Operator Wajib Taati Aturan , Driver Speedboat Tersangka

Operator Wajib Taati Aturan , Driver Speedboat Tersangka

  Selasa, 15 December 2015 07:11

Berita Terkait

PONTIANAK - Duka mendalam yang menimpa keluarga korban kecelakaan Speedboat, Indo Kapuas Expres di perairan Olak-Olak Pinang, Desa Kampung Baru, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya pada Minggu (13/12), harusnya menjadi bahan bagi semua. Pihak berwenang diminta tegas terutama yang berani melanggar aturan main keselamatan orang, barang dan kendaraan sungai itu sendiri.

Syarif Amin Assegaf anggota DPRD Kubu Raya asal daerah pemilihan Kubu Raya - Mempawah menjelaskan sudah lama mengamati faktor keselamatan bagi para penumpang yang mempergunakan jasa angkutan speedboat di Kalimantan Barat. “Sebagian besar armada speedboat tersebut cenderung kurang tak diperlengkapi dengan alat keselamatan penumpang seperti pelampung, liferaft, life jacket dan sejenisnya,” ujar dia.

Bahkan, lanjut dia, sebagian besar armada speedboat yang melakukan perjalanan pada malam hari, ada yang tidak mempergunakan lampu sorot. Para operator kebanyakan sudah yakin dengan pandangan matanya berikut keahlian mengemudikan speedboat yang melaju dengan kecepatan tinggi mengarungi lautan dan sungai di dalam kegelapan malam. “Padahal air yang diarungi speedboat merupakan jalur lalu lintas padat dan ramai dilayari kapal besar, kecil entah di waktu siang atau malam hari,” ujarnya.

Amin menambahkan setiap kendaraan transportasi , baik di darat, udara apalagi di laut dan sungai memang memiliki kapasitas maksimal sudah ditentukan oleh perancang. Artinya batas maksimal ialah kapasitas dimana kapal mampu beroperasi secara maksimal. Maka dari itu, dihimbau para penumpang dan operator tidak memaksakan diri menaikan penumpang ke atas speedboat yang sudah penuh. “Kalau itu tidak diindahkan berarti sudah dilanggar,” tuturnya.

Hal senada juga diungkapkan Syarif Abdullah Alkadrie, anggota Komisi V DPR-RI. Legislator Senayan tersebut mengungkapkan keprihatinannya atas kecelakaan transportasi angkutan sungai tersebut. Dia berharap apa yang terjadi di Olak-Olak Pinang itu menjadi musibah perairan terakhir.

“Ini kan seharusnya pihak-pihak berkompeten, baik Dinas Perhubungan maupun UPT Pusat yang ada di sana, memperhatikan betul bagaimana perlengkapan keselamatan penumpang, apakah memadai atau tidak?” ujar Abdullah via telepon.

Abdullah tak jarang menemukan kendaraan-kendaraan angkutan penumpang sungai tak dilengkapi dengan peralatan keselamatan. Dia sendiri menjadi salah satu orang yang kerap melakukan kunjungan ke berbagai kecamatan terjauh di Kubu Raya, yang hanya bisa dijangkau melalui angkutan sungai. Menurutnya, bukan hanya tak dilengkapi dengan peralatan keselamatan, angkutan-angkutan tersebut juga selalu sarat muatan. “Harusnya aparatur pemerintahan yang ada di sana mengecek, bagaimana muatannya, apakah melebihi kapasitas? Saya memandang mereka seperti menyepelekan hal ini,” ungkap legislator Partai Nasdem tersebut.

Abdullah berharap untuk ke depan, demi menghindari musibah ini terulang, pengawasan diperketat. Diingatkan dia, musibah seperti ini menjadi tanggung jawab semua pihak, terutama para pengambil kebijakan terkait perizinan pelayaran.

Sementara itu Direktorat Polair Polda Kalbar menetapkan Zainudin sebagai tersangka kasus kecelakaan speedboat Indo Kapuas Expres di perairan Olak-olak Pinang , Minggu (13/12) pagi. Zainudin merupakan driver speedboat nahas itu.

Kabid Humas Polda Kalbar AKBP Arianto mengungkapkan, penetapan tersangka atas Zainudin berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan Direktorat Polair Polda Kalbar sejak Minggu (13/12) hingga Senin (14/12). Dimana hasil pemeriksaan terhadap tersangka, speedboat yang ia kemudikan berlayar tidak dilengkapi dengan surat persetujuan berlayar dan tidak alat keselamatan.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka di dijerat dengan pasal 323 ayat (3) UU No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran dan atau pasal 359 KUHP. "Saat ini yang bersangkutan diamankan di Dit Polair Polda Kalbar," kata Arianto, kemarin.

Insiden kecelakaan yang menimpa speedboat Indo Kapuas Expres jurusan Padang Tikar-Rasau Jaya setelah menabrak balok kayu di Perairan Olak-Olak Pinang, Desa Kampung Baru, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kuburaya, Minggu (13/12) sekira pukul 08.00. Atas insiden itu empat penumpang ditemukan tewas, termasuk bayi umur tujuh bulan dan sepuluh penumpang lain dinyatakan hilang. Keempat korban meninggal diantara Siti Kamilia (40), Nurimah (50), Sahara (40), dan Azwan, umur 7 bulan. Sementara yang dinyatakan hilang diantaranya Aling  (27 tahun), Fati (5 tahun), Kapi/Api (9 tahun), Maidin (45 tahun), Tama (60 tahun), Nela Sari Ayu (21 tahun), Tia (10 tahun), Ipin (6 tahun) dan Dimas.

Menurut informasi yang dihimpun Pontianak Post, Speedboat berkekuatan 200 PK double engine ini berangkat dari Dermaga Medan Seri 2, Padang Tikar sekitar pukul 07.00. Setengah jam kemudian (07.30), speedboat yang dinakhodai Zainudin ini singgah di dermaga Kubu untuk mengambil penumpang, sehingga total penumpang mencapai 53 orang.

Pada pukul 08.20, speedboat melaju melintasi simpang Tiga Olak-Olak Pinang. Di lokasi itu, nakhoda melihat balok kayu terapung tepat di jalur speedboat. Melihat hal itu, ia pun membanting setir ke arah kanan, namun balok kayu tetap mengenai lambung kiri speedboat.

Karena tidak bisa dikendalikan, speedboat pun terbalik dan sebagian body tenggelam. Sementara para penumpang panik menyelamatkan diri keluar dari jendela speedboat.

Sebagian penumpang berusaha mengapung dengan memanfaatkan barang-barang bawaan. Tak lama berselang, sebuah perahu dan speedboat lain melintas dan berusaha mengevakuasi korban dengan dibawa ke Pelabuhan Rasau Jaya. Korban kemudian dibawa ke Puskesmas Rasau Jaya untuk mendapatkan pertolongan medis. (den/ote/arf)

             

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait