Nikmati Teh Acanthus Ilicifolius dan Belajar Batik Tulis

Nikmati Teh Acanthus Ilicifolius dan Belajar Batik Tulis

  Rabu, 14 September 2016 09:30
KEMASAN : Teh Acanthus yang sudah dikemas apik.

Berita Terkait

Pameran Internasional Keanekaragaman Hayati, Ekowisata dan Ekonomi Kreatif 2016 digelar di  GOR  Cenderawasih mulai7-11 September. Banyak stand menarik yang dapat dikunjungi.

Qadri Pratiwi,  Jayapura

Konferensi Internasional Keanekaragaman Hayati, Ekowisata dan Ekonomi kreatif yang diadakan Gor Cenderawasih ini, sejak dibuka hingga hari ke-2 pengunjung yang datang cukup banyak hingga memadati stand – stand yang ada disana.

Jumat (9/9) kemarin, beberapa anak sekolah terlihat  ramai mengunjungi pameran  dan mengikuti  perlombaan yang diadakan oleh pihak panitia seperti lomba karya tulis dan juga lomba menjawab kuis dari Bank BNI. Para siswa dan pengunjung yang hadir sangat terkesima melihat banyaknya keanekaragaman Hayati, Ekowisata dan ekonomi kreatif yang ada di pameran tersebut.

Setelah mengelilingi dari stand satu ke stand yang lainnya, telihat stand dari Usaid Lestari, ada pohon imitasi yang tinggi dan di situ banyak pesan – pesan yang disampaikan melalui tulisan oleh para pengunjung. Ketika melihat stand tersebut ada meja tamu yang mana meja tersebut terdapat buku tamu serta bungkusan dengan tulisan “Teh Acanthus Ilicifolius”.

“Ini teh Acanthus Ilicifolius ini salah satu tumbuhan jenis Mangrove, yang banyak  tumbuh di Kabupaten Mimika tepatnya Kampung Mimika Pantai distrik Mimika Timur Tengah. Kami melihat banyak potensi yang bisa dijadikan pendapatan bagi warga ini” kata Landscape Communication dan Advocacy Specialist Usaid Lestari, Rini Sulistyawati, Jumat (9/9) kemarin.

Hutan Mangrove yang ada di Kabupaten Asmat ini terluas kedua di dunia,sehingga pihaknya bekerja sama dengan masyarakat disana untuk mengelola Mangrove tersebut, apalagi mangrove ini memiliki manfaat yang sangat bagus bagi kehidupan manusia dan kesehatan bagi manusia. 

Selain Teh, Mangrove juga dijadikan tepung dan kripik untuk menaikan pendapatan masyarakat disana.Ketika asik bercerita, disuguhkan satu gelas Teh Acanthus Ilicifolius, rasanya pahit dan aroma bau dari Mangrovenya terasa. Teh ini mempunyai khasiat yang bagus bagi manusia. Khasiat dari teh Acanthus Ilicifolius diyakini untuk anti radang, penurunkan kolesterol, mengeluarkan dahak, anti Neo Plastik (Penghambatnya tumbuh Tumor) dan pembersih darah.

“Tumbuhan ini telah dilakukan pemeriksaan oleh Badan POM, yang mana mengandung kimia alami pada tanaman liar, diantaranya Saponin,pilifenol,alkaloid dan flavonoid serta asam amin” ungkap Rini. 

Teh tersebut saat ini belum dijual d iluar kabupaten Mimika karena dana serta proses pembuatan yang cukup lama sehingga baru sekitar  Mimika Pantai saja yang mengkonsumsianya, Teh ini menjadi minuman sehari- hari masyarakat disana karena masyarakat tersebut telah mengetahui manfaat dari minuman tersebut.

Selain Teh Acanthus Ilicifolius dari Kabupaten Mimika ada juga, stand pengelolahan Minyak Kayu Putih dari Kabupaten Merauke tepatnya di kampung Yanggandur Distrik Sota, kampung ini banyak tumbuhan Kayu Putih sehingga masyarakat di sana memanfaatkannya untuk dijadikan pendapatan mereka. Stand tersebut pun diperlihatkan proses pengelolahannya hingga menjadi Minyak Kayu putih yang siap dijual.

“Minyak Kayu putih yang kami produksi ini asli tanpa campuran bahan kimia pada umumnya, sehingga khasiatnya pun masih terasa, khasiatnya sendiri sama dengan minyak kayu putih pada umumnya hanya saja rasa panasnya lebih terasa di Minyak Kayu putih buatan kami” jelas Herlina selaku warga dari kampung Yanggandur Distrik Sota yang ikut dalam stand wwf ini.

Herlina menjelaskan bagaimana proses pemuatannya mulai dari mengeringkan daunnya, lalu di masak hinga mendiri, setelah mendidih,    uap akan keluar melalui corong yang telah disediakan lalu, antara  air dan minyak akan dipisahkan setelah itu barulah mengambil minyak yang ada di bagian atas air tersebut.

Selain memamerkan pembuatan minyak kayu putih pihaknya juga menjual minya kayu putih asli yang bisa dibeli oleh para pengunjung ini, untuk ukuran botol You C 1000 ml ini dijual Rp 50 ribu/ botol sedangkan untuk ukuran di atasnya Rp 150 ribu/botolnya.

Lalu ada juga Stand pembuatan Batik Tulis yang dipamerkan oleh karya Putri Dobonsolo, Batik Khas Sentani – Papua ini, yang mana pengunjung juga bisa mempelajari cara pembuatan batik ini, akan tetapi harus tahan terhadap uap panas. “Kami memperbolehkan pengunjung yang ingin mencoba batik tulis ini, untuk memperlajarinya tidak sulit hanya mengikuti saja alur dari dari gambar yang telah kita buat” papar Sofie Sroyer siswi SMK 5 Youtefa yang sedang menulis Batik tersebut.

Ia sengaja  memamerkan batik tulis ini agar masyarakat Jayapura bisa melihat, kalau di Jayapura khususnya di Papua juga sudah bisa membuat batik tulis ini, walaupun bahan – bahan yang ada ini tetap dipesan  dari luar Papua.

“Kami belum mempunyai bahannya sehingga bahan – bahan ini kami beli dari luar Papua,” ujar Sofie yang pernah mengikuti lomba Batik Lukis Internasional di Malang.

Dari stand lainnya juga terlihat bagaimana  pembuatan minyak goreng, Sabun, dan minuman dari Phico Coconut Oil, dari kabupaten Keerom di Papua, lalu ada juga stand pembuatan tas dari vit gelas, dan tidak ketingalan pembuatan Noken, baik tas, baju, cincin dan gelang. (*/tri)

Berita Terkait