NU Ajak Umat Utamakan Toleransi

NU Ajak Umat Utamakan Toleransi

  Senin, 16 January 2017 09:30
AKRAB: Sekda Kalbar, M. Zeet Hamdy Assovie selaku Ketua Pengurus Wilayah NU Kalbar, masa khidmat 2011-2016 yang telah berakhir masa jabatannya bersalaman akrab dengan seluruh Peserta Konferwil Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat yang berlangsung 13-15 Januari 2016, di Aula Pendopo Bupati Kabupaten Kayong Utara. Humas Pemprov untuk Pontianak Post

Berita Terkait

PONTIANAK – Sekretaris Daerah Kalimantan Barat, M. Zeet Hamdy Assovie mengatakan Indonesia sebagai negara multikultur yang memiliki keanekaragaman, baik dalam bahasa, suku, ras/etnis maupun agama rentan mengalami konflik. 

Karena itu ia mengajak semua pihak untuk saling menghormati, mengedepankan toleransi terhadap perbedaan dan tidak serta merta mengecam kelompok lain hanya disebabkan oleh sebuah perbedaan.

"Toleransi bukanlah berarti seseorang harus mengorbankan kepercayaan atau prinsip yang dianutnya, tetapi toleransi berarti harus bisa menghargai pihak lain, baik pemikiran, gagasan maupun kepercayaannya," ujar M Zeet yang juga sebagai Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Barat saat pembukaan Konferensi Wilayah 7 Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (Konferwil PWNU) di Aula pendopo Bupati Kabupaten Kayong Utara, Jumat (13/1).

Ia menyebutkan, Pemprov Kalbar berharap pada organisasi NU agar dapat berperan serta dalam meningkatkan pembangunan di segala bidang. Sebab pembangunan tidak dapat hanya dilakukan oleh pemerintah tanpa dukungan masyarakat. 

Menurutnya, melalui ulama, tokoh-tokoh agama, dan tokoh intelektualnya, NU hendaknya dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat sehingga menjadi agen perubahan dan pembangunan di tengah-tengah kompleksitas masalah Kalbar. 

Dan ia mengakui bahwa Indonesia sedang dihadapkan dengan berbagai permasalahan. Terutama bidang ekonomi dan sosial yang cukup kompleks terkait dengan degradasi moral, penyalahgunaan narkoba, kemiskinan dan kebodohan. 

Begitu juga dengan tingat kriminalitas yang semakin marak, masalah lingkungan hidup dan munculnya gerakan radikalisme bahkan terorisme yang mengatasnamakan agama serta intoleransi antarumat beragama. 

"Maka pembinaan dan pembangunan di bidang agama dan pendidikan mempunyai kedudukan dan peranan amat penting sebagai bagian integral dari upaya meletakkan landasan moral dan spiritual yang kokoh bagi keberhasilan pelaksanaan pembangunan nasional dan daerah," jelasnya.

Di samping itu, kondisi tersebut juga menjadi modal utama dalam membina dan mengembangkan kerukunan hidup antar umat beragama.* 
 

Berita Terkait