Musim Buah Rejeki Bertambah

Musim Buah Rejeki Bertambah

  Sabtu, 13 Agustus 2016 09:21
GELAR LAPAK: Penjual buah musiman mulai membuka lapak di depan Pasar Teratai Pontianak, mereka memilih menjual buah di pinggir jalan untuk mengejar pelanggan dari masyarakat yang berlalulalang. MIFTAH/PONTIANAK POST

Berita Terkait

 
Berbisnis buah buahan segar cukup banyak dijalani usahawan baik bermodal kecil maupun besar. Peluang ini menjanjikan, karena warga masih sangat membutuhkan kuliner segar dan alami. Segmen bisnis satu inilah yang dijadikan peluang dua pedagang buah ini, meskipun dia tak membukan stand tetap untuk berjualan.

MIFTAHUL KHAIR, Pontianak

BUAH segar dipajang rapi di depan toko buah milik Egi (24) dan ayahnya Jamil (53). Di depan, mereka memajang jeruk yang sedang memasuki musimnya. Disampingnya, terpajang tumpukan mangga yang dikatakan Egi baru saja dipetik dari kebun milik keluarganya.

Semangka berjejer rapi dalam satu bak, memanjang hingga ke belakang toko buahnya di Jalan Kom Yos Soedarso, Pontianak.  “Bisnis toko buah ini terbilang sangat menjanjikan,” katanya Egi yakin.

Sebelum menjadi toko buah, ruko dua pintu itu berukuran setengah lapangan badminton itu ia sewakan ke orang lain, yang juga berjualan buah. Melihat pelanggan ramai, ia pun mengambil peluang untuk membuka toko buah sendiri.

Untuk menjalankan usaha ini tidak terlalu ribet baginya. Ia cukup mencari agen-agen buah, baik itu impor maupun lokal. Bahkan jika sudah berjalan dengan baik, suplayer sendirilah yang akan mendatangi toko.

Omzet yang ia dapatkan setelah berjualan hampir dua tahun berkisar Rp3juta hingga Rp4juta perharinya. “Uang tersebut akan diputar kembali untuk mendatangkan buah lain,” katanya. “Kami juga memanfaatkan musim buah. Jika sudah musimnya, buah buah tersebut terutama buah lokal, kami datangkan,” katanya sambil menunjuk buah jeruk yang sedang memasuki musimnya.

Selain mengambil pada agen buah, Egi yang sedang menyelesaikan bangku kuliahnya itu mengaku, buah-buah segar itu ia dapatkan dari kebun milik keluarganya sendiri. “Jadi buahnya dijamin segar,” katanya.

Selain itu, beberapa buah akan ia coba buka dan melihat kualitas buah tersebut. “Kalau ada buah yang rusak di dalamnya, atau rasanya tidak enak akan dipisahkan. Kami kembalikan ke agennya,” katanya.

Modal menjalankan usaha toko buah ini dirasanya tidak terlalu besar. Di awal usaha, ia mengusahakan tidak mengambil terlalu banyak. Itu untuk meminimalisir resiko rugi dari buah yang rusak atau busuk. Terlebih, ruko yang ditempatinya milik sendiri, modal pun tidak pernah keluar terlalu besar. “Modal sehari-hari bisa berputar dari omzet yang didapat setiap harinya,” katanya.

Setali tiga uang, Muhammadiyah (30) pedagang buah yang membuka lapak di Jalan Kom Yos Soedarso, tepatnya di depan Pasar Teratai, menyebutkan, jika dijalankan di lokasi yang strategis usaha ini bisa laris manis dikunjungi konsumen. Dari sana pun ia memutuskan untuk memilih lokasi tersebut.

Warga Sungai Kakap ini menggelar lapak buah jeruk. Buah yang memang sedang memasuki musimnya. Ia terlihat tengah sibuk melayani dua pelanggan saat dihubungi Pontianak Post, kemarin.

Sebelumnya, ia telah melakukan survei tempat untuk berdagang. Ia pernah melihat beberapa tempat, seperti Pasar Nipah Kuning Pontianak, TPI, hingga Jalan Tebu Pontianak. Lokasi sekarang yang ditempatinya ialah tempat di mana banyak warga yang melintasi lokasi tersebut. “Kalau diibaratkan, warga yang mengarah ke Nipah Kuning, tidak semuanya melewati pasar tersebut. Di sini yang lewat sepuluh orang, sampai di sana bisa saja hanya dua atau tiga orang,” jelasnya.

Lapak yang digelarnya itu baru berumur tiga hari. Ia semula berjualan dengan menggunakan mobil pick up. Kendaraan yang juga ia gunakan untuk mengangkut buah-buahnya pada hari itu. Terparkir tak jauh dari lokasinya sekarang. “Tempo hari dilarang berjualan menggunakan mobil karena memakan badan jalan,” katanya.

Namun menurutnya, rejeki yang dia dapatkan malah bertambah. Dengan lapak yang ia dapatkan sekarang bisa menjual hingga 50kg jeruk dari pukul 12 siang hingga 10 malam ia membuka lapak. “Mungkin bisa sampai Rp200.000 – Rp300.000 per hari. Cukuplah buat anak istri,” katanya. (*)

Berita Terkait