One Day No Rice

One Day No Rice

  Kamis, 31 March 2016 09:40
Ridwan Rusli

Berita Terkait

MEMPAWAH–Konsumsi beras masyarakat Indonesia sangat tinggi dibandingkan negara lain. Angkanya mencapai 139,15 kilogram per orang per tahun. Termasuk di Kabupaten Mempawah, beras atau nasi masih menjadi menu konsumsi utama. Pemerintah daerah pun mencanangkan program one day no rice.

“Coba kita bandingkan konsumsi beras di beberapa negara seperti Jepang, 60 kilogram per orang per tahun. Sedangkan di Thailand, 90 kilogram per orang per tahun dan Malaysia, 80 kilogram per orang per tahun. Karenanya pada tahun 2016 ini Presiden berniat menurunkan tingkat konsumsi beras menjadi 124 kilogram per orang per tahun,” ungkap Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3) Mempawah, Ridwan Rusli di sela-sela lomba cipta menu B2SA, kemarin di Aula Kantor Bupati Mempawah.

Ridwan menerangkan, sejak terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 22 Tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Pangan Lokal, Pemerintah Kabupaten Mempawah segera telah menindaklanjuti dengan Peraturan Bupati (Perbup) tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Pangan Lokal.

“Pak Bupati secara tegas telah meminta seluruh SKPD untuk menyajikan makanan yang berbahan dasar pangan lokal dalam setiap kegiatan. Yakni dengan memanfaatkan keladi, ubi jalar, ubi kayu, sukun, sagu, keribang, dan sebagainya,” paparnya.

Hal itu pun telah disampaikan kepada seluruh camat, kepala desa, dan lurah di Kabupaten Mempawah agar melakukan sosialisasi terhadap seluruh lingkungan masyarakatnya. Pemerintah daerah berharap agar masyarakat dapat memanfaatkan pangan lokal seperti nasi ubi, nasi jagung, nasi ubi jalar atau mi sagu untuk makan pagi, siang dan malam.

“Dari 240 juta penduduk, 99 persen di antaranya makan beras atau nasi. Berbeda dengan tahun 1980-an silam, di mana konsumsi beras hanya 80 persen saja. Sekarang hampir semua makan beras, sampai-sampai bantuan rakyat miskin pun dalam bentuk beras,” tuturnya.

Karenanya, Ridwan menyebut, Pemerintah Kabupaten Mempawah menggiatkan sosialisasi menu makanan beragam, bergizi, seimbang, dan aman (B2SA). Selain mendukung program kemandirian pangan yang dicanangkan Presiden Joko Widodo, menu B2SA dinilai juga menguntungkan dari segi kesehatan.

“Kaum ibu sebagai motor perubahan pola konsumsi di masyarakat. Berbagai kegiatan yang melibatkan kaum ibu seharusnya menjadi sarana edukasi dalam mengelola potensi sumber pangan lokal yang ada, khususnya pangan nonberas. Pada beberapa daerah, sudah dicanangkan program one day no rice. Kita pun harus bisa melaksanakan program tersebut,” tegasnya.

Menurut Ridwan, pemerintah pusat telah menggulirkan banyak bantuan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap beras. Untuk itu, dirinya berharap menu-menu B2SA yang telah dihasilkan dapat diaplikasikan sebagai konsumsi masyarakat sehari-hari.

“Tingginya penyerapan beras masyarakat Indonesia merupakan budaya. Padahal, beras bukan satu-satunya makanan yang bergizi tinggi. Beras, menurutnya, bisa diganti dengan sagu, jagung, ubi kayu, keribang, dan lainnya. Semua ini hanya masalah rasa dan selera,” pungkasnya.(wah)

Berita Terkait