Orang Malaysia Miliki e-KTp

Orang Malaysia Miliki e-KTp

  Rabu, 5 Oktober 2016 10:30
IZIN TINGGAL: Yanti ibu dari See Gui Wen dan See Wei Wen saat diwawancarai oleh awak media di kantor Imigrasi Pontianak, Selasa (4/10). Pihak Imigrasi mengamankan dua anaknya terkait menyalahi izin tinggal karena overstay. HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Bakal Dideportasi Pekan Ini 

PONTIANAK - Kantor Imigrasi Kelas I Pontianak mendeportasi tiga warga Malaysia. Dua diantaranya anak di bawah umur dari perkawinan campuran yang menyalahi izin tinggal.     Ketiganya akan dideportasi pada Jumat (7/10).     

Kepala Devisi Imigrasi Kantor Wilayah Menkumham Kalimantan Barat Malfa Asdi mengatakan, masing-masing warga asing tersebut bernama Mohamad Syarif bin Alias (53) warga Malaysia yang terlibat kejahatan asuransi di negaranya dan kemudian kabur ke Indonesia.

Syarif yang sebelumnya bekerja sebagai pegawai di salah satu perusahaan milik pemerintah Sarawak, Malaysia ini memalsukan data kematian dirinya demi uang pensiun yang diduga nilainya mencapai Rp2 miliar yang kemudian dinikmati di Indonesia dengan mengawini perempuan warga negara Indonesia. 

"Yang bersangkutan datang ke Indonesia secara ilegal. Menikahi perempuan Indonesia dan juga mendapat KTP elektronik (eKTP)," kata Asdi, kemarin.

Modus yang dilakukan pelaku adalah mencabut kewarganegaraan Malaysia miliknya dan menggantinya menjadi WNI. Belakangan, cara memperoleh status WNI menggunakan cara ilegal. 

"Saat ini dia sudah menjalani hukuman. Berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Pontianak, ia divonis delapan bulan kurungan dan denda Rp80 juta atau subsider satu bulan kurungan. Karena yang bersangkutan tidak mau bayar denda, maka dia harus menjalani hukuman sembilan bulan," paparnya. 

Menurut Asdi, pendeportasian terhadap Syarif akan dilakukan pengawalan ketat, baik dari petugas Imigrasi Pontianak juga dikawal oleh petugas Konsulat Jenderal Malaysia di Pontianak.

Sementara dua warga negara asing lainnya, yang juga akan dideportasi adalah See Wei Wen (12) dan See Gui Wen (10). Keduanya merupakan hasil perkawinan campuran antara Indonesia-Malaysia yang kemudian menyalahi izin tinggal karena overstay.

"Keduanya overstay selama delapan bulan," kata Asdi.

Menurut Asdi, keberadaan kedua anak warga negara Malaysia itu bermula dari kunjungan keluarga. Keduanya diajak oleh sang ibu yang merupakan warga negara Indonesia berkunjung ke rumah saudaranya di Pontianak. 

Namun, setelah visa kunjungan berakhir, orangtua tidak memperpanjang visa kedua anaknya selama delapan bulan. 

"Untuk itu, keduanya juga akan dikembalikan ke Malaysia," terangnya.

Terpisah Kasi Wasdakim Imigrasi Kelas I Pontianak Ujang Cahya mengatakan, seharusnya pihak orangtua bisa mengajukan perpanjangan izin tinggal sebanyak empat kali. Perpanjangan pertama diberikan selama 60 hari, setelah berakhir harus mengajukan izin perpanjangan kembali.

"Kedua anak ini datang bulan Desember 2015, Visa kunjungannya berakhir pada Februari. Seharusnya pihak orangtua bisa mengajukan perpanjangan," kata Ujang.

Karena dianggap melanggar keimigrasian, maka kedua anak tersebut harus dilakukan deportasi ke negara asalnya.

"Karena yang bersangkutan masih anak di bawah umur, maka tidak dilakukan cegah tangkal. Mereka langsung dideportasi," tegasnya.

Sementara itu, Yanti, ibu dari  See Wei Wen (12) dan See Gui Wen (10) hanya bisa pasrah, kedua anaknya dipulangkan ke negara asal. Menurut Yanti yang ditemui di Kantor Imigrasi Pontianak mengatakan, sebelum dideportasi, ayah dari kedua anak mereka akan datang.

"Besok ayahnya datang," kata Yanti singkat sambil memeluk See Gui Wen (10).

Sebelumnya Kantor Imigrasi Pontianak telah mendepotasi 45 warga negara asing asal Tiongkok karena tidak melengkapi dokumen. Keempat puluh lima warga Tiongkok tersebut sebelumnya telah menjalani sidang Tipiring di Pengadilan Negeri Pontianak dan dijatuhi denda sebesar masing-masing Rp10 juta.(arf) 

Berita Terkait