Mutilasi Anak Sendiri, Brigadir Petrus Juga Hendak Bunuh Istri

Mutilasi Anak Sendiri, Brigadir Petrus Juga Hendak Bunuh Istri

  Sabtu, 27 February 2016 08:17

Berita Terkait

MELAWI – Tengah malam baru saja beranjak tatkala Windri terbangun dari tidur pulasnya. Benaknya langsung tersentak saat melihat Petrus Bakus, suami yang bersama-sama dirinya merawat dua anak, membawa parang berlumur darah.

’’Mereka baik. Mereka mengerti. Mereka pasrah. Maafkan papa ya, Dik,’’ kata Petrus kepada Windri setelah mengancam untuk membunuh istrinya itu.Windri tak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa yang dimaksud suaminya yang merupakan brigadir polisi itu adalah Febian, 4, dan Amora, 3, putra-putri kesayangannya.

Windri lantas berusaha tenang. Dia mencari siasat untuk melarikan diri. Dia meminta Petrus mengambilkan air putih sebelum menjalankan niat membunuh dirinya. Petrus menurut. Windri lantas bergegas menuju ke kamar kedua anaknya.Di kamar itulah Windri menyaksikan hal yang tak pernah dia bayangkan. Dua anaknya tewas dengan beberapa bagian tubuh terpotong. Febian mengalami luka di leher. Tangan kiri dan kanannya terpotong di atas siku. Kedua kakinya terpotong di atas lutut. Amora mengalami luka di leher dengan kedua tangan terpotong di atas lengan. Dua kaki gadis 3 tahun itu terpotong di atas lutut.

Windri kemudian melarikan diri dan meminta tolong kepada warga asrama Polres Melawi di Gang Darul Falah, Kabupaten Melawi. Pintu rumah dinas Brigadir Sukadi, anggota Sat Intelkam Polres Melawi, menjadi tujuan pertama. Sukadi yang sudah tidur lantas terbangun dan membuka pintu. Dia langsung mengamankan Windri dengan mengunci pintu rumah.Sukadi kemudian menuju ke rumah kejadian. Dia lantas menyaksikan Petrus, koleganya yang juga anggota Sat Intelkam Polres Melawi, keluar rumah. Petrus kemudian duduk di teras rumahnya sambil berujar, ’’Sudah saya bersihkan, Bang. Saya menyerahkan diri.’’

Jumat (26/2) dini hari itu atau sekitar pukul 00.20 WIB, Kapolsek Menukung AKP Sofyan yang menginap di rumdin Kasat Intelkam di samping rumah pelaku juga terbangun karena mendengar suara ribut-ribut. Dia kemudian membangunkan Kasat Intelkam Polres Melawi.Keduanya lantas mengecek ke tempat kejadian dan melihat pelaku sedang duduk bersama Sukadi. Mereka kemudian mengecek korban ke dalam rumah dan menyaksikan bukti pembantaian.

Kabidhumas Polda Kalbar AKBP Arianto menyatakan, menurut keterangan istri pelaku, sejak sepekan ini suaminya sering marah-marah sendiri di rumah. ’’Seperti ada makhluk halus yang mendatangi. Dia juga bercerita sering mendapat bisikan. Bahkan, saat kecil umur 4 tahun, dia sering mengalami kejadian serupa dan badannya merasa kedinginan,’’ jelas Arianto menirukan kesaksian Windri.

Dia mengungkapkan, diduga Petrus mengalami skizofrenia, sebuah kekacauan otak yang ditandai kehilangan kemampuan menggambarkan kenyataan dan halusinasi. Pihaknya segera melakukan psikotes. ’’Apakah benar yang bersangkutan menderita skizofrenia atau tidak, dari psikotes itu akan diketahui hasilnya,’’ kata Arianto sebagaimana dilaporkan Pontianak Post.Brigadir Petrus Bakus sudah lebih dari delapan tahun bertugas sebagai polisi. ’’Selama ini track record-nya biasa saja. Dia tidak memiliki masalah kedinasan,’’ lanjutnya.

Kondisi kejiwaan Petrus kini tengah didalami tim penyelidik Polres Melawi dan Polda Kalbar. Kapolda Kalbar Brigjen Pol Arief Sulistyanto menyatakan, kondisi fisik pelaku sangat sehat. ’’Tetapi, bicaranya meracau, tidak menjadi dirinya sendiri. (Kata Petrus, Red) apa yang dia lakukan itu perintah dari Tuhan. Dia mendapat bisikan untuk melakukan itu semua,’’ tutur Arief kepada sejumlah wartawan di Markas Polres Melawi kemarin (26/2).

Dia mengungkapkan, saat diinterogasi, Petrus merasa tindakannya benar. ’’Dia tidak menyesal. Sebab, katanya anaknya pun ikhlas, tersenyum saat peristiwa mutilasi terjadi. Dia tenang saat menjawab pertanyaan tim penyelidik. Menurut dia, anaknya sudah dikirim ke surga,’’ paparnya.Polda Kalbar akan mendatangkan psikiater. Hanya, terang Arief, selama ini Petrus tidak pernah menunjukkan perilaku gangguan jiwa. Petrus pernah terpilih untuk mengawal salah seorang calon bupati Melawi saat Pilkada 2015 berlangsung.

’’Sebelumnya, dari hari ke hari, yang bersangkutan baik-baik saja. Tetapi, waktu terus berjalan. Ini di luar kekuasaan kami,’’ tegasnya.Di Jakarta, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menegaskan, hingga saat ini pihaknya masih mendalami dugaan skizofrenia atas diri Petrus. ’’Namun, ada laporan juga kalau kesurupan saat itu,’’ tuturnya.Apa yang akan dilakukan untuk mencegah kejadian yang sama pada anggota kepolisian yang lain? Badrodin menuturkan, sebenarnya tes kejiwaan telah dilakukan untuk menyaring setiap orang yang ingin bergabung dengan kepolisian. ’’Namun, ternyata untuk pelaku ini, memang sejak beberapa tahun lalu terindikasi sakit jiwa. Kalau sesuai laporan, sejak empat tahun lalu,’’ tambahnya.

Apakah ada rencana untuk melakukan tes kejiwaan berkala kepada aparat kepolisian? Menurut Badrodin, belum ada rencana seperti itu. Yang penting, kata dia, saat rekrutmen, sudah ada serangkaian tes. Salah satunya tes psikologi dan kejiwaan. ’’Kan sudah pernah. Buat apa lagi?’’ ujarnya.Mengenai pengawasan melekat yang seharusnya dijalankan atasannya, Badrodin mengelak soal adanya kemungkinan kelalaian. Menurut dia, gejala sakit semacam itu belum tentu terlihat. ’’Gejalanya muncul hanya saat ada masalah. Tetapi, saat kerja belum tentu kelihatan sakitnya,’’ paparnya.

Sementara itu, Inspektorat Pengawas Umum (Irwasum) Polri Komjen Dwi Priyanto menegaskan, tindakan anak buahnya merupakan tindak pidana sehingga harus diproses hukum. ’’Kami akan hukum sesuai perbuatannya. Tetapi, tentunya dicek secara mendalam soal kesehatan jiwanya,’’ tuturnya.Psikolog Adityana Kasandra Putranto berharap polisi tidak gegabah menyimpulkan skizofrenia. ’’Pengalaman saya, di antara sepuluh kasus mutilasi, hanya satu kasus yang pelakunya skizofrenia,’’ ungkap managing director Psychological Practice Kasandra & Associates itu.

Dia mencontohkan kasus pembunuhan sadis dengan mutilasi Mayasari (peristiwa mutilasi 2008 di Jakarta yang sebagian potongan tubuh ditinggalkan di bus Mayasari Bakti). Kala itu, Sri Rumiyati alias Yati membunuh dan memutilasi suaminya yang bernama Hendra. Dalam kasus tersebut, Yati tidak mengidap skizofrenia. Motifnya, perempuan hiperseks itu merasa sakit hati dan cemburu kepada suaminya.

Kasandra menuturkan, diperlukan pemeriksaan psikologis lengkap terhadap tersangka Brigadir Petrus. Pemeriksaan lengkap itu diperlukan untuk membuktikan kapasitas mental yang bersangkutan. Dia menambahkan, jika akhirnya Petrus terbukti mengidap skizofrenia, masyarakat bisa panik. Sebab, ternyata kepolisian memiliki masalah dalam proses rekrutmen dan monitoring mental personelnya. Menurut dia, skizofrenia bisa dideteksi sejak dini.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Ni’am Sholeh mengutuk tindakan kriminal tersebut. ’’Tindakan itu biadab,’’ ujarnya.Karena termasuk pembunuhan dengan korban anak-anak yang tidak berdaya, Asrorun berharap pelakunya dijatuhi hukuman mati. Dia berharap kepolisian melakukan perbaikan monitoring internal sehingga bisa melakukan deteksi dini terhadap potensi serupa. (arf/ody/jpg)

Berita Terkait