Nelayan Takut Pergi Melaut

Nelayan Takut Pergi Melaut

  Kamis, 21 January 2016 10:37
HATI-HATI: Disamping ombang masih tinggi, nelayan pun ogah melaut.Dilarangnya pukat hela dan tarik membuat mereka bingung karena tak memiliki alat tangkap lain. SHANDO SAFELA/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

MEMPAWAH- Diterbitkannya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2/PERMEN-KP/2015 membuat sejumlah nelayan pukat trawl di Kabupaten Mempawah takut pergi melaut. Sebab, beberapa nelayan telah ditangkap oleh petugas lantaran dianggap melanggar aturan.

“Jujur saja, kami sudah sangat resah dan takut untuk berangkat melaut. Kami takut ditangkap petugas. Belum lama ini ada beberapa teman kami yang ditangkap Pol-Air Pontianak,” ungkap Nelayan Sungai Pinyuh, Tambilu Rafilin.

Diterbitkannya Permen-KP Nomor 2 tahun 2015 dengan tegas melarang nelayan menggunakan alat tangkap pukat jenis hela atau trawls dan pukat tarik atau seine nets. Sebagaimana pada pasal 3 menerangkan jenis alat penangkapan ikan pukat hela (trawls) dimaksud dalam pasal 2 terdiri dari, pukat hela dasar, pukat hela pertengahan, pukat hela kembar berpapan dan pukat dorong.

Sedangkan pasal 4 Permen-KP Nomor 2 tahun 205 itu juga menyebutkan, alat penangkap ikan pukat tarik (seine nets) sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 terdiri dari pukat tarik pantai dan pukat tarik berkapal.

“95 persen nelayan di Kecamatan Sungai Pinyuh menggunakan pukat trawl untuk menangkap ikan di laut. Ada 284 kapal trawl di Kecamatan Sungai Pinyuh. Jika satu kapal dikerjakan dua nelayan maka ada 568 nelayan yang akan kehilangan pekerjaan akibat diterbitkannya aturan ini. Kalau sudah tidak ada pekerjaan, mau makan apa keluarga kami,” keluhnya.

Karenanya, dia mengaku telah mengadukan permasalahan itu kepada DPRD Pemerintah Kabupaten Mempawah. Dirinya dan para nelayan pukat trawl lainnya berharap ada solusi terbaik dari pemerintah daerah setempat agar para nelayan kembali bisa pergi melaut dengan tenang.

“Kami sangat takut jika ditangkap petugas ketika pergi melaut. Makanya, kami minta pemerintah daerah dapat memberikan solusi terbaik agar kami tetap bisa melaut dan menafkahi keluarga,” tuturnya.

Dia pun meminta pemerintah memberikan solusi lain jika penggunaan pukat trawl akan dilarang secara permanen sesuai peraturan yang dikeluarkan Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) tersebut.“Tolong berikan kami peralatan lain yang tidak melanggar aturan. Nanti kita ujicoba dulu alatnya bisa atau tidak untuk menangkap ikan. Jika terbukti bisa mendapatkan tangkapan ikan, kami bersedia mengganti peralatan yang sudah ada,” tukasnya.(wah)

 

Berita Terkait