Napak Tilas Pelayaran Menuju Jepang

Napak Tilas Pelayaran Menuju Jepang

  Senin, 16 May 2016 09:28
Bersandar: Replika kapal ini melewati sejumlah rute. Setelah singgah ke Pontianak mereka melanjutkan perjalanan ke Brunei Darussalam. Agus Pujianto/Pontianak Post

Berita Terkait

Mengusung semangat maritim kejayaan Majapahit, Sepuluh Anak Buah Kapal (ABK) mulai mengarungi lautan. Pontianak, menjadi tempat persinggahan pertama, sebelum akhirnya tiba di Jepang. 

Agus Pujianto, Pontianak

Ada yang beda di Pelabuhan Stasiun Pengawasan Sumber Kelautan dan Perikananan (PSDKP) Pontianak. Kapal-kapal yang bersandar umumnya hasil tangkapan Ilegal Fishing, baik dari Thailand maupun Vietnam. Ada juga kapal patroli yang tengah bersandar untuk mengisi logistik. Namun tidak yang terlihat hari ini di PSDKP Pontianak. Bentuknya yang unik, bak sebuah replica dengan ukiran khas kerajaan menghiasi buritan kapal. 

Replika Kapal Majapahit nama kapal tersebut. Di desain khusus, dibuat semirip mungking dengan yang pernah dimiliki Majapahit abad ke 13 silam. Kapal yang memiliki panjang 20 meter dan lebar 45 meter ini, memiliki dua layar besar. “Kapal tidak dibuat asal. Rancangan kapalnya dibahas dalam seminar. Setiap ukiran, desain dan reliefnya punya nilai sendiri. Ada juga mirip seperti ornament di Candi Borobudur,” kata Kabid Penguatan Karakter Bangsa Bahari Kementrian Maritim dan Sumber Daya RI, Ardiansyah, Minggu (15/5) di Pontianak.

Ornamen kapal yang kental dengan ukiran kayu itu dibuat di Sumenep, Jawa Timur itu melibatkan sejumlah ahli sejarah maupun perkapalan. Bukan hanya dari Indonesia, tapi juga dari Jerman, Belanda, Prancis dan juga Jepang.  Kapal Ekspedisi Spirit of Majapahit bertolak dari Dermaga Marina, Jakarta Utara, sebelum akhirnya singgah di Pontianak. Dengan mengusung tema Napak Tilas Pelayaran Majapahit Abad ke 13, perjalanan ini dilakukan sebagai upaya mengenang masa kejayaan pera pelaut Indonesia yang berhasil mengarungi lautan hingga sampai ke Jepang. 

Ekspedisi Kapal Majapahit ini yang melintasi sejumlah negara ini, diikuti oleh 10 orang berkemauan besar: Satu Kapten Kapal, Enam ABK, dua Mahasiswa dan satu orang Jepang.  “Kami punya kemauan besar dan siap mengarungi samudra untuk napak tilas kejayaan Majapahit menuju Jepang,” kata Kapten Kapal M. Amin Asis.

M. Amin Asis seorang nahkoda yang berasal dari Bulu Kumba sudah puluhan tahun malang melintang berlayar di lautan. Badannya, tak lagi setegap usia mudanya, begitu juga dengan giginya. Namun ganasnya ombak dilautan seperti tak mengurungkan niatnya untuk turut serta dalam ekpedisi. 

Pengalaman menahkodai kapal besar dan kecil sudah dia rasakan. Berbekal itu, dia membualatkan tekad kembali menjajal dan membawa Replika Kapal Majapahit menuju Jepang. “Ini nanti bisa menjadi kebanggaan saya dan cucu. Intinya kemauan. Kapal ini mengandalkan angina dan cuaca. Alhamdulillah, perjalanan dari Jakarta ke Pontianak berjalan lancar, tidak ada kendala,” ungkapnya.

Ardiansyah kembali menambahkan, Ekpedisi ini membawa misi untuk kembali semangat juang, semangat orang-orang terdahulu kita yang telah berani mengarungi samudera, melintasi negara, dengan peralatan atau perlengkapan seadanya pada zamannya.

“Kapal nanti akan dimuseumkan di Jepang dengan bantuan fasilitasi Kedutaan Besar Indonesia di Jepang, dan sebagai perwujudan kerjasama budaya Indonesia Jepang,” katanya.  Napak tilas pelayaran Replika Kapal Majapahit melewati beberapa tempat: Jakarta-Pontianak, Brunei Darussalam, Manila dan finish di Jepang. (gus) 

Berita Terkait