Ngaku Dianiaya, Siswa Laporkan Guru Agama

Ngaku Dianiaya, Siswa Laporkan Guru Agama

  Kamis, 19 May 2016 09:30
Ilustrasi

Berita Terkait

PONTIANAK - Kasus kekerasan terhadap anak kembali terjadi. Kali ini dialami Yoshiwa (15). Korban dianiaya oleh seorang guru agama tempat ia menimba ilmu di pondok pesantren Kelurahan Sui Bangkong, Kecamatan Pontianak Kota. 

Tak kuat menerima pukulan baik tangan kosong maupun kayu, korban pun akhirnya memilih melarikan diri dan pada Minggu, 15 Mei lalu akhirnya perbuatan kekerasan tersebut dilaporkannya ke polisi. 

Korban mengatakan, selama menuntut ilmu di sana, dirinya melakukan kesalahan maka kerap dipukul di bagian badan, kaki dan tangan oleh guru agama tersebut dengan kayu dan kabel listrik sebesar ibu jari. “Karena sudah tidak tahan, saya bahkan sempat kabur ke rumah kawan yang tidak jauh dari pondok,” kata siswa kelas sembilan itu. 

Dia menuturkan, tangannya selalu dipukul dengan ranting pohon ketapang, kepala dipukul dengan tangan dan wajah pun tak pernah luput dari sasaran tamparan. “Karena sering dipukul ditampar telinga saya berdengung hingga mengeluarkan darah,” ungkapnya. 

Yang terbaru, dia menambahkan, kekerasan yang dialaminya terjadi pada, Sabtu, 15 Mei lalu ketika ia datang ke rumah guru agama karena dipanggil oleh salah satu kakak tingkatnya. 

“Karena mendengar dipanggil saya pun datang ke rumah guru itu, saat bertemu saya ditanya kenapa kabur? Saya jawab sudah tidak betah. Guru itu langsung dipukul dan kejadian itu disaksikan kedua teman saya,” ungkapnya. 

Bahkan aksi kekerasan itu tak hanya dialaminya, ada beberapa kawannya juga yang dipukul karena dituduh menyembunyikan pakaian anak guru agama tersebut. 

Kakek korban, Yamin Hamidi, mengaku tidak terima dengan perlakuan kekerasan yang dilakukan guru agama tersebut terhadap cucunya. “Kekerasan dilakukan di dalam pesanteren yang seharusnya bisa memberikan contoh yang baik kepada santri,” kesalnya. 

Yamin meminta kepada kepolisian agar menangkap guru agama tersebut. Perbuatannya tidak hanya membuat cucu dan mungkin santri lainnya luka tetapi juga menimbulkan ketakutan (trauma) yang mendalam. 

Sementara itu, Kepala Kepolisian Sektor Pontianak Kota Kompol Albert Manurung membenarkan jika pihaknya telah menerima laporan penganiayaan yang dialami Yoshiwa. “Korban sudah membuat laporan dan sudah divisum,” kata Albert. 

Albert menjelaskan korban sudah dimintai keterangan untuk menjelaskan bagaimana kekerasan atau penganiayaan yang dialaminya. Siapa pelakunya dan sejak kapan sudah dialami. “Kami masih kumpulkan bukti-buktinya dulu,” ucapnya. 

“Korban melapor ke Polsek Pontianak Kota, Sabtu (14/5) sekitar pukul 17.00. Ia didampingi orangtuanya dan langsung divisum,” ujarnya.

Albert menegaskan kepolisian akan serius menangani kasus tersebut. Setelah mendapat keterangan dari korban, tentu akan memanggil saksi-saksi yang melihat pemukulan yang dilakukan sang guru agama itu. (adg) 

Berita Terkait