Mulai Alami Infeksi dan Pakai Biaya Sendiri, Korban Perkosaan Kian Menderita

Mulai Alami Infeksi dan Pakai Biaya Sendiri, Korban Perkosaan Kian Menderita

  Senin, 1 Agustus 2016 09:30
USG: Sinem menunjukan hasil USG di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kalbar. Agus Pujianto/Pontianak Post

Berita Terkait

PONTIANAK—Setelah sempat mejalani rawat inap di Upt Puskemas Rawat Inap Rasau Jaya, Kubu Raya, Ay (20) korban perkosaan massal 15 lelaki bejat akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kalbar, Sabtu (30/7) siang. Dari pemeriksaan USG (Ultrasonografi) dibagian tubuh Ay mengalami infeksi kandung kemih. Ay masih mengenakan baju yang sama di hari sebelumnya. Tubuhnya masih tampak lemah. Raut mukanya juga masih pucat. Beberapa kerabat dekatnya masih tampak menemaninya. 

Semalam menginap di rumah sakit, siangnya  dokter menyarankan agar korban segera di USG. Sebelum masuk ke ruang Poli Urologi, Ay sempat merebahkan badan di sebuah kursi. Sinem, ibu korban setia menemani anak sulungnya hingga selesai proses USG. “Hasilnya kata dokter, sakit nyerinya itu akibat ada infeksi saluran kencing. Sudah, ndak apa-apa, dokter bilang hari ini sudah boleh pulang,” kata Sinem, ibu kandung korban, Minggu (31/7).

Usai USG, Ay sudah tampak baikan. Kondisinya lebih baik dari sebelumnya. Korban juga sudah bisa tersenyum dan bergurau saat melihat jatah makan siangnya dimakan ibunya. Senyum mengembang pun tampak dari raut muka Ay yang beberapa hari ini muram. 

Setelah mengetahui hasil pemeriksaan dokter, keluarga korban mengaku sedikit lega, sebab kondisi kesehatan Ay tidak begitu mengkhawatirkan. Apalagi, dokter bahkan memperbolehkan dirawat di rumah. “Sedikit lega rasanya. Kemarin sebelum dirujuk, dia (korban) nyerinya kambuh lagi. Makanya, sorenya langsung dirujuk ke sini (RS Bhayangkara) pakai ambulans,” sebut Sinem.

Selama masa pengobatan, biaya perawatan masih ditanggung Sinem dan keluarga dan belum ditanggung oleh Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS).  “Pembiayaan sampai saat ini pakai uang pribadi. Belum ada kartu BPJS, masih umum. Masuk BPJS untuk biaya masuk untuk makan sehari-hari saja susah, jadi dirawat di bagian umum,” kata Edi Slamet, paman korban.   Sinem, mengaku sedikit lega, sebab kondisi anaknya tidak mengkhawatirkan. Dia dan keluarga berinisiatif untuk membawa Ay pulang ke rumah.  “Dokter nyarankan banyak minum air. Kalau ada keluhan lagi, dibawa ke rumah sakit lagi. Boleh dibawa pulang kata dokter,” ujarnya. 

Seperti diberitakan Ay, gadis berusia 20 tahun diperkosa secara bergiliran oleh belasan orang di kawasan perkuburan di belakang Madrasah Aliyah di Desa Rasau Jaya, Kecamatan Rasau, Kabupaten Kubu Raya, pada Sabtu (23/7) malam.  Korban diketahui sudah dua kali diperkosa oleh pelaku yang diduga sama. Sebelumnya, ia diperkosa di sebuah kawasan oleh pelaku yang diduga lebih dari tiga orang, kejadian itu terjadi di Jalan Paku Alam, pada Sabtu, 16 Juli. 

Entah mendapat ancaman atau tidak, korban tak pernah menceritakan apa yang dialaminya kepada orang tuanya yang bekerja di Pontianak. Lalu, pada Sabtu, 22 Juli di bawa ke Jalan Beringin atau daerah kandang ayam dan diperkosa lebih dari lima orang. Para pelaku diduga teman-teman sang pacar. 

Polisi yang menerima laporan kasus pemerkosaan itu pun langsung bekerja cepat melakukan penyelidikan untuk mengungkap identitas pelaku. Berbegal keterangan korban, tiga dari 14 orang yang diduga melakukan pemerkosaan berhasil ditangkap, Selasa malam, 26 Juli. Dua pelaku di antaranya diketahui masih berusia di bawah umur. Ibu korban, Sinem, mengaku baru mengetahui jika anaknya itu menjadi korban pemerkosaan, pada Senin, 25 Juli lalu. Saat itu, ia sedang bekerja didatangi anaknya yang tinggal di Rasau. Sinem, menuturkan saat itu anaknya mengatakan jika telah diperkosa oleh belasan orang di kawasan pemakaman. “Saya terkejut, rasa hancur hati saya mendengar ucapan anak saya yang bilang diperkosa belasan orang. Saat itu saya langsung menangis,” ucapnya. Bupati Kubu Raya, Rusman Ali bahkan sempat mengaku prihatin adanya kasus pemerkosaan terhadap Ay. “Saya berharap para pelaku pemerkosaan ini bisa ditindak tegas dan diberikan hukuman berat sesuai dengan aturan dan hukum yang berlaku,” kata Rusman Ali kepada wartawan, pekan lalu.  Meski mengetahui sebagian pelaku pemerkosaan tersebut berasal dari kalangan pelajar, namun Rusman Ali tetap menginginkan adanya hukuman berat bagi para pelaku pemerkosaan tersebut.  “Dengan hukuman hukuman berat sesuai aturan dan hukum yang berlaku maka tidak ada lagi orang yang berani melakukan perbuatan tersebut,” ucapnya. (gus)

Berita Terkait