Musnahkan Pukat Trawl

Musnahkan Pukat Trawl

  Selasa, 11 Oktober 2016 08:27

Berita Terkait

Nelayan Kuala Ungkap Penyergapan

MEMPAWAH- Merasa dipojokkan dengan informasi terkait penyergapan kapal pukat trawl pada pekan lalu, Nelayan Desa Kuala Secapah akhirnya angkat bicara, Minggu (9/10) siang dalam konferensi pers di Gedung Serbaguna Kuala Secapah.

Asmuni, salah seorang nelayan Desa Kuala Secapah yang mengaku ikut dalam penyergapan itu menceritakan, aksi itu bermula ketika dirinya dan beberapa rekan nelayan tradisional lainnya melihat adanya sejumlah kapal pukat trawl yang sedang beraktivitas di zona tangkap nelayan tradisional.

Melihat adanya aktivitas tersebut, kelompok nelayan tradisional melakukan pengejaran terhadap kapal pukat trawl tersebut. Ketika itu, ada lebih dari dua kapal pukat trawl yang sedang beraktivitas. Mengetahui sedang dikejar nelayan, kapal pukat trawl pun berusaha melarikan diri. Meski berusaha kabur, ada dua kapal yang berhasil dicegat oleh nelayan tradisional.

“Ketika kami tiba di kapal pukat trawl tersebut, mereka (dua ABK) telah menerjunkan diri ke laut. Kami pun minta agar mereka segera naik ke kapal,” terang Asmuni.

Apalagi, sambung Asmuni, salah seorang ABK pukat trawl yang terjun ke laut tersebut tampak dalam kondisi lemah. Kelompok nelayan tradisional ini lantas melemparkan tali dan jerigen agar kedua ABK segera naik ke kapal.

Satu ABK yang tampak lemas itu menyambut tali dan naik ke atas kapal. ABK yang belakangan diketahui bernama Iskandar ini berhasil diselamatkan nelayan tradisional tanpa mendapatkan kekeresan atau perlakuan kasar.

Sedangkan satu ABK lainnya bernama Suryadi, enggan menyambut tali yang diberikan nelayan tradisional. Suryadi inilah yang kemudian hilang di laut hingga Kamis (7/10) lalu ditemukan nelayan Sungai Raya terdampakr di Pantai Pulau Baruk, Kabupaten Bengkayang.

“Belasan kali kapal kami berputar-putar untuk meminta ABK pukat trawl tersebut agar segera naik ke kapal. Namun, dia tetap tidak mau naik ke kapal. Dia justru berenang menjauh ke arah kapal pukat trawl lainya yang berada tak jauh dari lokasi penyergapan,” papar Asmuni.

Melihat kondisi itu, Asmuni dan kelompok nelayan tradisional pun memutuskan untuk meninggalkan Suryadi. Sebab, dirinya memperkirakan Suryadi pasti akan diselamatkan kapal trawl lainnya yang berada di lokasi tersebut.

“Kami tinggalkan dia (Suryadi), karena kami perkirakan pasti akan diselamatkan kawan-kawannya. Karena di sekitar lokasi penyergapan itu banyak kapal pukat trawl lainnya yang juga berasal dari Sungai Pinyuh. Maka kami sudah yakin, dia (Suryadi) tidak akan mati,” tegasnya.

Selanjutnya, imbuh Asmuni, pihaknya memutuskan untuk membawa kedua kapal trawl tersebut ke Dermaga Pelabuhan Kuala Mempawah. Kedua kapal beserta awaknya kemudian diserahkan kepada Polisi Air, TNI AL dan petugas DKP di Pelabuhan Kuala Mempawah. Dengan harapan, kapal trawl tersebut diproses hukum karena telah melanggar aturan.

“Yang harus kami tegaskan disini, Dalam penyergapan tersebut, kami tidak pernah memakai senjata tajam (sajam) dan tidak pernah sengaja melempar atau membuang salah satu ABK pukat trawl. Jadi, semua informasi yang berkembang di masyarakat sama sekali tidak benar dan kebohongan untuk memanaskan situasi,” tegasnya lagi.

Ditempat yang sama, Kepala Desa Kuala Secapah, Mawardi menerangkan, masyarakat Desa Kuala Secapah merasa perlu memberikan penjelasan untuk meluruskan simpangsiurnya informasi terkait penyergapan kapal trawl tersebut. Mengingat, kesimpangsiuran informasi itu sangat merugikan masyarakat nelayan Desa Kuala Secapah yang notabenenya membantu aparat penegakan aturan hukum justru dianggap pemicu masalah.

“Nelayan kami ingin membantu penegakan hukum, justru disalahkan. Lantas bagaimana dengan aksi penyerangan dan perampasan kapal yang dilakukan kelompok dari Sungai Pinyuh, Sungai Bakau dan sekitarnya pada Selasa (4/10) lalu. Tindakan itu sangat provokatif dan melanggar hukum,” cecar Mawardi.

Bahkan, Mawardi menyebut aksi perampasan kapal milik nelayan Kuala Secapah itu sebagai bentuk perampokan. Karena, perampasan itu melibatkan massa yang berjumlah ratusan orang. Karenanya, dia mendesak agar aparat berwenang dapat menegakan hukum terhadap pelanggaran tersebut.

“Jika mereka beralasan kami tidak peduli dalam pencarian ABK trawl yang hilang, itu kebohongan besar. Kami sudah menerjunkan 6 kapal untuk mencari korban. Untuk itu, kami menuntut aparat berwenang menindaktegas pelaku perampokan kapal milik nelayan kuala secapah,” tegasnya.

Sementara itu, nelayan Kelurahan Pasir Wan Salim, Falyan Zuhril meminta pemerintah menghapuskan alat tangkap trawl. Disamping telah dilarang oleh pemerintah sebagaimana peraturan yang berlaku, aktivitas trawl dirasakan menimbulkan kerugian bagi nelayan lainnya.

“Kita bukan tidak suka dengan orangnya, tetapi kami tidak suka dengan alat tangkapnya. Kalau pemerintah benar-benar menghapuskan pukat trawl pada 2017 nanti, kami akan sangat berterimakasih dan bersyukur. Selama ini kami sangat dirugikan dengan aktivitas trawl,” lirihnya.

Nelayan pukat rawai ini menyebut bentuk kerugian yang dialaminya yakni rawai kerap putus ketika dilewati kapal trawl. Kemudian, hasil tangkapan ikan menurun drastis lantaran sudah disapu bersih oleh pukat trawl.

“Kalau pukat trawl ini dihapuskan, maka nelayan rawai seperti kami akan sangat senang. Kami bisa bebas dan leluasa mencari ikan. Makanya kami minta agar pemerintah dapat bersikap tegas. Sekali lagi, kami bukan tidak suka dengan orangnya tetapi alat tangkapnya,” tukasnya.(wah) 

Berita Terkait