Mudik dengan Menggunakan Kendaraan Pribadi

Mudik dengan Menggunakan Kendaraan Pribadi

Sabtu, 9 July 2016 13:45   1

DALAM satu minggu ini dalam sajian baik media massa maupun media sosial ditunjukkan peristiwa mudik untuk berlebaran-pulang ke kampung halaman atau sanak famili. Kisah mudik yang menyita banyak perhatian media massa dan media elektronik itu terpusat pada perjalanan mudik penduduk Jakarta ke arah Jawa Tengah atau Jawa Timur. Macet dan ‘sakit’.

Kementerian Perhubungan  memperkirakan mudik tahun 2016 ini mencapai 17,6 juta orang. Pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi roda empat diprediksi sebanyak 2,4 juta dan sepeda motor sebanyak 5,6 juta.

Sri Lestari, Wartawan BBC Indonesia, (7 Juli 2016), mengatakan bahwa mudik gratis 'tak berhasil' kurangi jumlah pengendara sepeda motor. Salah seorang pengendara sepeda motor memberi alasan mengapa memilih mudik dengan sepeda motor seperti berikut ini, ‘Kita mau berangkat jam berapa tidak ada yang menentukan, kita sendiri yang menentukan’.

Suvai Elsinta.com, 4 Juli 2016, menunjukkan alasan pemudik yang membawa kendaraan pribadi adalah untuk mempermudah mobilisasi di tempat tujuan. “Khawatir menghambat aktivitas mereka di kampung halaman, mereka membawa kendaraan pribadi, baik mobil maupun motor”.

Sungguhkah? Menteri Ignatius Jonan dalam acara ‘Sudut istana’ menjelaskan fenomena ini disebabkan oleh kehendak untuk menunjukkan ‘kesuksesan hidup’ di rantau. “Mereka dulu ke Jakarta naik kereta ekonomi, kini mereka kembali ke kampung halaman membawa kendaraan sendiri. Adik peningkatan hidup”. Jika ini benar, maka alasan itu lebih bersifat psikologis ketimbang teknis fragmatis. Alasan itu merupakan salah satu aspek dari ‘subjective well-being’  yang bersangkutan.

Dalam Wikipedia, ‘subjective well-being’ merujuk pada pengalaman seseorang tentang kualitas hidupnya baik dalam tupa reaksi emosi  maupun pertimbangan rasionalnya. Dengan perkataan lain ‘subjective well-being’ mengarah kepada bagaimana seseorang manilai hidupnya sendiri, tentang hidup yang dianggap baik.

Smith, T. B., dan  Sylva, L., (Brigham Young University-AS), pada tahun 2011 memetaanalisis 184 penelitian tentang hubungan antara identitas etnis dan ‘subjective well-being’ penduduk Amerika.  Ditemukan effect size rata-rata 0.17. Artinya,  korelasi antara kedua variabel ini moderat. Korelasi yang lebih kuat terjadi di kelompok umur kurang dari 40 tahun.

Temuan ini dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa banyak pemudik memilih menggunakan kendaraan sendiri ketimbang kendaraan umum. Dengan mambawa kendaraan pribadi mereka ingin menunjukkan sukses hidupnya kepada sanak famili dan juga orang lain di tanah asalnya. Walaupun belum ada data resmi, dapat diduga bahwa sebagaian besar pemudik kelompok ini berusia 40 tahun ke bawah.

Paul Dolan  dan Tessa Peasgood (Imperial College London) serta Mathew White (Universitas Plymouth), Inggris, 2007, merangkum hasil ratusan penelitian yang terbit 1990-2007 tentang sejumlah faktor yang berpengaruh pada ‘subjective well-being’. Mereka menemukan bahwa kesehatan yang kurang baik, pengangguran, dan kurang pergaulan berkorelasi negatif dengan ‘subjective well-being ini.

Temuan ini ini menjelaskan mengapa para pemudik memilih berkendaraan sendiri. Mereka ingin terlihat masih sehat, segar, bukan pengangguran dan tentu saja juga gaul-banyak kawan baik di tempat asal maupun di perantauan.

Daphna Oyserman, Heather M. Coon, dan Markus Kemmelmeier dari Universitas Michigan-AS, 2002, memetanalisis 170 penelitian tentang individualisme vs kolektivisme antar bangsa. Ditemukan bahwa orang-orang Amerika keturunan Eropa tidak lebih individualistik ketimbang orang Amerika keturuanan Afrika dan juga orang Amerika Latin. Tetapi, juga tidak kurang kolektivistik ketimbang orang Asia.

Mudik di kala Lebaran merupakan salah satu wujud sikap kolektifnya. Ramai di jalan, bahkan ribet dan semrawut tidak membuat mereka menjadi gentar karena didasarkan pada rasa kebersamaan – banyak kawan senasib- (kolektivistik). Karena itu, secara umum tidak akan terjadi kemarahan yang meluap-luap terpapar dalam perjalanan. Mereka akan menerima begitu saja apa yang terjadi di jalan, bahkan masih mampu tersenyum tulus. Walaupun, di sana-sini terdengar juga berbagai keluhan yang kurang enak didengar.

Martin Pinquart dari Universitas Friedrich Schiller Jena dan Silvia Sorensen dari Universitas Utah, AS, 2009,  merangkum 286 penelitian tentang asosiasi antara tingkat sosial ekonomi, jejaring sosial, kompetensi dengan ‘subjective well-being’. Mereka menemukan ada hubungan yang kuat antara penghasilan dan ‘subjective well-being’. Demikian juga kualitas hubungan sosialnya. Sedangkan kompetensi (dan didalamnya pendidikan) berasosiasi sedang dengan subjective well-being’.

 Temuan ini dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa mereka senang menggunakan kendaraan pribadi di kala mudik walaupun harus menempuh medan yang ‘berat’. Mereka akan menunjukkan sukses hidupnya secara ekonomi. Kesuksesan itu ditunjukkan kepada sanak famili dan para sahabat karena dengan mereka ini para pemudik memiliki kualitas interaksi sosial yang  tinggi.

Ryan T. Howell dari Universitas Negeri San Francisco dan Colleen J. Howell dari Universitas  California, di Riverside, AS, 2008, memetaanalisis 111 penelitian yang berasal darai 54 negara  berkembang tentang hubungan antara tingkat ekonomi dan ‘subjective well-being’. Mereka menemukan hubungan yang sangat kuat antara status ekonomi dan ‘subjective well-being’ di kalangan masyarakat yang penghasilannya menengah ketimbang yang berpenghasilan tinggi.

Temuan ini dapat digunakan untuk menjelaskan salah satu pernyataan Menteri Perhubungan, Ignatius Jonan, dalam acara dengan salah satu Televisi, 6 Juli 2016. Menteri mengatakan bahwa penerbangan ekstra yang disediakan khusus lebaran tidak sepenuhnya terpakai. Sementara, di jalan darat ‘meluap – tumpah ruah’. Kenyataan ini menunjukkan bahwa yang mudik dengan kendaraan pribadi lebih banyak dilakukan oleh mereka yang tingkat sosial ekonominya menegah. Mereka yang tingkat penghasilannya tinggi tidak mudik.

Inilah sejumlah penelitian yang dapat menjelaskan fenomena mudik khas Indonesia, mudik membawa pulang kendaraan pribadi. Ribet tetapi menyenangkan. Rumit tetapi membahagiakan. Sekali lagi mohon Maaf lahir dan batin.**

 

Leo Sutrisno