Mukidi, Media dan Pesan Kebangsaan

Mukidi, Media dan Pesan Kebangsaan

  Rabu, 14 September 2016 09:30   575

Oleh: Abd Hannan

 

BEBERAPA hari ini, publik tengah diramaikan oleh perbincangan mengenai kemunculan cerita lucu bernama Mukidi. Cerita kocak tentang Mukidi menjadi viral diberbagai media sosial, entah itu Facebook, WhatsApp, Twitter, hingga jaringan BBM. Semua tentang Mukidi menjadi bahan pembicaraan. Bukan saja di kalangan netizen, namun juga merambah hingga ke media-media besar nasional.

Berdasarkan kemunculannya, cerita Mukidi bersumber dari sebuah blog bernama Cerita Mukidi dengan akun twitter @CeritaMukidi. Latar belakang Mukidi yang digambarkan sebagai tokoh yang tidak jalas dari mana asalnya semakin menambah sisi lucu tentang kisah Mukidi. Sesekali dia disebutkan berasal dari Jakarta, kadang orang Jawa, kadang Madura. Kadang digambarkan masih duduk di bangku sekolah dasar, kadang sudah dewasa, kadang sudah kakek-kakek. Beristrikan seorang bernama Markonah, dan mempunyai dua anak, bernama Mukirin yang sudah remaja, dan Mukiran yang masih duduk di bangku SD.

Sekalipun Mukidi hanya sebuah cerita lucu layaknya tokoh Abu Nawas, namun dengan kisah-kisah humoris yang dibawakannya ternyata cukup berhasil membuat para pembacanya terhibur. Sehingga cerita Mukidi yang asalnya fiksi, imajinatif, dan dibuat-buat seakan berubah menjadi bagian kehidupan nyata. Dengan berkembangnya teknologi media massa yang semakin mempesat, sangat mungkin kedepannya akan ada Mukidi-Mukidi baru, yang muncul seiring dengan perkembangan masyarakat informasi (digital society), yang yang disebutnnya sebagai cyber space. Dalam konteks ini, media-media sosial memainkan peranan utama.

Power of Medsos

            Dalam kebudayaan kontemporer, kedudukan media sosial bukan saja bersfungsi sebagai penyebar informasi, namun disamping itu media juga memiliki kekuatan besar untuk menciptakan dan membangun kebudayaan baru. Kekuatan itu diperoleh dari kemampuan dirinya untuk masuk dalam segala dimensi kehidupan nyata, sehingga memiliki potensi besar mempengaruhi segala bentuk perilaku, sikap, dan pola kehidupan mereka. Sekalipun pesan yang disampaikan hanya sekedar sebuah photo, gambar, kata-kata singkat, namun ketika ketika masuk dalan ruang media sosial, maka dalam hitungan detik akan menimbulkan efek yang dapat menarik perhatian jutaan masyarakat dunia nyata.

Mc Quail dalam bukunya, Mass Communication Theories (2000) menjelaskan, beberapa fungsi media (sosial) yang dapat mengubah tatanan hidup masyarakat ada pada kemampuan dirinya untui menyalurkan sekaligus mendorong para penikmatnya untuk tidak sekedar membaca, melihat, atau menonton. Namun juga mengikuti seperti apa yanag dikehendaki oleh si penulis atau pencipta.

Paling tidak, terdapat dua perspektif untuk melihat lebih dekat peran media (sosial). Pertama, melihat media sebagai forum untuk mempresentasikan berbagai informasi dan ide-ide kepada khalayak, sehingga memungkin terjadinya tanggapan dan umpan balik (encoding). Dalam perspektif ini, konsep massa (mass theory) yang pasif mengalami pendangkalan. Sebab, setiap orang dapat dengan mudah ditundukkan menjadi penurut. Menerima, mengikuti, dan mengamini pesan yang diproduksi oleh media. Fenomena cerita lucu Mukidi yang saat ini menjajdi viral fenomenal di media sosial masuk dalam perspektif ini. Kedua, media sebagai interlocutor, yang tidak hanya sekadar tempat berlalu-lalangnya informasi, tetapi juga partner komunikasi yang memungkinkan terjadinya komunikasi interaktif antar keduanya (decoding). Artinya, sekalipun media (sosial) aktif memproduksi makna, itu tidak membuat pembaca bersikap taken for granted. Melainkan berusaha memproduksinya kembali (dekontruksi) dalam bentuk realitas yang menurut dirinya asyik dan gaul. Mengaitkan membawa cerita Mukidi ke dalam diskursus sosial politik, sosial budaya, sosial pendidikan dan lain sebagainya. Seperti adanya viral sosial yang bertuliskan Mukidi adalah kita.

Barangkali, proses decoding inilah yang oleh Hikmat Darmawan, dalam bukunya Lubang Hitam Kebudayaan (2012) disebutnya disebutnya sebagai fenomena masyarakat generasi android, teknologi serbacerdas yang multitasking. Memiliki kecenderungan untuk menolak pilihan-pilihan terbatas, dan mengolahnya dengan tampilan dan makna yang baru.

Social Viral Interesting

            Dalam kehidupan masyarakat kontemporer (baca:postmodernitas), ada kecenderungan diri untuk meninggalkan suatu yang memiliki sifat menoton. Mereka lebih tergerak untuk meleburkan diri dalam percakapan dan pergaulan sosial yang menyimpan keindahan (estitis). Perbincangan perihal politik, ekonomi, pendidikan tidak lagi dilakukan dan dijalankan melalui cara-cara formal. Seperti di dalam sekolah dan bertatap muka. Melainkan lebih pada penggunaan symbol yang dan pesan-pesan menarik (intresting). Baik itu dalam bentuk gambar, meme, komedi,petisi online, haters, serta perntunjukan-pertunjukan yang sifatnya menghibur. Stand up comedy misalkan.

            Oleh sebab itulah, viral dalam media sosial sebagai salah satu cara penyebaran pesan menjadi bentuk realitas kekinian yang banyak digandrungi. Sebuah kebudayaan baru yang dibangun dari kekuatan media, namun dengan leluasa mampu memproduksi makna dalam kehidupan nyata. Barangkali, inilah yang kemudian mendorong Jean Baudillard (1983) mengklasifikasikannya sebagai hiperealitas. Yaitu, sebuah realitas yang melebihi aslinya dikarenakan silang sengkarutnya makna-tanda yang dimunculkan dalam tampilan serbaindah dan menarik (baca:simulasi/simulacrum).

Akhirnya, komunikasi melalui media-media sosial pun menjadi pilihan alternative disaat masyarakat merasa jenuh dengan beragam hiruk-pikuk sosial yang ada disekitarnya. Apakah itu datang dari dunia politik, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, agama, dan semacamnya. Karena itulah, tak jarang kemudian muncul beragam meme dan itilah-istilah lucu yang sengaja dimunculkan untuk menyampaikan unek-unek.

Nilai ketertarikan viral sosial jugalah yang kemudian dijadikan momentum oleh kaum netizen untuk menggambarkan setumpuk masalah kebangsaan yang tengah menghimpit kehidupan mereka. Melalui kisah dan sosok Mukidi, public ini hendak menyampaikan kerinduan diri atas kehadiran suasana hidup yang tenang, nyaman, damai, penuh tawa. Tanpa harus lagi dibuat jenuh oleh hingar-bingar perdebatan politik dan kekuasaan, serta sederet persolan sosial yang dewasa ini sedang melanda negeri kita. Kepungan asap yang kembali melanda. kerisauan terhadap gagalnya program tax amnesty, meyeruaknya aksi teror di Medan, serta banjir yang kembali menggenangi wajah ibu kota, Jakarta.  

 

 

*) Pengamat sekaligus akademisi sosial di Pascasarjana Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga Surabaya