Nikah Dijemput Teman hingga Hampir Bunuh Diri

Nikah Dijemput Teman hingga Hampir Bunuh Diri

  Minggu, 26 June 2016 10:18
KONSELOR NARKOBA: Konselor Adiksi BNN dan Aktivis Antinarkoba After Care, Budi Indra Yudha, di kantor BNN, Sabtu (25/6). REZA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Setelah lepas dari jeratan candu atau madat, Budi malah tak ingin lepas dari dunia narkotika. Akan tetapi, bukan kembali mencandu, melainkan menjadi konselor bagi masyarakat yang ingin berhenti dari narkoba.

REXA KHARSANDY, Pontianak

PAGI itu, Sabtu (25/6), Budi mendatangi kantor Rehabilitasi Sosial Berbasis Masyarakat (RBM) Pontianak. Selain sebagai kantor, di sana juga menjadi sekretariat komunitas bekas pemadat bernama After Care. After Care yang beranggotakan bekas pemadat menjadi wadah bagi mereka untuk saling memotivasi.

Budi Indra Yudha lengkapnya. Ketua dari After Care dan anggota dari RBM ini mengatakan, After Care menjadi wadah bagi para mantan pemadat yang ingin menyelamatkan korban narkoba untuk berhenti..

 “Ke depannya, kami berencana membuat kampung bebas narkoba. Rencananya setelah lepas Ramadan,” ujar Budi saat ditemui di kantor RBM.

Suami dari Erwati dan ayah dari dua anak itu punya pengalaman menikah yang unik. Pada tahun 2002 saat masih memadat, Budi perlu dijemput teman-temannya agar bisa hadir di acara pernikahannya sendiri. “Jadi, saya masih dalam keadaan mabuk saat menikah,” sambung Budi.

Konselor di Badan Narkotika Nasional Pontianak ini mengaku sudah lama menjadi pemadat. Sejak 1995, dia sudah mulai menggunakan benda haram itu. “Orang yang pertama mengenalkan saya dengan narkoba adalah senior dan teman di kampus,” tambah Budi.

Selain lingkungan perkuliahan, tempat Budi dulu bekerja juga mendukungnya untuk terus memadat. Berbagai macam madat sudah pernah ia digunakan, dari alkohol, ganja, sabu-sabu, hingga ekstasi. Dan dalam sehari, ia bisa menghabiskan lebih dari setengah juta rupiah.

Menurut Budi, semasa ia memadat merupakan masa hidupnya yang paling kelam. Selama memadat, perkembangan otak dan emosinya berhenti. Belum lagi dia terus ditekan oleh penagih utang yang tiap hari muncul. Dalam sehari, rumahnya bisa didatangi tiga sampai empat kali oleh penagih utang.

Budi juga merasakan dirinya sudah rusak. Dia pernah memeriksa tubuhnya dan mendapati 35% otaknya sudah rusak. “Kata dokter, kalau saya tak cepat-cepat berhenti, saya bisa gila,” tambah Budi

Selain itu, Budi pun merasa dulu cara bicaranya gagap. Pernafasannya juga terganggu bahkan hingga sekarang. Yang paling parah adalah dia menjadi gampang lupa dan susah untuk mengingat.

Walaupun dampak buruk yang begitu besar, berhenti menjadi salah satu opsi yang berat. Budi mengaku bahwa dirinya sadar bahwa perbuatannya salah. Namun, untuk berhenti merupakan perkara yang sulit. “Hingga sekarang, masih ada sugesti dari tubuh untuk kembali menggunakan narkoba,” lanjut Budi.

Sempat terlintas dalam pikirannya untuk bunuh diri. Utang yang terus menumpuk membuatnya putus asa. Catatan kriminalitasnya yang terus tumbuh subur akibat narkoba semakin membuatnya putus asa. Namun, saat akan bunuh diri, dia berpikir ulang dan memutuskan untuk mencari orang yang dapat menyelamatkannya.

 “Saya datang ke BNN dan berharap untuk disembuhkan. Kemudian saya dikirim ke Bogor untuk program rehabilitasi,” ujarnya saat ditanya mengenai proses penyembuhannya.

Bagi Budi, orang tua dan anaknya merupakan inspirasinya untuk berhenti memadat. Atas dorongan mereka, Budi dapat bertahan selama direhabilitasi. Pada tahun 2013, ia berhasil lulus dari tempat rehabilitasinya.

Adapun Budi melihat banyak para pemadat tak memiliki wadah untuk bercerita pengalaman mereka.. Dengan menggandeng BNN dan Departemen Sosial, pada tahun 2014, ia mendirikan After Care.

Menjadi konselor bukanlah hal yang mudah. Budi menceritakan, dirinya pernah dikejar dengan parang saat akan menemui pemadat. Budi menambahkan, ia pernah masuk ke kampung yang dianggapnya rawan dan berbahaya. Menurutnya, kampung tersebut penuh dengan bandar dan pemadat sehingga dianggap pengganggu.

Selain itu, stigma pemadat tetap saja menempel pada dirinya. Dia tetap dianggap sebagai pemadat walaupun sekarang menjadi aktivis antinarkoba. Bahkan, istrinya pernah mengira ia kembali memadat saat pulang telat. “Padahal saya baru pulang setelah mengisi materi,” jelas Budi.

Adapun, Budi menyarankan siapapun untuk menghindari narkoba. Berdasarkan pengalamannya, narkoba memang memiliki sisi positif dan negatif. Dia memang pernah merasa dirinya lebih bertenaga setelah menggunakan madat. Namun, dampak negatifnya sangatlah besar. “Untuk tiga bulan awal memang enak, tetapi setelah itu, mimpi buruk pun dimulai,” lanjut Budi. (*)

Berita Terkait