Ombak 4 Meter, Satu Nelayan Hilang , Perairan Ketapang Masih Mengkhawatirkan

Ombak 4 Meter, Satu Nelayan Hilang , Perairan Ketapang Masih Mengkhawatirkan

  Sabtu, 13 February 2016 09:35
Gambar dari JawaPos

Berita Terkait

KETAPANG – Gelombang tinggi yang melanda perairan Ketapang beberapa hari terakhir ini, akhirnya makan korban. Satu perahu milik nelayan yang sedang mencari ikan tenggelam pada Kamis (11/2) pagi. Dua nelayan ikut tenggelam, namun satu nelayan berhasil menyelamatkan diri, sementara satu nelayan lagi masih dalam pencarian.

Kepala Pos SAR Ketapang, Kamel, mengatakan, peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (11/2) pagi sekitar pukul 08.30 WIB. Diceritakan dia jika kapal yang ditumpangi Saleh (52) dan Amir (48), ketika itu sedang mencari ikan tidak jauh dari bibir pantai. "Mereka sedang mencari ikan menggunakan pukat sekitar setengah mil dari muara," kata Kamel, kemarin (12/2).Digambarkan dia jika saat itu pagi, di mana cuaca memang kurang bersahabat. Diakui dia, saat itu, selain diguyur hujan yang cukup lebat, angin dan gelombang di perairan Ketapang juga tidak bersahabat, terlebih bagi perahu berukuran kecil. "Kemarin ombak memang tinggi, sekitar 4 meter. Mereka tidak terlalu jauh ketengah, hanya saja cuaca memang kurang baik," jelasnya.

Menurutnya, perahu yang ditumpangi warga Kelurahan Sampit, Kecamatan Delta Pawan ini pun seketika terbalik setelah diterjang ombak 4 meter. "Yang selamat itu Amir. Dia berenang ke tepi pantai menggunakan jerigen. Dia bertemu dengan nelayan lainnya sekitar pukul 09.30 pagi, atau sekitar setengah jam setelah perahu mereka tenggelam," ungkapnya.

Sementara satu nelayan lainnya, Saleh, diakui dia, masih belum ditemukan. Beberapa pihak, mulai dari Tim SAR, TNI Angkatan Laut, Pol Air, dan beberapa nelayan lain telah dipastikan dia ikut melakukan pencarian. "Hingga saat ini masih belum kita temukan. Saat ini kita juga masih dalam pencarian," paparnya. "Kita juga dibantu beberapa pihak. Total ada enam armada yang ikut mencari korban, termasuk lima perahu milik nelayan yang menggunakan pukat trawl. Mereka mencari dengan pukat trawl, khawatir korban masih tenggelam," lanjutnya.

Kamel memaparkan, pencarian akan terus dilakukan hingga empat hari pascatenggelamnya kapal. Jika memang memungkinkan untuk dilakukan penambahan hari pencarian, pihaknya tetap akan melakukannya. "Tergantung situasi di lapangan. Cuma, sampai saat ini kita masih berupaya mencari dengan tim lainnya," ujarnya. "Sebagian tim melakukan penyisiran di pantai. Sebagian lagi mencari ke tengah laut hingga 2 mil dari bibir pantai. Kita juga berkoordinasi dengan nelayan lainnya yang melaut. Jika memang ada tanda-tanda, kita minta untuk melapor kepada kita," tambah Kamel.

Sementara itu, istri Saleh, Sairiah (48), mengungkapkan bagaimana dia tidak menyangka suaminya tenggelam saat melaut. Pasalnya, ia tidak memiliki perasaan buruk sebelum peristiwa itu terjadi. Hanya saja, diakui dia, ada yang berbeda saat suaminya pergi melaut kali ini. Di mana setiap kali suaminya akan pergi melaut, ia akan selalu terbangun. "Tetapi kemarin tidak," katanya, kemarin (12/2).

Ia mengetahui suaminya tenggelam pada Kamis siang sekitar pukul 12.00 WIB. "Baru satu suap makan, abang saya telfon kalau suami saya tenggelam. Saya langsung pulang kerja. Sampai di rumah sudah tidak ada orang lagi, mereka pergi mencari suami saya ke laut," ungkapnya.Ia berharap agar suaminya dapat ditemukan dalam keadaan selamat. "Pada Rabu (10/2), suami saya juga pergi melaut, tapi kembali karena angin kencang. Semoga saja suami saya segera ditemukan dalam keadaan selamat," harapnya.Sementara itu, di hari yang sama, satu perahu yang ditumpangi satu nelayan Desa Sungai Kinjil, Kecamatan Benua Kayong, juga tenggelam diterjang ombang. Namun beruntung, korban ditemukan dalam keadaan selamat oleh nelayan lainnya. (afi)

Berita Terkait