Musim Hujan, Miting Marak Lagi

Musim Hujan, Miting Marak Lagi

  Sabtu, 21 May 2016 09:30
LOKASI METING : Kendaraan yang sedang melintas di atas jembatan kayu yang dibuat oleh warga di ruas Jalan Pelang-Inhutani. Untuk bisa melintas di jembatan tersebut, pengendara harus membayar.

Berita Terkait

KETAPANG - Pungutan liar atau yang lebih dikenal meting, masih banyak ditemui di beberapa titik di Jalan Pelang-Inhutani. Beberapa oknum memanfaatkan kondisi jalan yang rusak karena hujan untuk meminta uang kepada pengendara yang melintas, baik kendaraan roda dua maupun roda empat.

Padahal sebelumnya, Bupati Ketapang, Martin Rantan, sudah melarang adanya meting di titik jalan yang rusak. Bahkan, beberapa waktu lalu, Martin, turun langsung ke ruas-ruas jalan yang tardapat meting, salah satunya di Inhutani. Di tempat ini, Martin, memerintahkan untuk membongkar meting dan melarang penjaganya meminta uang.

Akan tetapi, kini meting kembali tumbuh subur di musim hujan ini. Hujan yang turun hampir setiap hari membuat jalan provinsi ini rusak parah. Tak heran, banyak kendaraan yang melintas terjebak di kubangan lumpur. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk mencari keuntungan.

"Orang meting itu salah, tapi saya rasa yang lebih salah lagi itu pemerintah. Meting memang dilarang, tapi kalau jalan bagus tidak mungkin ada meting. Meting juga membantu agar kendaraan bisa melintas," kata salah satu warga Tumbang Titi, Yulianus, kemarin (20/5).

Ia menjelaskan, saat ini meting banyak dijumpai di Jalan Pelang-Inhutani. Di sepanjang jalan ini banyak jalan rusak. Perbaikan jalan yang dilakukan oleh pemerintah dari ruas Sungai Melayu hingga Tumbang Titi. "Pemerintah hanya memperbaiki jalan beberapa kilo saja, dari Kecamatan Sungai Melayu Rayak dan kecamatan Tumbang Titi. Sedangkan dari Pelang k Inhutani jalan masih banyak yang berlubang," jelasnya.

Sebagai orang yang sering melintas di jalan ini, ia mengaku kecewa. Selain karena harus melintasi jalan yang rusak, ia juga harus mengeluarkan biaya untuk meting.

"Kalau jalannya bagus seperti tol, tidak apa-apa lah bayar. Ini, sudah jalannya rusak, harus bayar pula. Belum lagi kendaraan rusak akibat kalan yang rusak," keluhnya.

Ia berharap pemerintah segera memperbaiki jalan yang rusak. Meski tidak harus diaspal mulus, paling tidak menutupi lubang di jalan sehingga tidak dimanfaatkan untuk meting. "Kita juga minta meting itu ditertibkan. Kami merasa dirugikan juga. Apalagi mereka mematok harga. Jika tak mau bayar tidak boleh lewat," ujarnya.

Sementara itu, pengendara lainnya, Andre, juga mengeluhkan hal serupa. Ia mengaku terkejut ketika melintas di Jalan Pelang-Inhutani yang saat ini tardapat banyak mating. "Kemarin-kemarin tidak banyak seperti ini. Sekarang sudah banyak meting," katanya.

Ia menjelaskan, ruas jalan yang rusak berjarak sekitar 20 kilometer. Namun, kerusakan cukup parah.

"Ada sekitar kurang lebih 20 kilometer jalan yang rusak parah. Banyak lubang besar dan ada juga jalan yang tergenang air. Mungkin karena musim hujan," jelasnya.

Ia berharap jalan terasebut segera diperbaiki. Karana status jalan tersebut merupakan jalan provinsi yang banyak dilalui oleh masyarakat. Terlebih juga jalan tersebut merupakan akses vital untuk beberapa kecamatan di daerah perhuluan Ketapang.

"Kita berharap pemerintah bisa memperbaiki kerusakan jalan ini sebelum Idulfitri nanti," harapnya. (afi)

Berita Terkait