Nikmati Musik Sambil Main Lumpur

Nikmati Musik Sambil Main Lumpur

  Senin, 17 July 2017 10:00
HUJAN: Para penonton RWMF 2017 bertahan menikmati alunan musik dalam guyuran hujan | SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Diguyur Hujan, RWMF 2017 Tetap Meriah

Malam kedua dan ketiga perhelatan  Rainforest World Music Festival (RWMF) 2017 di Sarawak, Malaysia tetap berlangsung meriah. Meski diguyur hujan, para penonton masih antusias bertahan menikmati alunan musik yang dibawakan masing-masing grup. 

IDIL AQSA AKBARY dan SHANDO SAFELA, Kuching

Malam kedua, Sabtu (15/7) festival dibuka sekitar pukul 19.30 oleh grup musik At Adau asal Sarawak. Sejak awal ribuan penonton sudah memadati venue. Grup ini sukses menghibur dengan musik eksperimennya menggunakan sape dan alat tradisional kalimantan lainnya. Juga mencampurkan instrumen lain dari berbagai belahan dunia. 

Dilanjutkan penampilan kedua dari grup asal Tahiti bernama O Tahiti E di panggung utama Jungle Stage. Dengan musik dan para penari khas kepulauan bagian selatan Samudera Pasifik itu, goyangan pinggul mereka mampu membuat penonton terkesima. 

Di tengah-tengah penampilan hujan deras tiba-tiba mengguyur. Meski sebagian penonton memilih mencari tempat teduh, sebagian besar tetap bertahan. Begitu pula dengan grup yang tampil, semua tetap berjalan sesuai jadwal. Hujan yang kian deras sama sekali tak mempengaruhi seluruh rangkaian acara. 

Usai grup O Tahiti E, dilanjutkan dengan penampilan Radio Cos dari Spanyol, Hanggai dari China, Ba Chissoko asal Gueinea dan grup The Paradise Bangkok Molam International Band asal Thailand yang menutup acara hingga pukul 01.00. 

Ribuan penonton sangat terhibur. Venue yang berlumpur akibat hujan justru membuat suasana semakin semarak. Para penonton memanfaatkannya untuk bermain sambail bergoyang menikmati tiap musik dari beragam belahan dunia yang disajikan itu. 

Hal serupa juga terjadi di malam ketiga. Bahkan hujan sudah turun sebelum acara dimulai. Di malam itu hiburan diisi oleh enam grup musik. Mulai pukul 19.30 dan berakhir sekitar pukul 00.00. 

Dibuka oleh 1511 O Maliao Maliao Dance Troup asal Malaysia, lalu Sekolah Seni Malaysia asal Sarawak dan Calan asal Wales. Kemudian ada pula Cimarron asal Colombia, Bitori asal Cape Verde termasuk grup asal Indonesia Svara Samsara yang main untuk kedua kalinya setelah malam pertama. RWMF tahun ini ditutup dengan penuh suka cita, ditandai letusan kembang api warna-warni dengan latar belakang hutan dan gunung. Membuat suasana begitu indah.

Tingkatkan Penonton Asing

Kementerian Pelancongan Sarawak menargetkan kedatangan sekitar 40 pesen pengunjung asing dunia ke Rainforest World Music Festival (RWMF) 2017. Seperti diungkapkan, Menteri Muda Pelancongan Datuk Lee Kim Shin target tersebut sejalan dengan usaha pemerintah untuk menempatkan RWMF masuk dalam 10 besar festival musik terbaik di dunia. Sekaligus mendorong peningkatan pendapatan negara. Sampai saat ini, RWMF masuk di urutan ke-25 festival terbesar dunia. Dan terus berusaha agar bisa masuk ke urutan 10 besar. 

Menurutnya acara ini juga sudah menjadi ikon Sarawak. Terbukti sudah dua puluh tahun terus berlangsung dan semakin besar. "Tahun ini, ada sebanyak 28 grup musik dari beragam negara, seperti Thailand, Indonesia, Hungaria, Tahiti, Korea dan sebagainya, datang untuk tampil," katanya. 

Tahun lalu, lanjut dia RWMF mampu  menghasilkan pendapatan sebesar RM35 juta. Dengan diundangnya sebanyak sekitar 40 jurnalis dari berbagai media di dunia, ia berharap bisa menarik lebih banyak lagi pengunjung dari luar negeri. Dari data tahun lalu, angka kunjungan tamu luar negeri sudah mencapai 37 persen. "Harapannya tahun ini bisa meningkat menjadi 40 persen," tambahnya. 

Target yang akan dicapai tahun ini adalah mendatangkan sebanyak 20 ribu pengunjung selama tiga hari festival berlangsung. (*)

Berita Terkait