Obesitas Jaga Gaya Hidup

Obesitas Jaga Gaya Hidup

  Jumat, 1 April 2016 09:36

Berita Terkait

PONTIANAK - Sebanyak 8,6 persen penduduk dewasa di Kalbar mengalami obesitas. Terbanyak berada di Sekadau yakni mencapai 36,8 persen. Obesitas saat ini menjadi perhatian pemerintah karena berkaitan dengan penyakit degeneratif.

“Orang yang obesitas berpotensi terhadap penyakit degeneratif, walaupun tak menutup kemungkinan juga orang kurus bisa terkena penyakit tersebut,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, Andy Jap.

Berdasarkan Kementerian Kesehatan, obesitas merupakan kelebihan berat badan akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan. Cara mengetahui obesitas bisa dengan bercermin, memperhatikan wajah, pinggang, dan pinggul. Cara akurat lainnya dengan menghitung indeks massa tubuh (IMT) yakni perbandingan antara berat badan dalam kilogram dan tinggi badan dalam meter kuadrat.

Mereka yang kurus memiliki katagori kekurangan berat badan tingkat berat dengan IMT kurang dari 17 dan kekurangan berat badan tingkat ringan dengan IMT berkisar 17 hingga 18,4. Orang dengan berat badan normal memiliki IMT berkisar 18,5 hingga 25. Orang gemuk berkatagori kelebihan berat badan tingkat ringan dengan IMT lebih dari 25 hingga 27 dan kelebihan berat badan tingkat berat lebih dari 27 hingga 29. Sedangkan mereka yang mengalami obesitas berkategori kelebihan berat badan tingkat sangat berat dengan IMT lebih dari 30.

Andy menjelaskan berdasarkan katagori IMT, penduduk dewasa berusia lebih dari 18 tahun di Kalbar yang mengalami obesitas mencapai 8,6 persen. Mereka yang berberat badan lebih sebanyak 22,7 persen, normal 63,3 persen, dan kurus 5,3 persen.

Tingkat obesitas paling penduduk dewasa tertinggi di Kalbar berada di Kabupaten Sekadau yakni mencapai 36,8 persen. Diikuti Sanggau sebesar 9,4 persen dan Kota Pontianak 9 persen. Penduduk paling sedikit yang mengalami obesitas berada di Kubu Raya yakni hanya 5,2 persen.

“Data ini merupakan hasil pemantauan status gizi kerjasama Dinkes Kalbar dengan pihak ketiga yakni Poltekkes tahun 2015,” ungkap Andy.

Andy menjelaskan hasil pemantauan status gizi tersebut dibawa dalam pertemuan bersama Kementerian Kesehatan. Nantinya terlihat kondisi Kalbar, jika dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia.

Seseorang menjadi obesitas karena mengonsumsi makanan melebihi yang diperlukan tubuh. Diantaranya kelebihan mengonsumsi karbohidrat seperti nasi, roti, mi, gula, makanan, dan minuman manis. Mereka juga kelebihan mengonsumsi lemak seperti yang terdapat dalam gorengan, jeroan, daging berlemak, dan mentega. Di sisi lain, mereka kurang mengonsumsi serat yang terdapat pada sayuran dan buah, serta kurang melakukan aktivitas fisik secara teratur.

“Obesitas ini berkaitan dengan gaya hidup,” kata Andy.

Menurut Andy, obesitas dan kegemukan saat ini mulai menjadi perhatian pemerintah, termasuk di Kalbar. Obesitas meningkatkan risiko terjadinya sejumlah penyakit seperti tekanan darah tinggi, diabetes melitus, penyakit jantung, dan sesak nafas.

Obesitas dapat dicegah dengan mengonsumsi makan gizi seimbang. Jumlah dan jenis makanan harus sesuai kebutuhan dan jadwal makan harus teratur. Upaya pencegahan bisa dilakukan dengan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi obesitas. Bagi mereka yang mengalami obesitas bisa mengurangi porsi makan dari biasanya dan memperbanyak makan buah, sayur, dan kacang-kacangan. Penggunaan minyak dan santan harus dikurangi. Dianjurkan memasak dengan cara dikukus, direbus, atau dipanggang. Orang yang obesitas harus mengurangi makanan dan minuman manis, penggunaan garam, makanan yang diawetkan, mengindari susu tinggi lemak, dan meningkatkan makan ikan segar.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak Sidik Handanu menyatakan hasil pemantauan status gizi pada balita di Kota Pontianak menyatakan sebanyak tujuh persen balita mengalami obesitas. Sedangkan 80 persen normal, serta sisanya kurus dan sangat kurus.

Menurut Sidik, balita yang mengalami obesitas menjadi perhatian Dinkes Kota Pontianak. Pihaknya melakukan penyuluhan dan mengedukasi keluarga balita yang mengalami obesitas. “Obesitas ini bisa terjadi diantaranya karena pola makannya yang salah,” kata Sidik, kemarin.

Terpenting, lanjut Sidik, orang tua harus mengetahui bahwa anaknya mengalami obesitas. Mereka harus mengetahui langkah-langkah untuk mengatasinya.
“Obesitas pada usia dewasa itu dimulai dari anak-anak,” ungkap Sidik.

Ia menambahkan saat menemukan anak obesitas, tim dari Dinkes Kota Pontianak akan menelusuri riwayat orangtuanya. “Kami akan menelusuri apakah orangtuanya ada menderita diabetes, maupun penyakit degeneratif lainnya,” tutur Sidik.

Pangdam XII Tanjungpura, Mayjen TNI Agung Risdhianto mengatakan obesitas dan kegemukan menjadi perhatian di lingkungan TNI AD. Setiap enam bulan diadakan uji kesegaran jasmani. Dalam uji tersebut ada standar uji fisik.

“Bagi yang tak lulus standar uji fisik, dia tak bisa sekolah dan akhirnya tak bisa promosi naik pangkat,” ungkap Agung.

Menurut Agung, tingkat obesitas di lingkungan Kodam XII Tanjungpura tak setinggi daerah lainnya yakni kurang dari 10 persen. Sebagian besar prajurit yang obesitas bekerja sebagai staf, bukan pada satuan tempur.

“Obesitas ini memiliki pengaruh besar pada prajurit. Kalau kegemukan, bagaimana bisa lari saat perang,” katanya sambil tersenyum.

Agung menambahkan setiap hari prajurit selalu diberi pengarahan mengenai kondisi fisik tubuhnya. Dalam apel setiap hari maupun bulan, pimpinan harus mengingatkan prajuritnya. Setiap Selasa, Kamis, dan Jumat, seluruh anggota Kodam XII mengikuti olahraga.

“Cara paling mudah untuk mengukurnya yakni tinggi badan dikurangi berat badan harus ada selisih 110,” katanya.

Haryadi Eko merupakan salah satu warga yang mengalami obesitas. Berat badannya melebihi 100 kilogram dengan tinggi badan kurang dari 165 sentimeter. Menurut Haryadi, dirinya mengalami obesitas sejak kecil.

“Sejak kecil saya sudah obesitas sampai sekarang,” ungkap Haryadi sambil tertawa.

Haryadi mengatakan dengan berat tubuh berlebih, ia lebih mudah letih. “Susah juga untuk menurunkan berat badan,” katanya.

Kepolisian Daerah Kalimantan Barat terus konsisten melakukan pembinaan terhadap anggotanya. Ada beberapa bentuk pembinaan, satu diantaranya adalah program kesehatan jasamani dengan pembentukan fisik yang proposional bagi anggota Polri yang kelebihan berat badan alias gendut.

Kabid Humas Polda Kalbar AKBP Arianto menuturkan, program pembinaan yang dilakukan Polda Kalbar ada beberapa macam, baik itu aspek akademik, maupun aspek kesehatan jasmani seperti pembentukan fisik yang proporsional bagi anggota Polri. "Untuk program kesehatan jasmani kami lakukan secara periodik, yaitu enam bulan sekali di bawah pengawasan Kasatker masing-masing," katanya.

Pembentukan fisik bagi polisi gendut ini, selain untuk menunjang kinerja anggota Polri di lapangan juga menyangkut kesehatan jasmani. "Jangan sampai kelebihan berat badan justru menjadi penghalang kinerja di lapangan, sebagai pelindung, pengayom dan pelayan bagi masyarakat," lanjutnya.

Terkait jumlah, Arianto enggan menyebutkan secara detail. Menginggat untuk program tersebut dibawah pengawasan para Kapala Satuan Kerja masing-masing. "Berapa jumlahnya saya kurang tahu. Karena ini dibawah pengawasan Kasatker," pungkasnya.

Kendati demikian, kata Arianto, Polda Kalbar terus konsisten melakukan pembinaan terhadap anggotanya. ‎(uni/arf)

Berita Terkait