganggu aktivitas masyarakat,” kata Warga Sungai Pinyuh, Rani, Selasa (29/3).

Kekhawatiran masyarakat tersebut cukup beralasan. Mengingat, gangguan mental dan psikologis orgil yang labil sewaktu-waktu bisa saja berdampak terhadap masyarakat disekitarnya. Terutama bagi kaum ibu dan anak-anak yang beraktivitas di seputar Pasar Sungai Pinyuh.

“Orgil yang berkeliaran bebas di lingkungan masyarakat sangat berpotensi mencelakai orang lain. Termasuk merusak fasilitas umum maupun bangunan milik masyarakat. Harusnya orgil tidak boleh berkeliaran dan terlantar seperti itu,” pendapatnya.

Karenanya, Rani mendesak agar Pemerintah Kabupaten Mempawah melalui instansi terkait segera melakukan penertiban dan pendataan. Orgil terlantar yang berkeliaran dilingkungan masyarakat dapat ditangani dengan baik.

“Petugas berwenang bisa menertibkan dan mencari keberadaan keluarga orgil bersangkutan. Setelah itu barulah dilakukan tindakan pembinaan atau pengobatan. Kami berharap segera ada tindakan penertiban,” pintanya.

Bukan hanya orgil, belakangan ini juga marak aksi pengemis diseputar wilayah Pasar Sungai Pinyuh. Keberadaan pengemis itu dikeluhkan para pedagang yang berjualan. Sebab, toko-toko pedagang menjadi sasaran aksi pengemis.

“Setiap hari pasti ada saja pengemis yang datang ke toko-toko. Semua toko seperti warung kopi, rumah makan, toko sembako juga didatangi pengemis. Para pengemis itu sudah seperti orang menarik upeti,” sesal Hermawan, Pemilik Kopinet Sungai Pinyuh.

Menurut Hermawan yang juga Ketua Rt 05 Rw 06 Kelurahan Sungai Pinyuh itu, maraknya keberadaan pengemis tidak hanya mengganggu para pedagang, melainkan juga pengunjung yang datang ke toko. Sehingga, pedagang khawatir keberadaan pengemis itu akan membuat omset dagangannya menurun.

“Kalau pengunjung sudah merasa tidak nyaman dengan pengemis, pasti mereka enggan datang berbelanja ke toko. Makanya kami minta agar Sat Pol PP maupun Dinas Sosial segera turun kelapangan melakukan penertiban,” desaknya.

Dilain pihak, Kepala Bidang Sosial Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transimigrasi (Sosnakertrans) Mempawah, Didik Mulya mengaku sejauh ini pihaknya belum mendapatkan laporan atau pengaduan dari masyarakat terkait keberadaan orgil terlantar maupun pengemis.

“Laporan resmi atau tertulis belum ada masuk. Kalau isu-isu yang beredar dilingkungan masyarakat memang ada,” tutur Didik menjawab konfirmasi Koran ini.

Didik menerangkan, pembinaan terhadap orgil terlantar memang menjadi bagian dari program kegiatannya. Bahkan, pihaknya pun telah menyusun jadwal aksi penertiban yang rencananya akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini.

“Khusus untuk orgil terlantar, kami akan melakukan penertiban pada April nanti. Setelah kita tertibkan, orgil akan kita lakukan pembinaan yang bekerjasama dengan Rumah Sakit Jiwa di Singkawang. Jika mereka sudah sembuh, nanti akan kita kembalikan ke keluarga masing-masing,” papar Didik.

Ditanya waktu pelaksanaan penertiban, Didik enggan menjawab. Dia khawatir jika informasi penertiban bocor, maka program pembinaan terhadap orgil terlantar tidak berjalan dengan baik. “Nanti penertiban akan kita lakukan secara menyeluruh diwilayah Kabupaten Mempawah. kita akan melibatkan pihak lainnya seperti kepolisian, Dinas

Kesehatan, Sat Pol PP dan lainnya. Selain menertibkan dijalanan, biasanya ada juga orgil yang langsung diserahkan oleh pihak keluarganya,” tukas Didik. (wah)

Berita Terkait