Naik Tipe, Agoesdjam Butuh Pembenahan, 2019 Ditargetkan Menjadi Tipe B

Naik Tipe, Agoesdjam Butuh Pembenahan, 2019 Ditargetkan Menjadi Tipe B

  Senin, 30 November 2015 10:07
MENUJU 2019: Ditargetkan paling lama tahun 2019 mendatang RSUD dr Agoesdjam Ketapang akan naik tipe menjadi B. Kenaikan tersebut dirasa perlu mengingat rumah sakit ini menjadi rujukan di kawasan selatan Kalbar. KORANKETAPANG.BLOGSPOT.CO.ID

Berita Terkait

KETAPANG – Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Agoesdjam Ketapang, Rusdi Efendi, tak memungkiri jika masih banyak yang harus dibenari di rumah sakit yang dipimpinnya tersebut. Di antaranya, disebutkan dia, peningkatan dan penambahan fasilitas, mulai dari gedung dan tenaga medis.Saat ini, diungkapkan dia jika rumah sakit pelat merah tersebut masih bertipe C. Padahal, dia menambahkan, diperlukan pembenahan agar rumah sakit rujukan di daerah selatan tersebut naik tingkat menjadi tipe B. “Paling lama 2019 sudah harus naik menjadi tipe B," kata Rusdi, beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, untuk meningkatkan fasilitas, saat ini pihaknya hanya bisa melakukan perombakan beberapa ruang, seperti ICU. Hal itu dilakukan mereka agar sesuai standar. "Belum banyak yang bisa kita lakukan. Kita hanya melakukan semaksimal mungkin," jelasnya.Menurutnya, saat ini banyak bangunan yang kurang memadai, bahkan belum tersedia di sana. Di antaranya, disebutkan dia, ruang gudang khusus obat. Selama ini, untuk menyimpan obat pun mereka masih harus menumpang di ruang lain. Selain itu, dia menambahkan, ruang poliklinik juga masih kurang dan ruang ICU mereka hanya menyediakan empat tempat tidur.

Dia juga memastikan jika pihak rumah sakit sudah membuat profil RSUD Agoesdjam. Tujuannya mereka lakukan untuk meminta bantuan demi peningkatan RSUD Agoesdjam. Saat ini mereka sedang memfokuskan diri pada akreditasi dengan memperbaiki sistem dan disiplin pegawai.Ia mengungkapkan, kendala yang dihadapi saat ini adalah dana alokasi khusus (DAK) dari pusat. Sementara, diakui dia, dana APBD begitu terbatas. "Kalau sesuai nawacita Pak Presiden, ada dana sebesar 10 persen, tapi hingga saat ini belum ada,” ungkapnya.

Salah satunya, disebutkan dia adalah masalah obat. Pihaknya pun sudah merincikan biaya operasional dan obat, untuk kemudian diajukan ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ketapang sebesar Rp1 miliar, untuk satu bulan. Namun, diakui dia, yang didapat mereka hanya sekitar Rp200 juta pertahun. "Memang pada 2014 kita dapat Rp17 miliar lebih. Tapi anggaran itu sharring atau gabung sama uang operasional yang masuk," paparnya.

Agoesdjam juga, diakui dia, masih kekurangan dokter spesialis bedah, anak, dan lain-lain. Minimal, menurut dia, masing-masing harus ada tiga dokter spesialis. Permasalahannya, disebutkan dia, ketersediaan obat juga menjadi persoalan di rumah sakitnya. Lantaran pihaknya hanya boleh membeli obat dari e-catalogue, tak boleh pada yang lain. Sehingga ketika dipesan, dia tak memungkiri, datangnya lama, bahkan terkadang ketersediaan obatnya sudah habis. "Pada hal kebutuhan obat itu sebenarnya hanya hitungan jam. Kalau kita beli di luar e-catalogue, maka salah dan bisa kena saat periksa BPKP. Karena tempat lain harganya beda biasanya lebih mahal dari e-catalogue," pungkasnya. (afi)

Berita Terkait