Muhammad Chairul Basyar, Mahasiswa Sipil yang Lulus Cum Laude Prodi Strategi Perang Unhan

Muhammad Chairul Basyar, Mahasiswa Sipil yang Lulus Cum Laude Prodi Strategi Perang Unhan

  Sabtu, 14 November 2015 09:16
BANGGA: Muhammad Chairul Basyar di Jakarta kemarin (12/11). Dia lulus dari Unhan dengan IPK 3,75. MIFTAHUL HAYAT/Jawa Pos

Berita Terkait

Kuliah di jurusan strategi perang, tetapi tesis Muhammad Chairul Basyar justru tentang bagaimana menciptakan perdamaian di ASEAN. Dia mengusulkan pembentukan dewan keamanan nasional. M. Hilmi Setiawan, Jakarta

MUHAMMAD Chairul Basyar masih mengingat dengan baik hari-hari pertamanya di kampus Universitas Pertahanan (Unhan). Dia serbakikuk. Suasana ruang kuliah juga terasa dingin.Maklum, 14 di antara 18 mahasiswa satu angkatan adalah perwira berpangkat kolonel. Sebagian di antaranya juga pernah menjadi komandan korem (komando resor militer).

”Tapi, ya itulah risiko kuliah di prodi (program studi) strategi perang semesta (SPS), hehehe,” kata pria kelahiran Bekasi, 12 Oktober 1985, itu.

Otomatis, Chairul yang berlatar belakang sipil dan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam tersebut pun harus beradaptasi. Jika di Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, tempat menyelesaikan pendidikan S-1, dia bebas ber-elu-gue dengan rekan kuliah, tidak demikian halnya dengan di Unhan.Para mahasiswa yang berlatar belakang militer tentu memiliki kedisiplinan atau tata cara bergaul sendiri. Khususnya dalam etika berkomunikasi antara senior dan junior atau sebaliknya.

Dari awalnya serbakaku, hubungan suami Mia Tri Utami itu dengan rekan-rekannya akhirnya cair. Komunikasi-komunikasi keilmuan, seperti diskusi materi kuliah maupun bahan penelitian, bisa berjalan dengan hangat.

Itu pula yang akhirnya turut mengantarkan Chairul bisa menyelesaikan kuliah S-2 di Unhan dengan sangat baik. Berkuliah mulai Oktober 2014, kemarin (12/11) dia diwisuda setelah dianyatakan lulus dengan predikat cum laude. ”Nggak ada kiat khusus kok. Sama saja dengan yang lain,” katanya.Bahkan, selama kuliah, dia harus berkendara mobil dari Tebet, Jakarta Selatan, ke Sentul, Bogor. Untung, arah ketika dia berangkat maupun pulang kuliah melawan kemacetan parah di Jakarta.

SPS, seperti diakui Chairul, adalah prodi paling bergengsi di Unhan. Prodi tersebut berada di bawah kelompok fakultas strategi pertahanan. Fakultas lain di Unhan adalah fakultas manajemen pertahanan. Secara keseluruhan, ada 13 prodi di dua fakultas tersebut.Yang membuat prodi SPS bergengsi adalah mayoritas mahasiswanya anggota TNI. Sejak Unhan diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2009, prodi tersebut konon memang didedikasikan untuk menggembleng para prajurit TNI dari sisi keilmuan.

Namun, akhirnya SBY membuka akses lebih luas bagi mahasiswa dari kalangan sipil untuk masuk di prodi jenjang S-2 (magister) tersebut. ’’Semua prodi di Unhan memang untuk mahasiswa S-2,’’ tuturnya tentang perguruan tinggi yang berkampus di kawasan Sentul, Bogor, itu.Menurut Chairul, saringan untuk masuk menjadi mahasiswa Unhan, khususnya prodi SPS, terbilang ketat. Dari total mahasiswa baru 18 orang, kuota unsur mahasiswa sipil maksimal empat orang. Tidak boleh lebih.

Begitu mahasiswa lolos saringan, semua biaya kuliah ditanggung negara. Perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan di bidang pertahanan dan bela negara itu juga menyediakan fasilitas asrama plus jatah makan sehari-hari.  Perkuliahan berlangsung penuh mulai Senin sampai Jumat. Rata-rata jam kuliah dimulai pukul 09.00. Karena ketatnya jadwal, Chairul mengatakan, kuliah di Unhan tidak bisa disambi bekerja. Beda dengan kuliah pascasarjana lain yang bisa digelar saat malam setelah jam kerja atau bahkan pada akhir pekan saja.

Sejak awal masuk kuliah di kampus yang dipimpin Letjen I Wayan Midhio tersebut, semua diminta untuk mengajukan judul tesis. Saat itu Chairul menentukan tema tesisnya tentang ASEAN Security Community (Komunitas Keamanan ASEAN/ASC).

”Saya pilih tema itu karena sedang hangat, sama dengan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN, Red),” kata Chairul.Chairul menuturkan, misi atau agenda utama dalam ASC adalah menciptakan perdamaian di tengah negara-negara ASEAN. Indonesia jangan sampai dianggap sebagai musuh oleh negeri tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Setiap kali Indonesia memperkuat alat utama sistem persenjataan (alutsista), jangan sampai ada anggapan sebagai rencana untuk menyerang.

”Kunci dalam belajar perang semesta di prodi SPS bukan bagaimana menyerang musuh. Titik utamanya adalah pertahanan,” katanya.Mahasiswa prodi SPS dibekali ilmu mendalam tentang bagaimana menyiapkan strategi pertahanan supaya tidak sampai kalah ketika diserang musuh. Nah, pendukung kesuksesan dalam perang semesta itu adalah keterlibatan atau bersatunya seluruh komponen bangsa.

Saat melakukan penelitan di sektor kondisi pemerintah menghadapi ASC tersebut, Chairul menemukan masalah yang harus dipecahkan atau dicarikan solusi. Yakni, di sektor interagency process.Gejala masalah itu adalah instansi atau kementerian yang terlibat di dalamnya seperti berjalan sendiri-sendiri. Koordinasi di antara instansi tersebut perlu diperkuat supaya posisi Indonesia dalam agenda ASC benar-benar kuat.

Dalam penelitian Chairul, mandat untuk agenda ASC itu ada di pundak Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dan Kementerian Pertahanan (Kemenhan). Dia mengatakan awalnya sempat kesulitan untuk menggali data penelitian teknis di dua institusi tersebut soal agenda ASC.Akhirnya dia memperbanyak kajian literatur dengan mengumpulkan file jurnal-jurnal. ’’Saya sampai kumpulkan 6.000 judul file PDF sumber literatur,’’ tutur pria yang pernah mengikuti pelatihan singkat di Naval Postgraduate School (NPS), Monterey, California, itu. Kursus singkat tersebut diambil di tengah-tengah masa studi di Unhan.

Sebagai solusi atas ketidakadaan interkoneksi antarlembaga atau kementerian dalam agenda ASC, Chairul menawarkan solusi pembentukan dewan keamanan nasional (DKN). Komando tertinggi dalam DKN itu nanti tetap di tangan presiden. Namun, secara teknis, lembaga tersebut ditangani orang-orang tertentu dan kementerian-kementerian terkait dilibatkan.Namun, Indonesia kan sudah memiliki Kemenko Polhukam? Dengan tegas, Chairul mengatakan, Kemenko Polhukam belum bisa meng-cover seluruh isu atau potensi gangguan terhadap keamanan nasional.

Dia mencontohkan, dalam kasus penanganan wabah ebola, Kemenko Polhukam bisa jadi memiliki porsi kewenangan yang tidak terlalu besar. Padahal, wabah ebola itu merupakan ancaman keamanan nasional yang disebabkan faktor eksternal.Dalam penanganan potensi wabah ebola, tentu kementerian koordinator yang lebih berperan ada di Kemenko PMK (Pembangunan Manusia dan Kebudayaan). Nah, dalam kasus-kasus seperti itu, Chairul mengatakan, perlu ada lembaga khusus yang bisa menyatukan kinerja lembaga demi menjaga keamanan nasional.

Dalam kasus kabut asap, Chairul mengatakan, terjadi upaya mencari kambing hitam atau lempar tanggung jawab. Dia menuturkan, kabut asap yang muncul gara-gara kebakaran hutan untuk pembukaan lahan tentu sangat erat kaitannya dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Sebab, perizinan segala urusan usaha di kawasan hutan berhubungan dengan KLHK. Baru setelah terjadi kabut asap, banyak lembaga seakan-akan ketiban masalah. Misalnya, pemerintah daerah dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

’’Seharusnya mulai dari pengajuan izin pengelolaan hutan, pihak-pihak itu dilibatkan. Supaya bisa antisipasi potensi kebakaran hutan,’’ katanya.

Untuk mereka yang tertarik mengikuti jejaknya berkuliah di Unhan, Chairul mengatakan tidak perlu takut dengan kesan kampus militer. Kampus Unhan memang menekankan kedisiplinan, tetapi tidak seketat kampus militer semacam Akademi Militer.

Dia mengatakan, pertahanan dan rakyat (TNI dan masyarakat sipil) itu seperti ikan dan air. ’’Unsur pertahanan itu adalah ikannya. Sedangkan masyarakat sipil itu adalah airnya,’’ kata dia beranalogi. ”Ikan tanpa air tidak bisa hidup alias mati. Begitu pula air tanpa ikan, tidak ada artinya,” lanjut dia.

Chairul mengatakan, dirinya masuk Unhan awalnya karena rasa ingin tahu terhadap apa itu ilmu perang. Setelah kesampaian, dia sadar bahwa Indonesia butuh sebuah konsep keamanan yang lebih komperhensif.”Bukan sekadar urusan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas),” kata pria yang menjadikan mendiang Prof Bantarto Bandoro sebagai dosen favoritnya itu. Guru besar ilmu perang tersebut meninggal dunia beberapa pekan lalu.Kini, setelah gelar sudah dalam rengkuhan, Chairul ingin menjadi akademisi di bidang ilmu pertahanan. Lebih spesifik lagi terkait perang. Pasalnya, akademisi di bidang itu, menurut dia, masih langka.”Soal mengajar di kampus mana, di mana pun saya siap mengabdi,” ujarnya. (*/c10/ttg) 

Berita Terkait