Mukmin Sejati Bukan Pengutuk

Mukmin Sejati Bukan Pengutuk

Jumat, 13 May 2016 09:07   901

Rasulullah saw bersabda “ Sesungguhnya orang yang suka mengutuk itu tidak mempunyai penolong dan tidak dapat menjadi saksi di hari kiamat nanti.” ( HR.Mus;im dari Abu Darda ).

Siapa yang mendoakan saudaranya yang muslim dengan kutukan yaitu mendoakannya jauh dari rahmat Allah maka hal ini termasuk sikap memutuskan hubungan. Rasulullah saw bersabda “ Mengutuk orang mukmin sama dengan membunuhnya.”  (HR.Bukhari )

Anas Ra berkata, “ Ada seorang laki-laki berjalan bersama Rasulullah saw dengan menunggang unta. Tiba – tiba laki-laki itu mengutuk untanya. Maka Raslullah saw bersabda ‘ Hai Hamba Allah, kamu jangan berjalan bersama kami dengan menunggang unta yang terkutuk.” ( HR. Ibnu Abi Ad Dunya ).

Nu’aiman sering minum khamar, oleh karena itu ia sering diberi sanksi dengan pukulan beberapa kali di hadapan  Rasulullah saw. Suatu ketika, saat ia diberi sanksi, ada seorang sahabat berucap, “ Semoga Allah mengutuknya. Ia sering melakukannya “. Maka Rasulukllah saw bersabda “ Janganlah kamu menjadi pembantu setan untuk memudharatkan saudaramu.”  ( HR. Ibnu Abdil Barr).

Dikisahkan, suatu malam ,sultan Murrad ar- Rabi ( 1623 – 1640 ), yang dikenal dengan raja  yang taat dan adil, keluar bersama ajudannya.Di tengah – tengah perjalanan , raja yang senang blusukan ini, melihat seorang lelaki tergeletak sudah tidak bernyawa lagi.Namun yang membuatnya miris, dijalanan yang masih banyak orang berlalu lalang itu, seorang pun tidak ada yang peduli dengannya. Ketika ditanyakan , mereka menjawab “ Biar saja, di fasik, penimum khamar dan penzina.”. Sang Sultan merasa tersentuh untuk mengurus lelaki itu kepada keluarganya.Maka sang ajudannya mengajak beberapa orang untuk membopong jenazah tersebut. Sampai di rumah keluarga jenazah itu,  sang  isteri menyambut dengan tangis sedih, namun penuh ketegaran. Setelah itu para pengantar , terkecuali sulthan  dan ajudannya, bergegas pulang dan sama sekali tidak ada keinginan untuk mengurusi jenazahnya. Sang isteri  bertanya “ Mengapa kalian tidak ikut bersama mereka, meninggalkan jenazah ini, wahai wali Allah ? “. Disebutkan wali Allah, Ar-Rabi terhenyak kaget. “ Bagaimana engkau sebut kami wali Allah, sedangkan di luar sana menganggap buruk pada jenazah suamimu ini ? “. Dikisahkan kemudian kekhawatiran dirinya tentang amal suaminya selama ini. “ Tidakkah engkau takut wahai suamiku, jika engkau masih melakukan amalan itu, lalu engkau meninggal di tengah jalan maka tidak akan ada orang yang mau mengurus jenazahmu apalagi mensalatkanmu.”  Dijawab oleh suaminya, “Janganlah khawatir , jika itu terjadi, yang akan mengurus jenazahku nanti adalah wali Allah dan penguasa di negeri ini. Bahkan yang akan mensalatkanku adalah para ulama “. Apa amalan lelaki itu ? . Pertama membeli botol – botol minuman khamar, lallu dibawanya pulang, kemudian dipecahkan dan dibuangnya ke selokan. Sedikitpun tidak diminumnya. Kedua, pada malam hari ia keluar, mengetuk rumah perempuan “ nakal “ kemudian memintanya untuk tidak membuka pintu bagi umat Muhammad. Kompensasinya membayar seharga laki-laki hidung belang. Mendengar cerita sang istri salehah ini Ar-Rabi berdiri dengan derai air mata “ Demi Allah, saya adalah sulthan di negeri ini. Dan besok saya akan perintahkan para ulama di negeri ini untuk ,mensalatkan suamimu itu “. Wallahu’alam

Penulis: tokoh agama Ketapang 

Uti Konsen