Aslinya Alat Perang, tapi Kali Ini tanpa Racun

Aslinya Alat Perang, tapi Kali Ini tanpa Racun

  Kamis, 10 Agustus 2017 10:00
1.359 Sege Dilempar, Festival Budaya Lembah Baliem pun Pecahkan Dua Rekor : Foto : GUSLAN GUMILANG

Berita Terkait

Karena kekurangan peserta laki-laki dari warga setempat, pemecahan rekor akhirnya melibatkan wisatawan. Kalau tahun ini ada lempar sege dan memanah, festival tahun depan menjanjikan kejutan lain. 

FERLYNDA PUTRI, Wamena

SEBANYAK 1.359 lelaki membawa batang kayu panjang yang ujungnya runcing. Mata mereka memicing pada satu sasaran. Dan... lempar. Semua bersorak gembira. 

Wa… wa… wa… 

Pada pagi menjelang siang, Selasa (8/8), di bukit-bukit di sekitar Walesi, Kabupaten Jayawijaya, Papua, tempat Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) dihelat, suara sorakan itu menggema. Sebab, lemparan sege –sebutan kayu panjang nan runcing tadi– beramai-ramai tersebut memecahkan dua rekor sekaligus. Rekor Indonesia dan dunia untuk pelemparan lebih dari 1.000 sege. Padahal, sepanjang 28 kali perhelatan FBLB, baru kali ini acara itu digelar.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Jayawijaya Alpius Wetipo pun berharap, dengan adanya pencatatan rekor tersebut, sege makin dikenal masyarakat Indonesia dan wisatawan asing. Mengenalkan kebudayaan memang salah satu misi FBLB. ”FBLB tahun depan pasti ada yang baru lagi,” janjinya. 

Bagi David Siet, salah seorang warga yang terlibat dalam pemecahan rekor itu, menombak memang bukan perkara yang sulit. Sebab, sejak kecil, hingga sekarang usianya mencapai 63 tahun, pria asli dari kawasan Lembah Baliem itu telah akrab dengan sege atau tombak. ”Waktu muda saya boleh (bisa, Red) berburu babi dengan tombak,” ungkapnya dengan bahasa Indonesia yang tidak begitu lancar.

Tapi, bagaimana mereka yang seumur-umur belum pernah memegang tombak? Ya, pemecahan rekor kemarin memang tak hanya melibatkan warga setempat. Wisatawan pun dipersilakan berpartisipasi. 

Antonius Ferri misalnya. Wisatawan dari Bandung, Jawa Barat, itu baru kali pertama memegang sege. Panjang sege yang mencapai 2,5 meter itu, menurut Ferri, lumayan menyulitkannya. Apalagi, sasarannya cukup kecil. Hanya papan berukuran 1 x 1 meter. ”Jaraknya jauh. Ini pun bingung cara lemparnya bagaimana,” ucap pria 48 tahun tersebut. 

Kalau akhirnya tetap berpartisipasi, itu disebabkan Ferri tidak ingin hanya berada di balik kamera. ”Saya juga akan mengikuti bagian yang memanah,” katanya. Panitia memang menyediakan dua tradisi tersebut untuk diikuti. 

Sege merupakan salah satu senjata perang. Alat lainnya adalah panah. Sege dibuat dari kayu hutan. Tidak tentu kayu apa yang bisa digunakan. Namun, syaratnya harus memiliki panjang sekitar 2,5 meter. Harus lurus. 

Diameternya pun tak bisa lebih dari 5 hingga 7 sentimeter. Biasanya diberi cat warna hitam. Di beberapa suku, ada yang dihias dengan warna putih atau merah. Kadang juga diberi racun untuk membunuh buruan. Namun, di FBLB semua tombak dicat hitam. Selain itu, ujungnya tidak begitu runcing. Tidak ada racunnya.

Aksi lempar tombak tersebut harus dilakukan laki-laki. Pihak perempuan hanya menunggu dari luar area. ”Biasanya memang sege ini digunakan untuk laki-laki. Perempuan biasanya mengurusi dapur,” ucap Alpius. 

Persiapan untuk menyabet dua rekor sekaligus, menurut Alpius, tidak mudah. Sebab, hingga pagi sebelum acara dimulai, panitia belum memiliki seribu orang yang akan menombak. Dari 14 distrik yang tampil, lelakinya tidak mencapai seribu. Akhirnya, pada detik-detik akhir, panitia memutuskan untuk melibatkan wisatawan. ”Ternyata, hasilnya bisa lebih dari seribu,” ucapnya. 

Setelah aksi lempar sege, 180 anak mempertunjukkan tari kolosal yang bercerita mengenai perang antarsuku karena berebut perempuan. Seluruh penarinya mengenakan baju adat. Yang laki-laki mengenakan koteka dan hiasan kepala, sedangkan yang perempuan memakai sali. Sali merupakan rok rumbai-rumbai yang biasanya dibuat dari rumput atau akar. Hanya, para penari itu tidak telanjang dada. Sedikit berbeda dengan pakaian adat perempuan di Jayawijaya.

Kelompok tari anak-anak itu diberi nama Labewa. Singkatan dari Lahir dan Besar di Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya. Tepuk tangan wisatawan menggema ketika anak-anak tersebut membentuk huruf FBLB. Meski memang hanya bisa dilihat ketika mengambil gambar dari atas. 

Acara di tengah suhu 23 derajat Celsius itu berlangsung hingga pukul 16.30 WIT. Sebanyak 14 di antara total 40 distrik menampilkan tarian dan strategi perang yang memiliki ciri masing-masing. Penonton dibuat terbahak ketika perwakilan Distrik Napua tampil. Suku yang mengecat seluruh tubuhnya dengan warna hitam tersebut memperlihatkan cara berburu kuskus. 

Entah dari mana, plastik kresek hitam masuk ke lapangan tempat pertunjukan. Salah seorang anggota Distrik Napua mengejar plastik hitam tersebut. Dia mengacungkan panah. Membidik. Ketika plastik tertiup angin, dia pun lari mengejar. 

Mata panah menancap di plastik yang sudah diam karena tak ada angin yang meniup. Anggota distrik yang tadi mengejar pun menangkap plastik hitam. Dia terlihat bahagia, seolah benar-benar mendapatkan buruan. 

Selain mengejar plastik hitam, suku tersebut berpura-pura membidik drone. Beberapa wisatawan memang menggunakan drone untuk mengambil gambar. Kebetulan, salah satu drone mendekati pertunjukan. ”Waaaaaaa,” sorak bergema ketika anak panah tak mengenai drone. Merasa tidak aman, pemilik segera menjauhkan drone dari area penampilan. (*/c9/ttg) 

Berita Terkait