Orang Sungkup dan Kearifan Lokalnya

Orang Sungkup dan Kearifan Lokalnya

  Minggu, 13 December 2015 12:19
Ritual mandikan anak

Berita Terkait

Dusun Sungkup, Desa Belaban Ella, Kecamatan Menungkung, Kabupaten Melawi ini sekilas tidak ada bedanya dengan perkampungan Dayak pada umumnya. Hanya saja, dusun yang subsuku Dayak Limbai dan Ransa ini memiliki keunikan tersendiri sebagai bagian dari kearifan lokal. Oleh: ARIEF NUGROHO

Secara Administratif Pemerintahan, Kampung Sungkup masuk dalam Kedesaan Belaban Ella, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi. Kampung Sungkup dan Belaban Ella memiliki luas 14.259,00 ha dan 478 kepala keluarga, terdiri dari laki-laki 750 Jiwa, perempuan 676 Jiwa. Dusun Sungkup berbatasan dengan Dusun Laman Oras, Desa Batu Badak, Kecamatan Menukung di sebelah Utara; sebelah Selatan berbatasan dengan Dusun Sungai Krosit, Sungai Lalau, Desa Perembang Nyuruh Kecamatan Ella Hilir dan Desa Tumbang Keburai, Kecamatan Bukit Raya, Kabupaten Katingan Hulu, Kalimantan Tengah; sebelah Timur berbatasan dengan Desa Sungai Sampak; dan sebelah Barat berbatasan dengan Desa Nanga Siyai.

Untuk mencapai ke daerah itu, pengunjung setidaknya harus menempuh perjalanan darat sekitar 12 jam dari Pontianak (ibu kota provinsi). Namun, jika ingin mempersingkat perjalanan, juga bisa menggunakan jalur udara, yaitu pesawat terbang dari Bandara Supadio, Pontianak, menuju Bandara Susilo di Kota Sintang yang waktu tempuhnya hanya setengah jam.

Dari Kota Sintang, kemudian lanjut menggunakan jalur darat ke Kota Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi. Dari ibu kota Kabupaten Melawi (Nanga Pinoh) dilanjutkan menuju Dusun Sungkup dengan melalui perlintasan logging milik perusahaan, waktu tempuh sekitar tiga jam.

Masyarakat adat di Sungkup atau Orang Sungkup percaya hutan telah memberikan segalanya bagi kehidupan. Bahkan dalam menjalankan aktivitas kesehariannya diatur dalam hukum-hukum adat. Misalnya, kapan orang boleh membuka ladang. Kalau dibakar, caranya bagaimana? Atau, kapan masa berburu yang tepat serta jenis-jenis hewan yang boleh diburu.

Selain taat pada peraturan adat, Orang Sungkup juga memiliki banyak ritual adat, salah satunya adalah potong ompong. Ritual ini adalah cara Orang Sungkup menyambut tamu istimewa, seperti orang penting, pejabat atau pengantin baru.

Dalam ritual atau upacara potong ompong ini, melalui berbagai tahapan, mulai dari menyiapkan sesajen oleh tetua adat, syair penyambutan, atraksi pencak silat, tarian khas selamat datang, menginjak telur, bersulang tuak, menyembelih ayam dan menombak babi, pemberian gelang adat, memotong palang (ompong) menggunakan mandau dan yang terakhir pengaluangan bunga kepada kepala rombongan sebagai tanda diterima di kampung itu.

Yang unik dalam ritual itu, kepala rombongan diminta minum tuak menggunakan paruh burung enggang. Dimana bagi orang Dayak, Burung Enggang dipercaya sebagai lambang kehidupan.Ritual lain yang tak kalah menarik adalah Selamatan Daun Padi. Ritual ini sekaligus menjadi simbol rasa syukur dan penghormatan yang tinggi komunitas masyarakat Sungkup terhadap hasil alam yang diberikan Sang Mahakuasa.

Kemudian, ritual lain adalah Mandi Anak. Ritual Mandi Anak ini  adalah salah satu upacara adat orang Sungkup untuk kali pertama memandikan anak di sungai dan menjadi simbol interaksi yang harmonis dengan alam (sungai). Tata cara dan keunikan ini menjadi kearifan lokal orang sungkup yang harus terus di jaga, agar tidak hilang di kemudian hari. (*)

 

Berita Terkait