Muhammad Luqman; Hobi Modifikator Sepeda Motor

Muhammad Luqman; Hobi Modifikator Sepeda Motor

  Selasa, 3 November 2015 09:10
BENGKEL MUNGIL : Muhammad Luqman foto bersama motor-motor karyanya di Minor Fighter Squad, bengkel mungil menghasilkan motor-motor ‘besar’.IDIL AQSA AKBARY/PONTIANAK POST

Keinginan berwirausaha dan kecintaan terhadap dunia otomotif membuat Muhammad Luqman fokus di bidang modifikasi motor. Dari bengkel yang diberi nama Minor Fighter Squad Custombike dia berprinsip pekerjaan paling menyenangkan adalah hobi yang dibayar. IDIL AQSA AKBARY, Singkawang

MESKI sehari-hari bekerja di bengkel penampilan pemuda ini cukup bersih dan rapi. Bicaranya penuh semangat, ramah dan juga terbuka, itulah sosok Muhammad Luqman saat ditemui di bengkel kecilnya di Jalan Sungai Mahakam Perumnas Roban, Singkawang. Kala itu dia sempat berbagi pengalaman bagaimana menemukan passion sebagai modifikator motor.
Diketahui Luqman pernah tercatat sebagai mahasiswa Teknik Elektro di Univeristas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung sejak 2004. Lulus pada 2010 membuatnya belajar banyak hal di tanah rantau, termasuk hobi otomotif yang digelutinya sejak kuliah. “Awal belajar modif karena suka otak-atik mesin motor,” katanya.Setelah mahir dengan mesin, dia pun sempat berhenti dengan hobinya karena kecelakaan saat berkendara. Kemudian aktif kembali ketika mengenal teman-temannya di Minor Fighter (MF) Indonesia. Menurutnya MF merupakan tempat bertemu antara mereka yang sehobi di otomotif dan memiliki kedekatan emosional layaknya sebuah keluarga. “2006 saya mulai belajar modifikasi dengan bekal ilmu teknik yang didapat dari kuliah,” ucapnya.
Hingga tahun 2009 pria 29 tahun ini masih sekadar membantu di bengkel modifikasi milik temannya di Bandung. Barulah ketika lulus kuliah tahun 2010 dan memutuskan kembali ke kampung halamannya di Singkawang dan membuka bengkel sendiri. “Baru di sini saya bekerja, dengan alat dan di tempat sendiri secara pribadi,” tuturnya.Dia memilih serius menekuni bidang modifikasi bukan tanpa alasan. Pertama karena cita-citanya yang tinggi untuk berwirausaha. Kemudian yang kedua, dia merasa statusnya sebagai sarjana pendidikan belum cukup dihargai. “Sempat kepikiran sambil usaha kerja lain memanfaatkan ijazah untuk mengajar, tapi gaji guru honorer sangat kecil, mau makan apa?” jelasnya.
Karena itu dia fokus bekerja dengan hobi yang digelutinya. Luqman menilai kesuksesan paling tinggi adalah saat bekerja dari hobi. “Itu posisi paling enak selain mendapat kesenangan juga dapat penghasilan,” akunya. Meski demikian tak lantas jalan yang dipilihnya mulus begitu saja. Selama dua tahun awal dibuka bengkel modifikasinya sepi, bahkan sempat tutup beberapa waktu. “Tahun-tahun pertama sangat susah karena kita orang baru, hal yang dibawa juga baru, apalagi biaya modif terbilang cukup tinggi,” terangnya.
Selain biaya yang mahal kepercayaan terhadap kemampuannya juga belum terbukti. Sampai akhirnya Luqman mulai dikenal setelah menang kontes modifikasi di Pontianak. Dalam even Honda Oto Contes (HOCS) Regional Pontianak 2013, karyanya berhasil menjadi juara pertama. “Sebelumnya saya juga pernah juara 1, The Best HOCS Bandung  2011,” tambahnya.
Dia menceritakan saat itu hanya ada dua motor yang ikut dengan konsep street fighter. Modifikasi dengan gaya ini memang jadi andalannya, street fighter dengan khas tanpa fairing, single jok dan menonjolkan mesin. Dari kontes tersebut motor miliknya memecah sejarah, karena belum pernah sekalipun ada modifikator asal Singkawang menang di Kalbar dan juara pertama. “Target kami tidak tinggi waktu itu, intinya hanya ingin mengenalkan bahwa ada bengkel modifikasi di Singkawang,” ujarnya.
Setelah kontes itu Luqman merasa bengkelnya mulai dikenal. Dia pun semakin bersemangat dengan usaha yang digelutinya. “Orang yang biasa cuek-cuek saja sekarang banyak yang singgah, melihat dan bertanya soal modifikasi motor,” katanya.
Bengkel miliknya memang terbilang unik. Bahan-bahan yang diaplikasikan berupa limbah moge (motor gede). Karena itu hasilnya akan berbeda dan susah ditemukan di tempat lain. Gaya modifikasi yang paling dikenal di tempatnya adalah street fighter. Motor gaya ini merupakan ciri khas dari MF. Tapi pada dasarnya untuk modifikasi gaya apapun bisa dikerjakan di sana. “Seperti cafe racer dan lain-lain, tapi untuk street fighter memang MF lah punggawanya di Indonesia,” jelas pria yang telah bergabung bersama MF sejak 2007 itu.
Memang kelas motor jenis ini cukup tinggi. Dalam kontes modifikasi, motor-motor street fighter atau pengguna limbah moge lainnya masuk dalam kelas profesional. Luqman mengaku jalur impor limbah moge terbilang sulit, meski demikian dia bisa langsung memesan dari luar negeri. “Link ini yang tidak dimiliki semua modifikator,” imbuhnya.
Untuk modifikasi menggunakan limbah-limbah moge juga tak gampang, jam terbang harus mumpuni. Agar menjadi ahli dalam modifikasi motor menurutnya penting memiliki jiwa seni dan kreatifitas tinggi. Berbekal penguasaan alat-alat teknik seperti gerinda, bor, dan las, modifikasi motor dipelajarai Luqman secara otodidak.
Limbah moge yang digunakan dari motor 400 cc ke atas, seperti merek Ducati, Triumph, Suzuki dan lain-lain. Onderdil yang dipakai biasanya kaki-kaki, swing arm, velg, shockbreaker, ban luar dan lainnya. Barang-barang tersebut memang tak murah. Misalnya untuk sepasang ban luar, barunya skitar Rp5 jutaan, velg sepasang sekitar 10 jutaan dan shockbreaker di atas Rp8 juta.
Biasanya motor yang dimodif dengan cara ini mesinnya 200 cc ke atas. Tapi tidak menutup kemungkinan semua mesin bisa dibikin aliran modif apapun. Konsep yang pertama diperlukan. Bagi yang ingin memodifikasi motor di sana Luqman menyerahkan pada kemampuan pendanaan masing-masing klien. Mengenai desain bisa mencari referensi sendiri atau dilimpahkan langusung kepadanya. “Setelah sepakat barang-barang yang diperlukan segera dipesan kemudian dikerjakan,” katanya.
Modofikasinya seperti membuat motor sendiri dari nol, dengan hanya memanfaatkan mesin. Rangka utama yang mimiliki nomor tetap harus dipakai agar motor tetap legal dan layak digunakan sehari-hari. Modofikasi gaya MF intinya seminimalis dan seenak mungkin. Semua yang digunakan harus fungsional. “Saya tidak pernah main fiber yang berlebihan, semkain ribet justru membosankan, apalagi ditambah hal-hal yang tak fungsional, yang paling penting ban dan kaki-kaki harus sempurna,” jelasnya.
Mengenai pasar peminat modifikasi, menurtnya di kota kecil seperti Singkawang memang agak sulit. Justru yang banyak memesan dari luar kota, seperti Pontianak, Sekadau, Bandung, Depok, Bekasi, Surabaya dan kota lain. Mengenai upah dia mengaku hanya mematok Rp7 juta ke atas. Harga relative murah jika dibanding bengkel modif profesional lainnya. Dengan budget sama bisa didapat kulitas yang lebih baik.(*)