Nyawa Lim Tak Tertolong

Nyawa Lim Tak Tertolong

  Selasa, 10 May 2016 09:35
EVAKUASI: Korban terjebak di rumah yang terbakar saat dievakuasi tim pemadam kebakaran, kemarin. AGUS PUJIANTO/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

17 Unit Rumah Terbakar 

PONTIANAK –Kebakaran melanda 17 unit rumah padat penduduk di Jalan Gajah Mada, Gang Gajah Mada 2, Pontianak, Senin (9/5) siang. Belum diketahui pasti penyebab munculnya api. Satu orang lanjut usia dikabarkan meninggal dunia akibat terjebak dalam rumah.

Kebakaran terjadi sekitar pukul 12.14. Tim pemadam kebakaran satu persatu datang menuju lokasi. Padatnya antusias masyarakat yang ingin menyaksikan api melahap atap rumah itu, membuat tim penjinak api kesulitan. Selain itu, sumber air juga minim.

Tangisan histeris sejumlah warga pemilik rumah yang terbakar membuat suasana haru di tempat kejadian. Kepanikan juga tampak dari guratan warga lainnya yang rumahnya berdempetan dengan titik kebakaran.  

Kobaran api yang tak kunjung padam menghanguskan langit-langit rumah serta mengeluarkan kepulan asap tebal. Semula satu rumah, merambat hingga belasan rumah. Sontak saja semua warga kalang kabut dan mengeluarkan perabotan rumah yang bisa diselamatkan. 

Saat suasana panik, informasi dari salah seorang keluarga menyatakan bahwa ada seorang lansia yang masih terjebak di dalam rumah. Mengetahui itu, petugas langsung mengenakan fire suit lengkap dengan tabung oksigen lalu menerobos masuk ke dalam rumah yang membara dan dikepung dengan asap tebal.

Informasi yang dihimpun Pontianak Post, warga yang terjebak di dalam rumah bernama Lim Song Hou (70). Belum diketahui pasti alasan korban terjebak di rumah. Petugas sempat kesulitan mencari keberadaan korban. Pekatnya asap tebal menyelimuti isi rumah. 

Beberapa menit kemudian, tim pemadam samar-samar terlihat membopong seorang lansia dari lantai dua rumah yang terbakar. Korban mengenakan celana pendek dan baju coklat tua itu sebagian tubuhnya mendapati luka bakar di bagian lengan dan kakinya hingga terkelupas. Petugas berjibaku memapah korban turun dengan tangga, kemudian memboyongnya ke Rumah Sakit Kharitas Bhakti, Jalan Siam untuk mendapatkan perawatan. Namun, nyawa korban tidak tertolong.

Alex, keponakan korban mengatakan, pamannya tersebut mendapati luka bakar sekitar 80 persen dan sempat mendapatkan pertolongan medis. Saat ditemukan oleh petugas, pamannya tergeletak pingsan di depan pintu.

“Sempat mendapatkan pertolongan. Luka bakarnya tidak sampai hitam, hanya kulitnya terkelupas. Tapi nyawanya tidak dapat tertolong,” kata Alex.

Butuh waktu hampir dua jam petugas memadamkan belasan rumah yang dijalari api dan kepulan asap tebal hingga bisa dipadamkan. 

Wina, warga yang rumahnya terbakar mengatakan bahwa kejadian berlangsung cepat. Saat itu, dia tengah mencuci di belakang. Ketika melihat ada asap dan api, dia lalu menyiramnya dengan air, namun api semakin membesar, hingga dia memilih untuk keluar rumah.

“Ndak tahu dari mana api muncul. Ada asap saya siram tapi makin besar,” kata Wina. 

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Pontianak Aswin Taufik memastikan, jumlah rumah yang terbakar sebanyak 17 unit. 

“Jumlahnya 17 rumah, satu korban meninggal dunia,” kata Aswin.

Menurut data yang dihimpun BPBD Pontianak sepanjang 2013 hingga 2015 tercatat 320 kali kebakaran. Akibatnya, 223 keluarga kehilangan tempat tinggal. Di tahun 2015, terhitung 145 rumah yang terbakar. Hingga Mei 2016 lebih dari 20  kejadian kebakaran di Pontianak. Dikatakan aswin berdasarkan rilis nasional, penyebab utama kebakaran akibat listrik. 

“Merujuk pada data nasional, 70 persen kebakaran akibat listrik. Di Pontianak, kami tidak punya data persis apa sebabnya. Namun, jika dilihat dari tempat kejadian, maupun  sumber api, saya kira sama, listrik penyebabnya,” sebut Aswin.

Dijelaskan Aswin, fenomena kebakaran rumah, hotel, pabrik, dan berbagai tempat lainnya banyak disebabkan oleh terjadinya arus pendek listrik. Penyebabnya, pemasangan instalasi listrik yang dilakukan oleh orang yang tidak berpengalaman, sehingga instalasi tidak sesuai standar. 

“Banyak pemukiman di Pontianak memiliki instalasi listrik yang sudah tua. Kabel yang lama tidak diganti. Padahal kalau sudah 15 sampai 20 tahun sudah harus diperbaiki. Kalau belum kejadian, biasanya mereka beranggapan masih aman,” bebernya. 

Masalah tersebut semakin rumit, lanjut Aswin,  ketika warga menambah daya listrik. Pasalnya, mereka hanya menaikan watt listrik tetapi tetap menggunakan kabel yang sudah usang.  Misalnya untuk tambah daya dari 450 watt ke 900 watt.

“Warga biasanya hanya tambah kabel tapi yang lama tidak diganti. Karena butuh biaya tambahan lagi. Padahal, itu riskan sekali,” jelasnya.

Untuk itu, demi terwujudnya rasa aman masyarakat Pontianak, pihaknya akan segera melakukan inovasi berupa sosialisasi ke masyarakat tentang pencegahan dan kesiapsiagaan dalam kebakaran akibat listrik. Dengan demikian, pihaknya berharap kedepan akan terbit akan terbit Perda  Proteksi Kebakaran. 

“Bukan itu saja, harapan kami dari inovasi itu, juga agar tersedia peta rawan bencana kebakaran juga pedoman proteksi kebakaran akibat listrik,” harapnya.(gus) 

PADAMKAN API : Salah satu pemadam kebakaran jatuh saat memadamkan api dilokasi kebakaran, 17 rumah hangus tebakar di Jalan Gajahmada, Gang Gajahmada 2, Senin (9/5). MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST 

Berita Terkait