Nol Pengalaman, Bekerja sambil Belajar dari Google

Nol Pengalaman, Bekerja sambil Belajar dari Google

  Selasa, 30 Agustus 2016 09:30
JUNEKA/JAWA POS

Berita Terkait

Kebutuhan akan pembangkit listrik masih begitu tinggi. Tapi, teknologi di sektor itu masih didominasi ahli dari luar negeri. Achmad Kalla dan tim ingin membalik anggapan tersebut di PLTA Poso. Tertatih-tatih pada awal, kini mereka telah merambah proyek lanjutan. 

JUNEKA SUBAIHUL MUFID, Poso

Lelaki itu berdiri di depan pos. Dari bangunan yang mirip poskamling tak berdinding tersebut, pria yang mengenakan topi proyek warna putih itu bisa melihat pekerja di lembah. Mereka menanam bahan peledak untuk meruntuhkan bukit berbatu. Pekerja lainnya mengeruk dan meratakan tanah dengan backhoe.

Para pekerja tersebut hendak membuat bendungan untuk menampung sebagian aliran air yang berhulu di Danau Poso. Bendungan jadi bagian tak terpisahkan dari pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso di Desa Sulewana, Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

”Ini sudah setahun. Agustus tahun lalu start kerja. Juli tahun depan ditarget selesai,” ujar Achmad Kalla, pria tersebut. Sore itu (15/8) dia mengecek perkembangan terbaru proyek tersebut. Dia berbincang dengan beberapa rekan kerja dan para insinyur. ”Loncatnya jauh ya,” celetuk Achmad.

Achmad begitu antusias menceritakan ”loncatan” itu. Dia masih ingat betul, pembangunan PLTA Poso tersebut awalnya hanya bermodal nekat. Tak ada satu pun (dia dan para insinyur) yang punya pengalaman membuat PLTA. Sama sekali. Bahkan, ada yang belum pernah sekali pun melihat PLTA. ”Teman-teman yang lain jangan tanya? Baru tamat sekolah (kuliah, Red),” ujar dia, lantas tersenyum. Para engineer lainnya menimpali dengan tawa. 

Yang sedang dia pantau sore itu adalah pembangunan PLTA Poso 1. Proyek itu bakal menghasilkan listrik 2 x 30 mw. Pembangkit tersebut bagian dari tiga proyek yang sedang dikembangkan PT Poso Energy.

Yang telah jadi dan beroperasi adalah PLTA Poso 2 yang berkapasitas 3 x 65 mw. Itulah yang menjadi kawah candradimuka Achmad dan insinyur lainnya dalam menguasai teknologi PLTA. Pembangunannya memakan waktu tujuh tahun. Loncatan itulah salah satu yang Achmad maksud. Dari tujuh tahun membangun PLTA Poso 2 menjadi hanya dua tahun untuk membangun PLTA Poso 1.

Mereka pun sudah punya masterplan untuk bikin PLTA Poso 3 yang punya kapasitas 4 x 100 mw. Rencananya dibangun pada 2017. Jadi, total seluruhnya 655 mw. Maka, PLTA Poso itu bakal menjadi salah satu PLTA terbesar di Indonesia. Saat ini PLTA berkapasitas besar adalah PLTA Cirata (1.008 mw) dan PLTA Saguling (700 mw) di Jawa Barat.

Achmad yang merupakan adik kandung Wakil Presiden Jusuf Kalla itu blak-blakan bercerita tentang pembangunan PLTA Poso. Meski menjadi salah seorang pemilik, alumnus Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) itu enggan duduk di balik meja. ”Saya ya ikut belajar bersama anak-anak,” ujar kakek dua cucu itu.

Dia memang benar-benar ikut belajar bersama anak buahnya. Gara-garanya, tidak ada modal pengetahuan sama sekali untuk membuat PLTA. Itu dia anggap bukan halangan. Dia justru tertantang untuk membidani kelahiran PLTA tersebut. ”Saya sangat tertarik masalah teknis,” ujar pria 64 tahun itu.

Achmad tertantang setelah berkali-kali ditolak saat menghubungi konsultan dari dalam dan luar negeri. Dia mengaku mengajak kerja sama konsultan perencana dari Rusia, Tiongkok, dan Kanada untuk membuatkan desain PLTA. Tapi, tak ada satu pun yang menanggapi. Para konsultan itu, tampaknya, meragukan rencana proyek tersebut. ”Orang tidak pernah lihat PLTA kok mau bikin. Wasting my time saja,” ujar Achmad menirukan penolakan itu.

Gara-gara tidak punya pengalaman secuil pun, mereka harus menimba ilmu dari PLTA lain. Tak kurang 30 insinyur dikirim untuk belajar di PLTA Bakaru di Sulawesi Selatan dan PLTA Saguling, Bandung. Di Bakaru, mereka sampai menginap selama dua bulan untuk belajar soal pembangkit. 

”Di Saguling kami bertemu Pak Slamet. Dialah yang mengajari kami pelan-pelan. Memberikan materi dan kami memfotokopinya,” terang Achmad yang menjabat direktur utama PT Poso Energy. Materi yang diterima itu lalu didiskusikan dan disesuaikan dengan kondisi aliran Sungai Sulewana, Poso.

Dari situlah mereka akrab dengan istilah intake sebagai pintu masuk air dilengkapi penyaring, weir untuk membendung air, head pond (pintu masuk air menuju penstock), dan penstock (pipa panjang untuk menghasilkan energi kinetik agar air bisa meluncur deras ke turbin. Ada pula power house atau tempat pembangkit berisi turbin dan generator serta perangkat penampung listrik lainnya. Juga, tailrace yang berupa saluran air setelah melewati turbin.

Setelah cukup mengerti, dimulailah proyek pertama. Yang jadi masalah kini soal pendanaan. Gara-gara tidak punya pengalaman sama sekali, mereka susah mendapatkan kucuran dana dari bank. Bank curiga, jangan-jangan PLTA itu tidak selesai dan bakal mangkrak.

Dibutuhkan waktu dua tahun untuk menggaet kepercayaan bank. Bukan waktu yang singkat. Empat bank, yakni BNI, BRI, Bank Panin, dan Bank Bukopin, akhirnya mau mendanai PLTA Poso 2 yang dibangun terlebih dahulu. Total biaya investasi itu mencapai Rp 4 triliun. Bukan angka yang kecil. 

”Kalau sekarang ya sudah beda. Hanya satu bank, BRI yang biayai Poso 1,” ujar Alimuddin Sewang, salah seorang insinyur. Dia kini dipercaya jadi direktur di PT Poso Energy. ”Yang perlu dicatat, pendanaan itu dari dalam negeri lho. Bukan dana asing,” imbuh alumnus Teknik Mesin Universitas Hasanuddin Makassar tersebut.

Kendala lain yang sempat dihadapi adalah konflik berbau SARA di Poso. Pada awal pengerjaan PLTA Poso 2, ketakutan sempat mewarnai para pekerja dan kontraktor yang menyewakan peralatan. Mereka tidak berani melintasi Poso dan mengirimkan peralatan berat dan material. ”Bom meledak di Pasar Tentena pada 2005. Takut semua,” kata Achmad. ”Kami sampai minta bantuan tentara untuk patroli di sekitar agar pekerja tenang kembali,” imbuhnya.

Total pekerja yang dilibatkan dalam proyek itu mencapai 3.000 orang. Seluruhnya diambilkan dari warga lokal. Syarat utama saat pendaftaran adalah identitas diri. ”Kalau KTP Poso boleh daftar. Makanya, warga bangga karena ikut terlibat,” ujar Achmad.

Selama pengerjaan, kendala bukannya tidak ada. Misalnya, tanah di tebing beberapa kali longsor dan fondasi hilang digerus air. Miliaran uang pun amblas.

Ada juga kesalahan yang dibuat para insinyur. Achmad menceritakan, salah satunya diperbuat Alimuddin. Ali membuat tailrace (saluran air setelah turbin) dengan desain tertutup sepanjang 400 meter. Dia berharap saluran itu bisa menghindari potensi tanah longsor. Tapi, desain tersebut justru salah kaprah. ”Kami buka Google, di Rusia dengan desain yang sama, turbinnya sampai loncat gara-gara air yang menumbuk balik,” jelas Ali. 

”Sederhananya, ongkos bodoh lah,” timpal Achmad, lantas tertawa. Berapa ongkos itu? ”Lima miliar,” jawab dia. Saluran beton yang dibuat selama dua bulan tersebut harus dibongkar. ”Itu baru satu. Masih ada banyak,” ujar Achmad. Derai tawanya makin keras. Namun, dari kesalahan itu, mereka terus belajar.   

Mereka juga betul-betul memanfaatkan Google untuk belajar agar tidak gampang salah langkah. Achmad cukup sering berselancar mencari pengetahuan tambahan tentang PLTA. Termasuk saat membutuhkan bantuan tenaga ahli yang mengerti betul soal turbin. Mereka mencari orang yang tepat lewat mesin pencari itu. ”Ketemulah Prof Stanislav Pejovic dari Toronto, Kanada. Kami hubungi dia lewat e-mail dan dia mau,” kata Achmad. ”Tapi, bayarnya mahal. Sehari 1.000 euro. Tiket harus dikirim dulu,” ujarnya. Profesor tersebut mengajar mereka selama dua pekan.

Achmad mengajak 20 insinyur untuk menimba ilmu langsung dari profesor tersebut pagi hingga malam. ”Waktu itu masih bedeng dari kayu, tidak seperti sekarang. Saya juga ikut. Sayang kan sudah bayar mahal-mahal,” ujar Achmad kembali tersenyum. 

Menurut Achmad, profesor yang ahli dalam bidang turbin dan pembangkit tenaga hidro itu cukup telaten dan sabar. Para insinyur yang awam diajari setahap demi setahap. ”Persis profesor yang mengajari anak SD. Pelan-pelan,” kata dia.

Setelah merasa cukup, mereka mencari pabrikan turbin di luar negeri. Itu juga bukan perkara gampang. Masalahnya pun sama. Pabrikan ragu-ragu dengan keseriusan para insinyur tersebut untuk membuat pembangkit listrik tenaga air. Tidak ada pabrikan besar yang mau melayani. 

”Ibaratnya, ada orang pakai sandal jepit masuk ke diler mobil mewah. Bilang mau beli mobil, kira-kira dianggap tidak?” ujarnya, lantas tertawa.

Tak ada rotan, akar pun jadi. Mereka akhirnya menemukan produsen yang mau membuatkan turbin besar itu di Tiongkok. Celakanya, pabrik tersebut belum pernah satu kali pun bikin turbin. Jadi, pembuatan turbin untuk PLTA Poso itu yang pertama. Sama dengan pengalaman para insinyur tersebut, baru pertama terlibat dalam pembuatan PLTA. ”Tapi, kami komitmen, kami sama-sama belajar,” jelas dia.

Di Tiongkok, pabrik bisa mendapatkan desain dari perusahaan lain. Asalkan, ada supervisi dalam pembuatannya. 

Sementara itu, mereka mendatangkan generator dari Prancis. Itu pun hasil dari mencari-cari di internet. Achmad membeli barang tersebut tanpa garansi. Ada dua alasan. Pertama, tambahan garansi akan membuat harga lebih mahal. Kedua, mereka butuh belajar langsung untuk mengutak-atik generator tersebut. ”Kalau garansi kan tidak bisa ngapa-ngapain. Tidak bisa utak-atik. Padahal, kami sejak awal ingin belajar dari proyek pertama ini,” ungkap Achmad. 

Dalam perjalanan pembelian dan pemasangan generator itu, mereka juga merekrut insinyur lulusan luar negeri. Namun, tetap berpaspor Indonesia. Salah satunya Ismet Rahmat Kartono, 39. Pria kelahiran Manado itu alumnus program doktoral Teknik Elektro Tokyo City University. Ada cerita yang cukup menarik yang diungkapkan Ismet perihal bergabungnya dia dengan Achmad dan kawan-kawan.

”Saya waktu itu jadi sopir. Ya, sopir kedutaan,” terang Ismet. Dia kali pertama berjumpa dengan Jusuf Kalla pada 2011. Saat itu dia mengantarkan JK dari hotel ke bandara. Perjalanan yang semestinya hanya sejam tersebut ditempuh sampai 15 jam karena ada gempa. ”Di perjalanan itulah kami banyak ngobrol soal generator listrik. Karena saya mengambil spesialisasi tentang itu,” ungkap Ismet yang kini jadi senior engineer.

Waktu itu dia hendak magang di perusahaan motor listrik di Jepang. Selain itu, dia sudah mulai melamar pekerjaan di perusahaan otomotif terkemuka di Jepang. Berbagai tawaran tersebut memang cukup menggiurkan bagi Ismet. Tapi, saat ada tawaran untuk pulang kampung dan bergabung di PLTA Poso, dia pun menganggukkan kepala. ”Karena saya pikir, sektor energi inilah yang nanti dibutuhkan manusia. Saya juga ingin mengabdi untuk kesejahteraan bangsa,” ujar Ismet.

Semangat yang diungkapkan Ismet itulah yang juga dijaga dan menjadi napas PLTA Poso. Mereka pun menahbiskannya sebagai PLTA Merah Putih. Sebab, pembangunan, pendanaan, hingga pengoperasiannya ditangani anak-anak negeri. 

”Sebenarnya kita itu mampu. Hanya mau atau tidak. Itu saja,” kata Achmad. Dia pun akan membuktikan bisa meloncat. (*/c10/nw) 

Berita Terkait