Nisa Ditemukan tak Bernyawa

Nisa Ditemukan tak Bernyawa

  Minggu, 24 April 2016 10:55
OTOPSI: Tim dari Disdokkes Polda Kalbar saat melakukan otopsi, kemarin, terhadap Nisa (22), warga Desa Merapi yang hilang sejak Selasa (19/4) lalu dan ditemukan meninggal pada Jumat (22/4). SUGENG/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Dilaporkan Hilang sejak Selasa

SEKADAU – Penemuan mayat perempuan di rawa Komplek Perkantoran Pemkab Sekadau begitu menghebohkan warga. Mayat yang ditemukan Jumat (22/4) lalu itu diketahui atas nama Nisa (22), warga Desa Merapi. Yang bersangkutan dikabarkan hilang sejak Selasa (19/4) lalu.

Rekan kerjanya, Ayu, mengatakan bahwa korban dikenal baik semasa hidupnya. Keduanya merupakan teman seprofesi dan biasa membersihkan taman, Tugu PKK, hingga sepanjang kompleks perkantoran, untuk merawat pohon dan menjadi petugas kebersihan di bawah naungan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Sekadau.

“Biasanya kerja dari pukul 07.00 hingga 11.00 (WIB), dari Senin sampai Sabtu. Minggu libur,” kata dia di RSUD Kabupaten Sekadau, Sabtu (23/4).

Saat korban hilang, orang tuanya sempat menelepon dan menanyakan kenapa putri mereka tidak pulang ke rumah? Sedangkan, dia menambahkan, rekannya tersebut saat itu juga tidak sedang berada di rumahnya.

Menurut Ayu, Nisa sempat mengeluh lantaran kredit sepeda motornya belum dibayar selama empat bulan. “Katanya motor korban akan ditarik dealer, pada Senin (25/4). Mungkin karena honor belum keluar, sehingga korban juga belum membayar kredit motornya,” kata dia.

Jailimin (49), ayah korban menuturkan, sebelum anak sulungnya hilang, memang tidak ada kabar usai berangkat bekerja Selasa lalu. Berhari-hari pihak keluarga mencari ke sana ke mari dan tetap saja tidak ada kabarnya.

“Sebelum hilang tanpa kabar, saya punya firasat, mata sebelah kiri saya selalu saja berkedip. Saya kemudian menceritakan apa yang saya alami itu pada istri. Istri saya bilang katanya mau melihat orang berkelahi atau bahaya apa,” ujarnya ditemui saat otopsi korban.

Jailimin memastikan jika anaknya tersebut tidak memiliki masalah atau bahkan musuh. Hanya saja, sang anak pernah memberitahukannya jika tunggakan kredit motornya belum dibayar selama empat bulan.

Tepat pada Selasa, seperti biasa anak pertama dari tiga bersaudara itu bekerja sebagai petugas kebersihan. Hanya saja, hari itu dia tidak kembali dan justru ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa.

“Keluarga sudah mencari ke sana ke mari, apalagi sempat ada pesan yang masuk dengan menggunakan nomor handphone milik anak saya untuk memberi kabar. Tapi saya tidak percaya dengan pesan itu hingga saya menggunakan bantuan orang pintar untuk membantu mencari keberadaan anak saya,” kata dia.

Kematian anaknya itu dirasa tidak wajar. Dia berharap pada kepolisian untuk mengungkap kasus tersebut dan berharap pelaku dapat ditemukan dan dihukum berat sesuai dengan perbuatannya.

Sempat Kirim SMS

Informasi yang dihimpun oleh harian ini, keluarga korban sempat mendapat kiriman pesan singkat (SMS) yang berasal dari nomor yang biasa digunakan olehnya, pada Rabu (20/4) lalu. Pesan singkat itu juga sempat dikirimkan kepada ayah korban sebelum mayatnya ditemukan Jumat (22/4).

Pesan singkat tersebut ditujukan kepada ayah korban sekitar pukul 12.45 WIB, yang menyatakan dirinya sedang berada di Entikong, Kabupaten Sanggau. Dalam pesan itu dikatakan bahwa dia diantarkan oleh Bujang dan Ntol, yang juga satu kampung dengan korban. Ibu korban juga sempat mendatangi dan menanyakan hal itu kepada Bujang. Saat itu, ternyata Bujang berada di rumah dan Ntol sedang bekerja.

Sebelumnya, pesan yang berasal dari nomor korban juga mengirim pesan pada Rabu (20/4). Adapun sekitar pukul 09.10 WIB, pesan masuk itu ditujukan kepada ayahnya yang menyatakan jika Nisa berada di Balai Karangan, Kabupaten Sanggau, dengan alasan mengantar temannya dan akan pulang keesokan harinya.

Sekitar pukul 09.17 WIB, pesan masuk dari nomor korban berisi jika adik Yuni, teman korban, meninggal. Kemudian sekitar pukul 09.22 WIB menyatakan jika Yuni adalah orang Balai dan bekerja di Kantor Pengadilan dan menyatakan saat itu orang-orang akan menguburkan adik Yuni.

Tak selang berapa lama, sekitar pukul 09.33 WIB, korban juga mengirim pesan yang mengaskan jika esok hari dia akan pulang. Kemudian sekitar pukul 09.48 WIB dari pesan masuk berasal dari nomor korban yang menyatakan handphone-nya tidak bisa ditelepon lantaran tidak ada sinyal dan jika ditelepon akan mati.

Di hari yang sama, sekitar pukul 13.19 WIB, nomor milik korban juga mengirim pesan dan menegaskan esok hari dia akan pulang. Sekitar pukul 12.32 WIB pesan masuk ke ponsel milik ayah korban yang menyatakan Yuni orang Balai dan tinggal di tempat kakaknya di Tanjung Sekadau.

Berkali-kali nomor tersebut terus dihubungi. Hanya saja, nomor milik korban tidak aktif. Saat ini, handphone milik korban juga belum ditemukan, sedangkan sepeda motor korban ditemukan sehari sebelum jenazah korban ditemukan dan tak jauh dari lokasi ditemukannya jenazah tersebut.

Datangkan Tim Disdokkes Polda 

Usai melakukan otopsi, Kompol Edi S Hasibuan dari Disdokkes Kepolisian Daerah Kalimantan Barat, mengatakan, otopsi merupakan atas permintaan penyidik. Dikatakan dia, otopsi dilakukan pada jenazah perempuan yang diduga meninggal sekitar empat atau lima hari yang lalu.

Mengenai hasil dari otopsi terhadap jenazah korban, Edi mengatakan, di tubuh korban ditemukan adanya luka-luka. Akibatnya, dia menambahkan, muncul kecurigaan penyidik dan meminta tim untuk melakukan otopsi.

“Tim ada tiga orang. Memang hampir di seluruh tubuh ditemukan adanya luka-luka, termasuk lebam. Kabanyakan karena kekerasan tumpul yang diduga karena benda yang permukaannya tumpul,” ungkapnya.

Dengan dilakukannya otopsi, diharapkan dia, segala kecurigaan bisa dibuktikan. Hanya saja, mengenai penyebab kematian korban, Edi belum bisa membeberkan. Sebab, pihaknya masih melakukan pemeriksaan secara laboratorium.

“Penyebab kematiannya tidak bisa saya jelaskan hari ini (kemarin, Red). Paling tidak hasilnya sekitar seminggu atau dua minggulah,” pungkasnya.

Sementara itu, AKP K Purba, kepala Satuan (Kasat) Reskrim Polres Sekadau, mengatakan bahwa mereka masih melakukan penyidikan terhadap kasus tersebut. Mereka berjanji akan semaksimal mungkin mengungkap kasus tersebut. “Tanpa diminta sudah menjadi tugas kami itu. Kalau motif belum tahu ya, masih proses penyidikan,” kata dia.

Purba juga meminta kerja sama masyarakat guna mengungkap kasus tersebut. Jika masyarakat memiliki informasi sekecil apapun, diharapkan dia, agar segera melapor kepada mereka. “Jangan pernah takut atau sungkan untuk melapor,” ucapnya.

Percayakan pada Pihak Berwajib

Sementara itu, Herman A Bakar, ketua Komisi C DPRD Kabupaten Sekadau yang juga mantan Kepala Desa Merapi, berharap kasus tersebut bisa dituntaskan. Sebab, dia menegaskan, hukum yang menentukannya.

“Serahkan pada proses hukum karena tidak mungkin pihak keluarga mengintimidasi hukum. Harapannya agar pelaku cepat tertanggap dan diproses sesuai perundang-undangan yang berlaku,” katanya. (sgg)

Berita Terkait