Opelet Tak lagi Ngetem

Opelet Tak lagi Ngetem

  Jumat, 20 May 2016 09:30

Berita Terkait

Seiring perkembangan zaman, keberadaan terminal angkutan umum di Kota Pontianak semakin terabaikan. Kini sebagian tempat ngetem justru tak berfungsi. Kondisi terminal pun banyak yang berubah fungsi. Anggaran besar untuk pembangunan terminal dirasa sia-sia. Kini Pontianak tak memiliki terminal.

***

TERMINAL Harapan Jaya saat ini tak seperti terminal angkutan pada umumnnya. Sejak berdiri beberapa tahun lalu, sampai sekarang bisa dikatakan fungsi terminal tidak maksimal. Aktivitas hilir mudik kendaraan umum seperti bayangan masyarakat pada umumnnya, berbanding terbalik apabila kita melihat kondisinya secara langsung. Suara teriakan kernet, para penumpang berebut masuk ke opelet, sampai berdesakan di dalam angkot sepertinya tinggal mimpi.

Letak terminal itu berada di Jalan Harapan Jaya, Pontianak. Untuk bisa ke sana, dapat melalui Jalan Prof. M. Yamin, atau Jalan Kesehatan. Bisa ditempuh menggunakan angkutan umum jurusan Kampung Bali-Kota Baru. Kemudian berhenti di tepi Jalan Harapan Jaya. Jika jalan kaki, butuh waktu 10 menit barulah sampai di terminal itu. Karena posisinya sedikit menjorok ke dalam.

Semasa jaya, terminal ini diperuntukkan untuk ngetem opelet jurusan Kota Baru-Kampung Bali. Sempat beroperasi sebentar, namun tak bertahan lama. Sebagian besar sopir menilai letaknya kurang strategis. Akhirnya memilih lokasi lain untuk digunakan sebagai pemberhentian terakhir. Biasa orang menyebut “ujung Ampera”.  

Tak digunakan bertahun-tahun, kondisi terminal kini rusak, terbengkalai dan tak terawat. Bahkan wujud terminal hanya meninggalkan satu bangunan sisa. Kondisi bangunan tersebut kini tampak lapuk dengan cat warna kuning tua dengan atap berwarna merah muda. Di beberapa bagian dinding penuh coretan. Bagian dek pun ikut rusak. Di satu ruangan, pintunya pun lepas. Apabila di lihat dari jauh, kondisi bangunan miring, di tambah sengat matahari dan guyuran hujan menjadikan bangunan itu rusak secara sendirinya. Kondisinya saat ini miris. 

Selain Terminal Harapan Jaya, kondisi Terminal Kampung Bali keberadaannya tak ada lagi, tergantikan bangunan ruko. Pantauan Pontianak Post, kini sopir oplet jurusan Kota Baru dan Ahmad Yani menggunakan bahu Jalan Sisingamangaraja. Tak jauh berbeda, Terminal Seroja juga tak ada terminal. Hanya terminal bayangan digunakan sopir menjadi tempat ngetem.

“Sekarang sulit cari penumpang. Tak seperti dulu. Sukur-sukur satu putaran bisa bawa empat orang,” ucap Misdin (51) kepada Pontianak Post. 

Misdin mengatakan, sejak beberapa tahun lalu terminal opelet hijau pindah ke Jalan Ampera ujung. Terminal Harapan Jaya yang tempat mangkal itu tak berlangsung lama. Penyebabnya karena kurang strategis. Menurutnya, penempatan lokasi terminal mesti tepat agar dapat digunakan maksimal.

Wakil Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menuturkan, tahun 80-an, Pontianak memiliki beberapa terminal transportasi kota, diantaranya terminal Siantan, Batu Layang, Kampung Bali, Seroja, Kapuas Indah, Kemuning, Pasar Dahlia, Flamboyan, Sudarso, Jeruju, Nipah Kuning, dan Harapan Jaya. Melihat perkembangan transportasi kota kala itu maju, tahun 90-an pemerintah berinisiatif buat jaring laba-laba sebagai terminal induk. Tempatnya di Jalan Gajah Mada, yang saat ini berdiri Hotel Aston. “Terminal induk diperuntukkan untuk opelet,” terangnya.

Pada waktu itu, semua rute larinya ke terminal induk. Seiring berkembangnya zaman, kendaraan bermotor semakin banyak, mengakibatkan keberadaan transportasi kota tersingkirkan sendirinya. Sebagian masyarakat beranggapan tranportasi umum tidak efektif lagi sehingga secara sendiri penumpang oplet pun berkurang. Karena tak efektif lanjut Edi, tahun 2000-an, terminal induk itu berubah fungsi menjadi pusat perbelanjaan Gajah Mada Mal.

Menurut Edi, terminal dan keberadaan opelet bukan dianaktirikan pemerintah. Pemkot tetap melakukan pemantauan. Bukan karena unsur kesengajaan, namun karena perkembangan zaman membuat oplet tak mampu bersaing dengan kendaraan roda dua. Masyarakat lebih memilih membeli motor. Jika rute dibuat namun tak ada penumpang kan percuma. 

Ia menyadari, banyak terminal tak berfungsi maksimal. Mulai dari Siantan, Batu Layang, Nipah Kuning, Dahlia dan Harapan Jaya. Pembangunan terminal antarnegara di Sungai Ambawang dirasa Edi juga kurang maksimal, sehingga terminal terkesan tidak terawat. Hal itu karena terminal Pontianak bukan lagi tujuan masyarakat yang pokok. 

Namun lanjutnya, hingga sekarang transportasi umum masih berjalan meski antara ada dan tiada. Dia mencotohkan, opelet jurusan Kota Baru-Kampung Bali, Ayani-Kampung Bali, Jeruju-Seroja, Sungai Raya-Seroja sekarang masih aktif, meski menggunakan terminal bayangan. 

Edi melihat, ke depan transportasi kota masal perlu di tata ulang, sesuai fungsi dan kebutuhan masyarakat. Karena perkiraan dia, angkutan kota pasti diperlukan. Saat ini ada beberapa target yang akan dilakukan pemkot mengenai penataan terminal. Salah satunya di Batu Layang.

Seperti terminal Batu Layang, rencana ke depan jadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Sudah ada investor melirik wilayah itu untuk dibangun pusat pergudangan, perkantoran, pertokoan dan perumahan. Jika terelasiasi, terminal tersebut multi fungsi, sehingga memberi rasa nyaman bagi penumpang.

Dicontohkan dia, kota besar seperti Kucing Malaysia terminalnya moderen. Saat ini pembangunan terminal mengarah ke sana. Ini jadi tanggung jawab pemerintah dalam rangka menyiapkan fasilitas prasarana transportasi umum lebih baik.

Nanti, terminal yang tidak digunakan akan di desain ulang. Fungsi terminal yang masih bisa di fungsikan semaksimal mungkin dengan kondisi terminal representatif. 

Untuk Terminal Harapan Jaya tahun ini akan dibangun rusunawa dan terminal akan difungsikan lagi. Persoalannya sekarang soal rute. Jika penumpang sedikit sopir akan beralih karena tidak menutupi biaya operasional. Oleh karena itu soal rute akan dicari yang banyak penumpang. “Kami akan kaji ulang soal rute. Jika sekadar emosi nanti tidak efektif. Kami bersama ahli dari Teknik Untan akan pikirkan termasuk menyiapkan badan jalannya,” ungkapnya. 

Penempatan transportasi masal di rusunawa mungkin baru rencana “Nanti sistemnya akan ditata. Terminal akan multifungsi,”ujarnya.

Perkiraan Edi, angkutan kota dapat kembali di fungsikan di wilayah pinggir kota, dan daerah pemukiman penduduk baru. Soal rute akan disinkronkan. Kalau bisa semua jalur terkoneksi. Nanti ada tahap uji coba. Jika masyarakat antusias maka akan direalisasikan namun kebanyakan sekarang masyarakat menggunakan motor.

Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi Kota Pontianak, Utin Srilena Candramidi mengatakan, di Pontianak ada 10 terminal, namun yang berfungsi 6. Satu diantaranya Batu Layang. Terminal Batu Layang masih bertipe C. Rencananya provinsi ingin mengambil alih terminal tersebut, namun masih tipe C maka tak jadi. 

“Hasil konsultasi saya dengan pak Wali, Batu Layang akan dibangun provinsi. Pemkot menyetujui asalkan ada pembangunan. Saat ini kita masih koordinasi dengan provinsi,” terangnya.

Selain Batu Layang, Terminal Seroja ada tetapi sudah dipakai lahan parkir. Utin sudah bertemu dengan pemilik kendaraan untuk mendengar persoalan di lapangan. Terminal Kapuas dan Dahlia rencananya juga dibenahi. Intinya penumpang mereka minim, ke depan ada transportasi massal yang akan direalisaikan, untuk oplet tidak akan di hapus. Pihaknya tengah koordinasi dengan Diknas sebagai kendaraan antar jemput anak SMP yang belum memiliki SIM.

Namun, ke depan opelet mesti memiliki keamanan agar orang tua percaya terhadap pengendara dan kendaraannya. Kalau Terminal Harapan Jaya memang tidak bisa digunakan karena penumpang sedikit. “Kampung Bali masih cuma belum standar. Kami sedang kaji terminal. Istilahnya jangan disebut terminal tetapi tempat ngetem pertama atau ke depannya kami konsultasi terminal yang mana akan diperbaiki. Rencana kami akan membangun halte,” tutupnya.(iza) 

Berita Terkait