Nasionalisme Bangkit di Ujung Negeri

Nasionalisme Bangkit di Ujung Negeri

  Jumat, 19 Agustus 2016 09:30
KIBARKAN BENDERA: Eko Dadiek Suryadi, saat berada perbatasan Indonesia-Malaysia di Desa Temajuk, Sambas. Didik ikut serta mengibarkan bendera di sepanjang perbatasan. ISTIMEWA

Berita Terkait

Merasakan Peringatan Hari Kemerdekaan di Perbatasan

 

Pengibaran 17.845 bendera di perbatasan Indonesia-Malaysia, saat peringatan hari kemerdekaan telah memecahkan Rekor Muri. Momen itu menyisakan cerita dari para pelancong yang ikut berkontribusi di dalamnya. Eko Dadiek Suryadi, mengisahkan bagaimana rasa nasionalismenya tumbuh subur saat berada di perbatasan, tepatnya di Desa Temajuk, Kabupaten Sambas.

MIFTAHUL KHAIR, Pontianak

“NEGERI kita yang luas ini, dari kita, oleh kita dan untuk kita. Sebagai anak bangsa, kita harus menjaga dan membangunnya. Negeri ini anugerah terindah dari sang pencipta untuk bangsa Indonesia,” kata Eko, panggilan karibnya saat berada di tapal batas Indonesia-Malaysia di ujung terluar Kalimantan Barat, Tanjung Datuk.

Indahnya pemandangan di perbatasan sempat membuatnya terpukau beberapa saat kala itu. Di atas perahu pada sore hari, dengan haru ia memandang jauh pada gugusan pulau di cakrawala. “Sungguh besar negeri ini,” katanya pelan. Perjalanan saat ikut mengibarkan bendera di mercusuar Tanjung Datuk akan sangat sulit dilupakannya. 

Hari itu ialah hari kedua perjalanannya menuju pengibaran bendera di perbatasan tersebut karena hari pertama digunakan untuk istirahat. Eko yang datang dari Jakarta memulai perjalanan ke perbatasan, sehari setelah mendarat di Pontianak 15 Agustus.  Ia ditemani beberapa rekannya. Menggunakan mobil dari Pontianak, butuh waktu sekitar 14 jam untuk sampai di Pos TNI Angkatan Laut Temajuk. Dari pagi hingga tengah malam. 

Sesampai di sana, mereka disambut hangat oleh personel angkatan bersenjata kebanggaan Indonesia, TNI AD dan TNI AL. Eko mengaku sangat terkesan. “Sambutan mereka menghadirkan semangat persaudaraan pada saya. Begitu bersahabat,” katanya. “Ada rasa bangga tak terkira,” timpalnya lagi. 

Perjalanan tersebut sejatinya merupakan program dari organisasi social enrepreuneur yang diketuainya, Kompatriot Indonesia. Perbatasan menjadi satu target untuk menggali potensi patriotik dan produktivitas generasi muda. Program itu merupakan satu bagian strategis nasional, yaitu pembangunan atau pemberdayaan daerah perbatasan, terutama di bidang penguatan ekonomi masyarakat.

Berangkat ke Desa Temajuk merupakan bagian dari kiprah anak negeri untuk berkontribusi dalam kegiatan pengibaran bendera merah putih sebanyak 17.845 helai di sepanjang perbatasan, mulai dari Nanga Badau, Kabupaten Kapuas Hulu hingga ke Desa Temajuk, Kabupaten Sambas.

Ternyata, keadaan yang ia lihat di sana melampaui ekspektasi. Di hari kedua tersebut, saat matahari mulai meninggi, ia menyempatkan diri berkeliling di pasar tradisional terdekat. Ia menemukan sebuah desa di perbatasan yang tidak bergantung pada negara tetangga. “Desa Temajuk berbeda dengan daerah perbatasan lain,” pikirnya. 

Setelah berputar-putar beberapa lama, produk Malaysia yang semula ia kira akan berada di mana-mana, ternyata sangat sulit ditemui di Desa Temajuk. Warung-warung kelontong banyak menjajakan produk Indonesia. 

Saat matahari sudah lewat di atas kepala, ia bersama rombongan melanjutkan rencana awal, yakni mengibarkan bendera berukuran besar. Ukurannya dua kali lapangan badminton. Bendera itu akan dikibarkan di mercusuar Tanjung Datuk. Perjalanan dari Desa Temajuk ke Tanjung Datuk membutuhkan waktu sekitar dua jam menggunakan perahu. 

Untung saja cuaca cerah, pikirnya. Ia menaiki satu perahu kecil. Satu lagi perahu besar yang memuat pasukan TNI mengekor di belakang. Sesampainya di pantai Tanjung Datuk, di sanalah hatinya bergetar karena memandang pesona bentangan pasir putih dengan air laut sebening kaca. Eko terdiam sejenak menikmati lukisan alam. 

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki ditemani personel TNI AD yang sejak awal perjalanan sudah bersamanya. Di atas bukit, di tempat mercusuar itu berdiri gagah, akhirnya sang merah putih dikibarkan. “Butuh waktu cukup lama dan tenaga banyak untuk mencapai lokasi itu dan menaikkan bendera tersebut,” katanya. 

Untunglah, kehadiran TNI AD menjadi penolong mereka untuk bisa sampai pada puncak bukit tersebut. Usai mengibarkan bendera, Eko berbincang-bincang dengan para penjaga perbatasan Indonesia. Ia melontarkan pujian kepada para TNI penjaga perbatasan. “Mereka memiliki tenaga luar biasa, sangat hebat,” begitu pujian Eko. Akan tetapi, jawaban yang ia dapat membuatnya tersentak.

Masih terngiang-ngiang di telinganya, para tentara itu mengatakan bahwa mereka bukanlah apa–apa. “Tidak ada yang hebat di sini,” kata salah seorang dari mereka. “Bisa mendaki bukit bukan karena hebat, melainkan karena terus berlatih. Tidak ada yang hebat kecuali yang rela berkorban apa pun untuk negeri ini.” 

Sore itu pun kemudian dihabiskan dengan berbagi minum dan makanan bekal untuk kemudian kembali ke Desa Temajuk. Keesokan harinya, tepat pukul 11.00 di tanggal 17 Agustus, di lapangan Desa Temajuk, seluruh masyarakat sekitar dan pelancong yang datang tumpah ruah di lapangan penuh suka cita. Terdengar pekikan “merdeka” serempak dari barisan demi barisan. Dari barisan anggota TNI hingga ke barisan siswa sekolah dasar. 

Upacara pengibaran 17.845 bendera yang tercatat dalam rekor Muri tersebut berjalan khidmat, dipimpin langsung Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) XII Tanjungpura, Ma‎yjend TNI Andika Perkasa. 

Pada upacara itu pula diberikanlah sertifikat rekor Muri. Bendera merah putih berkibar dengan perkasa pada titik-titik yang sudah ditentukan. Mulai dari Desa Temajuk Kabupaten Sambas, hingga Nanga Badau Kabupaten Kapuas Hulu. Dari sana, tumbuhlah satu nasionalisme pada warga setempat, dan para pelancong yang menyaksikan. Seusai upacara, kegiatan dilanjutkan dengan lomba panjat pinang untuk warga dengan doorprize kambing.

Saat itulah ia melihat beberapa bendera sempat dicabut warga. Sontak ia kaget melihat peristiwa tersebut. Akan tetapi, ternyata bendera yang telah dicabut itu kemudian dikibarkan kembali di depan rumah masing-masing warga. Satu pemandangan yang membuatnya semakin yakin pada daerah perbatasan.

Menjelang sore, Eko menyempatkan diri ke Markas Satgas Pamtas untuk melihat dan mengambil gambar di sana. Sore itu pula ia berkemas, bersiap pulang ke Pontianak. Saat berpamitan pulang dengan anggota TNI, rasa haru kembali muncul di hatinya karena semangat persaudaraan yang terasa begitu tebal. Perasaan itu terus hadir di sepanjang jalan. 

Perjalanan pulang Eko akhirnya dimulai. Bersamaan dengan deru mesin mobil yang dijalankan, keharuan dalam dadanya terus memberontak. Ibarat hembusan nafas di dalam terompet, rasa itu terus mendesak dan ingin lepas. Pekik nasionalisme pun akhirnya menyeruak keluar. “Jayalah negeriku” katanya. (*)

Berita Terkait