Musik Tradisional? Why Not?

Musik Tradisional? Why Not?

  Selasa, 3 November 2015 09:24

Berita Terkait

TAK dapat dipungkiri di zaman sekarang sangat langka kita temukan sosok muda-mudi yang mencintai musik etnik dan alat-alat musik tradisional. Jangankan untuk bisa memainkan, menyebutkan nama alatnya saja mungkin hanya sedikit muda-mudi yang bisa. Namun nggak bagi FeredicoVhony, salah satu pencinta musik etnik yang sangat menjunjung tinggi seni tradisional khususnya Kalimantan Barat. Ia nggak hanyabisamenyebutkan, namun juga dapat memainkan beberapa alat musik tradisional, diantaranya suling, sape’, semua alat musik tabu seperti jimbe’, ketipung, beduk, kenong, dan lainnya. Menurutnya, alat musik tradisional sangat unik dan menarik jika dimainkan dengan baik.

By: Diera Grandistasya

Berawal dari menjadi salah satu anak sanggar Pabayo Tarigas di Bengkayang, pemuda berkulit putih ini ikut dalam beberapa event seni sejak tahun 2005. Awalnya ia sama sekali nggak terpikir akan menjadi pemain musik tradisional, karena ia memulai karir seninya dengan menjadi penari dayak namun karena suatu insiden dimana pada saat itu sanggar kekurangan   pemain alat musik akhirnya ia diminta untuk belajar alat musik tradisional dayak yaitu kenong. Kejadian itu yang akhirnya menerjunkan Vhony bermain musik tradisional hingga sekarang. Bahkan ketika disuruh memilih antara tari atau bermain musik, ia dengan lantang menjawab bermain alat musik.

Dalam beberapa event seni, ia biasa dipanggil untuk memainkan alat kenong. Banyak prestasi yang telah ia dapat berkat memainkan musik tradisional diantaranya ia pernah diundang untuk mengisi acara di Malaysia dalam rangka ulang tahun Malaysia ke-50 tahun pada tahun 2008. Ia juga pernah jalan-jalan ke Jakarta selama beberapa hari secara gratis dalam rangka mengisi acara Festival Budaya Nusantara Kawasan Perbatasan Negara pada tahun 2011. Tidak hanya itu, berkat keahliannya dalam memainkan beberapa alat musik tradisional ia berhasil lolos seleksi sebagai peserta Jambore Pemuda Indonesia mewakili Kalimantan Barat. Ia bersama 23 orang lainnya bertolak dari Kalbar ke Papua Barat, secara gratis tanpa biaya sedikit pun. Ia juga pernah mewakili Kalbar dalam rangka Bakti Pemuda antar Provinsi di Malang yang diadakan oleh MENPORA. Semua pengalaman berharganya itu diperoleh dari kepiawaiannya dalam bermain musik tradisional, khususnya alat musik tabuh dan kenong.

Kecintaannya pada alat musik tradisional setempat, ia tularkan pada beberapa anak didiknya dalam sanggar Kiprah yaitusanggar yang diisi oleh anak-anak pencinta seni di FKIP Untan. Baru-baru ini ia berhasil menjadi komposer sekaligus sutradara dalam sebuah pertunjukan seni yang diberi nama “Rintihan Bumi”. Pertunjukan seni tersebut berisi teatrikal, tari, paduan suara yang diiringi dengan beberapa alat musik modern dan tradisional. Acara yang sukses menarik pengunjung memenuhi Gedung Anexini berlangsung pada tanggal 24 Oktober 2015 dengan sangat apik. Pertunjukan tersebut dibawakan oleh anak-anak didiknya di sanggar Kiprah FKIP Untan. Cowok yang lahir di Bengkayang, 29 Juni 1993 ini mengaku awalnya sangat gugup dan khawatir, namun karena semangat anak didiknya yang meluap serta mengingat kematangan saat latihan ia optimis acara berjalan lancar. Memang, usaha tak dapat membohongi hasil, “Rintihan Bumi” yang ia sutradarai sukses dan meninggalkan kesan baik bagi para penontonnya. Besar harapan Vhony untuk musik etnis kedepannya, “Untuk semua generasi muda, saya harap tidak melupakan beberapa kebudayaan lokal khususnya alat musik tradisionalnya. Karena alat musik tradisional unik dan dapat menciptakan aura musik yang baru bila digabungkan dengan alat musik modern,” tutupnya.**

Berita Terkait