Orang Tua Glaukoma, Anak Berisiko 6 Kali Lebih Besar

Orang Tua Glaukoma, Anak Berisiko 6 Kali Lebih Besar

  Sabtu, 25 June 2016 11:15

Berita Terkait

DIREKTUR EDC Group, dr Erry Dewanto SpM mengatakan, penderitaan penyakit glaukoma pada anak cenderung akan selalu mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya usianya.

Bagi orang tua yang memiliki riwayat penyakit glaukoma (untuk glaukoma jenis tertentu), anak keluarga penderita glaukoma mempunyai resiko 6 kali lebih besar terserang penyakit yang sama.

Dan, penyebarannya berpotensi sama karena glaukoma turunan tersebut akan menyerang pada anak- anaknya juga.

Bila tekanan bola mata anak berada di atas 21 mmHg, sangat berisiko tinggi terkena gangguan penyakit glaucoma. Meskipun untuk sebagian individu, tekanan bola mata yang lebih rendah sudah dapat merusak saraf optik.

Untuk mengukur tekanan bola mata dapat dilakukan di EDC Group Surabaya karena akan ditangani oleh dokter spesialis mata yang sudah berpengalaman.

Pemakai obat steroid secara rutin, seperti penggunaan obat tetes mata yang mengandung steroid yang tidak dikontrol oleh dokter, obat inhaler untuk penderita asma, obat steroid untuk penyakit radang sendi dan pemakai obat yang memakai steroid secara rutin lainnya sangatlah berpotensi terserang penyakit glaukoma.

Untuk itu, bagi pemakai obat- obatan steroid yang dilakukan secara rutin, sebaiknya memeriksakan kesehatan matanya ke dokter spesialis mata untuk pendeteksian gangguan penyakit glaukoma, karena sangat berpotensi.

Riwayat trauma (luka kecelakaan) pada mata. Trauma akibat benturan benda tumpul yang mengenai mata berupa benturan atau pukulan dan lain sebagainya dapat menyebabkan kompresi bola mata, disertai peregangan limbus dan perubahan posisi dari iris atau lensa.

Hal ini dapat meningkatkan tekanan intraokuler secara akut dan berhubungan dengan kerusakan jaringan pada sudut mata.

Perdarahan biasanya terjadi karena adanya robekan pembuluh darah, antara lain arteri. Arteri utama dan cabang- cabang dari badan siliar, arterikoroidalis, dan vena-vena badan siliar sehingga mengakibatkan perdarahan dalam bilik mata depan.

Untuk pengobatan dapat digunakan berupa obatobatan seperti; Koagulansia. Golongan obat koagulansia dapat diberikan secara oral maupun parenteral yang berguna untuk menekan atau menghentikan perdarahan.

Misalnya: Anaroxil, Adona AC, Coagulen, Transamin, vitamin K, dan vitamin C. Bagi penderita yang masih baru dan matanya masih terisi darah segar dapat diobati dengan anti fibrinolitik yaitu transamine (transamic acid).

Pengobatan dengan obat tersebut dapat membantu bekuan darah tidak terlalu cepat terserap sehingga pembuluh darah berkesempatan memperbaiki fungsinya hingga tercapailah kesembuhan. 

Dengan demikian, perdarahan sekunder dapat dihindarkan. Pemberian obatnya hanya 4 kali saja dengan ukuran 250 mg saja, dalam tempo 5 hari.

Pemberian obat tersebut tidak boleh diberikan dalam tenggang waktu lebih dari satu minggu karena dapat menimbulkan gangguan transportasi cairan COA sehingga berdampak glaukoma termasuk imbibisio kornea.

“Selama pemberian obat- obatan tersebut, pasien harus diukur tekanan intraokularnya,” tambah dr Erry.

Dan yang tak kalah pentingnya untuk diperhatikan adalah gangguan penyakit glaukoma yang diakibatkan karena dampak akibat dari penyakit lainnya. Misalnya karena riwayat penyakit diabetes (kencing manis), hipertensi dan migren.

Glaukoma pada Anak

Mungkinkah seorang anak yang masih berusia belia dapat terserang penyakit glaukoma? Jawabnya, “mungkin!”. Karena penyakit yang satu ini tidak mengenal usia. 

Sangat disarankan bagi setiap orang tua memeriksakan anaknya terutama apabila mengalami tanda-tanda penyakit glaukoma seperti yang diuraikan di bawah ini, bersegeralah untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis mata di Erry Dewanto Centre (EDC) Group Surabaya.

Gangguan penyakit glaukoma sangatlah menakutkan karena dapat mengakibatkan kebutaan.  Glaukoma terjadi bilamana kondisi mata kurang sehat yang menyebabkan gangguan lapang penglihatan dan adanya peningkatan tekanan bola mata sebagai salah satu faktor resikonya. 

Tekanan bola mata dalam bahasa medis disebutnya sebagai tekanan intraokular. Adapun penyebab munculnya peningkatan tekanan intraokular dapat disebabkan oleh produksi cairan air mata yang berlebihan, atau bahkan sebaliknya saluran pembuangan cairan air mata tersumbat sehingga menyebabkan kerusakan bertahap pada serabut saraf dari saraf optik. 

Saraf optik yang menghubungkan sel-sel ganglion retina ke pusat penglihatan di otak. Penyakit glaukoma pada umumnya disertai dengan peningkatan tekanan intraokular akan tetapi glaukoma dapat terjadi pada tekanan intraokular normal (Normal Tension Glaukoma). (jpg)

 

Berita Terkait