Nikmati Gerhana, Lupakan Mitos

Nikmati Gerhana, Lupakan Mitos

  Sabtu, 5 March 2016 09:48
BAHAS GERHANA: Salah seorang ilmuwan NASA USA, Natchimuthukonar Gopalswamy saat seminar di Jakarta, kemarin. Seminar ini terkait dengan ekspedisi gabungan NASA dan LAPAN ke Halmahera guna mengamati gerhana matahari pada 9 Maret nanti. Agus Wahyudi / JAWA POS

Berita Terkait

JAKARTA – Gempita menyambut fenomena alam langka gerhana matahari total (GMT) pada Rabu nanti (9/3) begitu tinggi. Bahkan, Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA)  pun mengirim empat peneliti ke Halmahera, Maluku Utara, untuk turut mengamati.

Empat peneliti dari NASA kemarin sudah berada di Jakarta dan memaparkan rencana penelitian mereka. Mereka adalah Madhulika Guhathakurta, Natchimuthukonar Gopalswamy, Nelson Leslie Reginald, dan Seiji Yashiro. Keempatnya akan berkolaborasi riset dengan tim dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).

Khusus di Lapan, tim yang akan melakukan penelitian berasal dari Pusat Sains Antariksa (Pussainsa). Kepala Pussainsa Lapan Clara Yono Yatini menuturkan, GMT tahun ini bukan fenomena yang tidak pernah terjadi di Indonesia. GMT terakhir yang mampir di republik ini terjadi pada 1983 dan melewati sepanjang Pulau Jawa.

”Tapi, saat itu tidak banyak yang menikmati. Karena ada miskomunikasi,” jelasnya dalam seminar GMT Lapan dan NASA di Jakarta kemarin (4/3).

Clara menuturkan, saat itu diinformasikan oleh rezim yang berkuasa bahwa GMT begitu berbahaya. Karena itu, masyarakat diimbau berada di dalam rumah. Bahkan, tidak itu saja, harus bersembunyi di bawah ranjang tempat tidur.

Namun, untuk GMT tahun ini, dia berharap masyarakat Indonesia bisa menikmati bersama-sama. Dia optimistis, gencarnya pemberitaan media massa menjelang GMT 9 Maret nanti, masyarakat sudah tidak memercayai mitos-mitos gerhana matahari.

Terkait dengan GMT yang bisa merusak mata, menurut Clara, itu bukan mitos. Memang benar bahwa gerhana matahari bisa mencederai mata. Karena itu, masyarakat dianjurkan untuk melihat GMT dengan bantuan kacamata khusus. Tetapi, ketika fase gerhana sudah benar-benar penuh alias puncak, GMT aman untuk dilihat dengan mata telanjang.

Clara berharap kerja sama Lapan dan NASA tidak putus pada momentum GMT 9 Maret nanti. Tetapi, akan dilanjutkan lagi dengan riset-riset antariksa lainnya. Tujuannya, perkembangan ilmu pengetahuan, baik di AS maupun di Indonesia.

Peneliti Pussainsa Lapan Emanuel Sungging Mumpuni mengatakan, kolaborasi Lapan dan NASA itu bukan ekspedisi perdana peneliti AS di Indonesia. Dia menjelaskan, peneliti AS sudah melakukan ekspedisi pengamatan dan penelitian GMT sejak awal abad ke-20. Tepatnya pada 1901, 1926, dan 1929 di kawasan Sumatera Utara.

Dia menuturkan, ada beberapa unsur GMT tahun ini yang begitu menarik. Di antaranya adalah lintasan GMT melalui 12 provinsi di Indonesia. Bagi dia, sangat jarang GMT itu melalui daratan yang begitu luas. Bahkan, ada kalanya GMT hanya terjadi di lautan.

Sungging menjelaskan, selain di Maba, Halmahera Timur, tim peneliti Lapan diterjunkan ke Ternate. Di lokasi itu nanti tim Lapan melakukan dua penelitian. Yaitu, penelitian tentang efek lensa gravitasi melalui pengamatan gerhana dan gangguan geomagnet terkait pengaruh gerhana.

Peneliti NASA Nelson Leslie Reginald yang mewakili rekannya menyampaikan rencana penelitian pihaknya di Indonesia. Dia menjelaskan, salah satu permasalahan yang ingin mereka pecahkan dengan pengamatan GMT di Indonesia adalah temperatur dan elektron matahari.

Saat puncak GMT terjadi, ada sinar yang terpencar-pencar di luar lingkaran hitam gerhana. Sinar yang terpencar-pencar itulah yang disebut korona. Sinar yang terpencar-pencar di korona tersebut merupakan pantulan cahaya fotosfer yang dipantulkan elektron bebas di korona matahari. ’’Kami akan meneliti yang lebih cerah itu K-corona atau F-corona,’’ jelasnya.

Nelson mengatakan, dirinya sudah terlibat beberapa kali di tim pemburu GMT NASA. Di antaranya, pada 2001 di Zambia. Dia juga pernah mengamati gerhana di Saudi (2002), Libya (2004), dan Tiongkok (2008). ’’Saya sangat antusias menyambut GMT di Indonesia ini,’’ ujarnya. (wan/c10/ttg)

Berita Terkait