Nelayan Pencuri Ikan Dideportasi

Nelayan Pencuri Ikan Dideportasi

  Jumat, 12 Agustus 2016 09:57
DEPORTASI: Nelayan asal Vietnam yang dideportasi, kemarin. DOK RUDENIM PONTIANAK

Berita Terkait

PONTIANAK - Sebanyak 49 nelayan asal Vietnam dideportasi ke negara asal, Kamis (11/8). Sebelumnya nelayan ini ditampung sementara di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pontianak.

Sejak pukul 04.00, puluhan nelayan Vietnam ini sudah mempersiapkan diri menunggu proses angkut dari Rudenim Pontianak menuju Bandara Internasional Supadio Pontianak.

Untuk memudahkan proses pemulangan, mereka dikawal 10 petugas dan untuk membedakan dengan penumpang lain, deteni asal Vietnam ini diwajibkan mengenakan khusus berwarna kuning.

Puluhan nelayan yang terlibat dalam pencurian ikan di perairan Indonesia ini dipulangkan menggunakan maskapai Lion Air dari Pontianak tujuan Jakarta pukul 07.10. Kemudian dari Jakarta ke Ho Chi Min menggunakan Vietnam Airlines, pukul 13.20.

Kepala Rudenim Pontianak Suganda mengatakan, 49 nelayan asal Vietnam itu telah mendapatkan kekuatan hukum tetap dari pengadilan dan telah menjalani masa hukumannya akibat mencuri ikan di perairan Indonesia.

Selama di dalam Rudenim, kata Suganda, seluruh warga asing itu masuk kategori berkelakuan baik. Karena itu pemerintah memperlakukan mereka secara persuasif. Apalagi, selain diawasi Kementerian Hukum dan HAM, Rudenim juga mendapat sorotan dari lembaga imigrasi internasional seperti IOM.

"Mereka ditampung di Rudenim dengan masa yang bervariasi. Ada yang sejak Juni, Juli, ada pula yang baru Agustus ini," kata Suganda, kemarin.

Saat ini di Rudemin masih menampung dua orang warga Vietnam dan 16 orang warga Thailand yang menunggu dipulangkan.

"Makan mereka ini ditanggung kita, ya kita dekati secara persuasif. Mau suku apapun, agama apapun, tidak ada disini dibeda-bedakan,” kata Suganda.

Suganda menambahkan, sejak Januari hingga Agustus 2016, sudah ada 89 warga asing yang dideportasi, dan 85 orang yang dipulangkan. Hampir seluruh yang dideportasi merupakan pelaku pencurian ikan seperti warga Vietnam dan Thailand. Sedangkan yang dipulangkan kebanyakan dari Afganistan yang hendak mencari suaka ke Australia serta korban tindak pidana perdagangan orang dari Kamboja dan Myanmar.

Hingga saat ini, Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pontianak masih akan menerima kembali sejumlah warga asing yang sudah menjalani masa hukuman di Lapas kelas 2 A Pontianak.

Sebelumnya, Rudenim Pontianak pernah mengalami over kapasitas akibat maraknya pencurian ikan. Bahkan pada tahun lalu setidaknya ada 400 orang imigran yang ditampung di sana. Padahal kapasitas ideal Rudenim Pontianak hanya sekitar 130 orang.

Akibat kelebihan kapasitas itu, para deteni akhirnya harus tidur di dalam tenda darurat, lorong-lorong teras, ada juga yang tidur menggunakan hammock di bawah tower penampungan air.  (arf)

Berita Terkait