Optimalkan Peran MUI

Optimalkan Peran MUI

  Selasa, 23 February 2016 09:35
Gambar dari JawaPos

Berita Terkait

KUBU RAYA – KH. Zamroni Hasan kembali terpilih menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kubu Raya untuk kedua kalinya. Setelah resmi dilantik bersama sejumlah pengurus MUI Kubu Raya lainnya, Senin (22/2) dia berjanji akan berusaha keras menjalankan amah masyarakat sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepada MUI.

“Saat ini banyak kita ketahui aliran atau paham-paham yang menyimpang dari ajaran Islam, kami dari MUI inilah yang akan bertugas memberikan pemahaman bagi masyarakat agar tidak mudah terjebak ke paham-paham yang tidak sesuai dengan ajaran Islam,” kata Zamroni usai pelantikan pengurus MUI Kubu Raya di Aula Kantor Bupati Kubu Raya.Agar fungsi edukasi dan pengawasan tersebut berjalan maksimal dia berharap adanya peran aktif dari masyarakat untuk berkerjasama dengan MUI Kubu Raya dan instansi terkait lainnya dalam memantau adanya paham-paham yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

“Adanya pelantikan ini, kami harap dengan MUI lainnya bisa saling mengawal, bekerjasama dan terus menjalin koordinasi dengan pemerintah, khususnya Kubu Raya. Tidak hanya itu, kami siap mengabdi untuk kepentingan masyarakat,” ucapnya.Kepala Depag Kubu Raya H Mudjazie Barmawie menyatakan, MUI di Kubu Raya  merupakan salah satu organisasi cukup lama untuk mengawal pemerintah masyarakat, masa sekarang dan masa kedepan, agar keberagamaan, kislaman berjalan mulus dan murni.

“Seiring perkembangan sosial masyarakat yang kian maju dan semakin mudahnya masyarakat mendapatkan akses informasi yang baru sehingga dilapangan kerap kali membuat sejumlah oknum tak bertanggung jawab menyebarkan ajaran-ajaran yang menyimpang dan tidak seesuai dengan ajaran Islam. Jika hal ini terus dibiarkan maka akan membuat banyak masyarakat terjerumus kedalam aliran atau paham yang sesat. Saya berharap adanya MUI di Kubu Raya ini bisa memberikan kontribusi maksimal untuk menangkis masuknya paham-paham yang menyimpang tersebut,” bebernya.

Menurutnya saat ini di Indonesia sudah ada sekitar tujuh aliran sesat dan 300 orang yang mengakui sebagai nabi. Bahkan orang yang mengakui nabi tersebut, merupakan imam di salah satu masjid di Indonesia. “Semoga saja di kepengurusan MUI ini saat ini bisa mengantisipasi dan terus mengedukasi masyarakat agar tidak terjerumus sehingga hal-hala yang tidak diinginkan tersebut tidak sampai terjadi di Kubu Raya,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, kata Mudjazie saat ini juga ada kelompok lain yang ingin menghancurkan Indonesia seperti teroris dan Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT). “Banyak aqidah yang kuat, tetapi tidak murni. Tidak menyimpang dalam beribadah, tetapi beribadah yang tulus dalam beragama. Mengawali kehidupan sosilal, terutama aklakul karimahn, karena kami melihat dibeberapa Negara sudah melegalkan LBGT. Itu tugas MUI,”pintanya.

Sementara itu Ketua Komisi Fatwa MUI Kalbar, Dr Wajidi Sayadi mengatakan MUI kedepan menghadapi tantangan besar. Diantarananya yang paling besar ialah terkait liberalisme agama dan radikalisme beragama. Kedua tantangan itu momok yang dapat memicu sejumlah permasalahan, baik LGBT maupun terorisme. Makanya perlu dilakukan langkah nyata bersama semua pihak dan tidak hanya berkoar-koar diatas mimbar.

Menurutnya sikap radikalisme inilah yang kemudian, nantinya bisa menjelma penganutnya untuk melakukan tindak kekerasan dengan mengatas namakan agama. Padahal akarnya merupakan sebuah radikalisme agama. "Sehingga MUI tidak hanya cukup dengan berkoar-kora diatas mimbar tapi harus mensosialisasikannya. Karena mereka ini hanya memahami teks agama tapi tidak memahami kaedah beragama itulah akibatnya," ujarnya saat ditemui wartawan diruang Aula Kantor Bupati, usai pelantikan Ketua MUI Kubu Raya.

Termasuk menurut Ketua Fatwa MUI Kalbar, munculnya LGBT merupakan keinginan yang lahir dari penganut liberalisme agama. Dimana mereka ingin hidup beragama tetapi tidak mau diikat dengan aturan apapun."Inilah yang kemudian melahirkan pemikiran terlalu bebas. Sehingga muncullah kehidupan bebas. Seperti LGBT, MUI sendiri sejak 2014 sendiri sudah memfatwakan larangan tapi namanya Lesbi, Gay, Seksual dan Prostitusi. Itulah akibat dari liberalisme ini,"ungkapnya.

Begitu pula terhadap munculnya yang mau bertuhan merasakan spritual. Namun tidak mau beragama sehingga mengabaikan aturan agama. Pengurus MUI di Indonesia mesti bisa menangkal ini. Seperti juga yang lainnya ukhuwah islamiyah. Sebab, kebebasan LGBT yang diinginkan ini, merupakan prilaku menyimpang.

"Secara pribadi, kita nyatakan ini berkaitan dengan sikologi seseorang. Berdampak pada kehidupan bebas sehingga bisa mengakibatkan dampak luas. Guna mewujudkan penyelesaian sejumlah masalah ini, MUI perlu menjalin kerjasama dengan pemerintah, kerjasama juga dengan ormas yang lainnya. Karena tidak ada masalah yang bisa atasiasi sendiri," pungkasnya.Di tempat terpisah, Plt Sekda Odang Prasetyo mengatakan pelaksanaan pelantikan Ketua MUI Kubu Raya merupakan sebuah perwujudan kerjasama yang diharapkan kedepannya dapat membawa kebaikan. Dalam melaksanakan program antara MUI dan pemerintah bisa beriringan untuk keagamaan.

"Kita harap MUI ini bisa menjadi mitra bagi pemerintah daerah dalam melaksanakan setiap program dari MUI dan selalu dapat seiring dengan pemerintah daerah," ujarnya. Urusan keagamaan dalam suatu daerah perlu mendapat perhatian, seiring dengan perkembang jaman kedepan. Sebab banyak perubahan dalam era kehidupan masyarakat yang perlu disesuikan dengan kaedah beragama."Untuk itu, keduanya harus seiring sejalan. Demi kebaikan masyarakat seluas-luasnya. Guna terwujudnya peraturan yang baik dari pemerintah dan MUI," pungkasnya. (ash)

Berita Terkait