Monyet Belanda alias Bekantan Perlu Perlindungan

Monyet Belanda alias Bekantan Perlu Perlindungan

  Sabtu, 14 May 2016 14:36
FOTO; benyaminlakitan.com

Berita Terkait

Di kabupaten Sambas, khususnya kecamatan Paloh, selain penyu, ikan lumba-lumba. Juga terdapat hewan yang dilindungi lainnya, yakni Bekantan yang hidup di kawasan mangrove yang ada di daerah tersebut.

 
 
Fahrozy, Sambas

KEPALA Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sambas, Darsono mengatakan keberadaan bekantan, seperti yang ada di kawasan Paloh. Harus dilindungi.

“Sambas punya hamparan kawasan mangrove yang perlu sentuhan tangan untuk dikonservasi. Lantaran di beberapa kawasan mangrove itu ada yang menjadi tempat tinggal hewan dilindungi seperti bekantan yang ada di kawasan Paloh,” kata Darsono.

Bekantan atau biasa disebut Monyet Belanda merupakan satwa endemik Pulau Kalimantan  (Indonesia, Brunei, dan Malaysia).

Bekantan merupakan sejenis kera yang mempunyai ciri khas hidung yang panjang dan besar dengan rambut berwarna coklat kemerahan. Dalam bahasa ilmiah, Bekantan disebut Nasalis larvatus.

Bekantan dalam bahasa latin (ilmiah) disebut Nasalis larvatus, sedang dalam bahasa inggris disebut Long-Nosed Monkey atau Proboscis Monkey. Di negara-negara lain disebut dengan beberapa nama seperti Kera Bekantan (Malaysia), Bangkatan (Brunei), Neusaap (Belanda). Masyarakat Kalimantan sendiri memberikan beberapa nama pada spesies kera berhidung panjang ini seperti Kera Belanda, Pika, Bahara Bentangan, Raseng dan Kahau.

Bekantan yang merupakan satu dari dua spesies anggota Genus Nasalis ini sebenarnya terdiri atas dua subspesies yaitu Nasalis larvatus larvatus dan Nasalis larvatus orientalis. Nasalis larvatus larvatus terdapat dihampir seluruh bagian pulau Kalimantan sedangkan Nasalis larvatus orientalis terdapat di bagian timur laut dari Pulau Kalimantan.

Binatang yang oleh IUCN Redlist dikategorikan dalam status konservasi “Terancam” (Endangered) merupakan satwa endemik pulau Kalimantan. Satwa ini dijadikan maskot (fauna identitas) provinsi Kalimantan Selatan berdasarkan SK Gubernur Kalsel No. 29 Tahun 1990 tanggal 16 Januari 1990.

Selain itu, satwa ini juga menjadi maskot Dunia Fantasi Ancol.

Spesies ini juga memiliki perut yang besar (buncit). Perut buncit ini sebagai akibat dari kebiasaan mengkonsumsi makanannya yang selain mengonsumsi buah-buahan dan biji-bijian mereka juga memakan dedaunan yang menghasilkan banyak gas pada waktu dicerna.

Satwa yang dilindungi ini lebih banyak menghabiskan waktu di atas pohon. Walaupun demikian Bekantan juga mampu berenang dan menyelam dengan baik, terkadang terlihat berenang menyeberang sungai atau bahkan berenang dari satu pulau ke pulau lain.

Pada tahun 1987 diperkirakan terdapat sekitar 260.000 Bekantan di Pulau Kalimantan saja tetapi pada tahun 2008 diperkirakan jumlah itu menurun drastis dan hanya tersisa sekitar 25.000. Hal ini disebabkan oleh banyaknya habitat yang mulai beralih fungsi dan kebakaran hutan.

Darsono yang saat itu bertemu dengan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Daniel Johan. Membeberkan kondisi kawasan-kawasan lindung dan habitat sejumlah satwa dilindungi. Keadaannya sangat memerlukan sentuhan program konservasi dari pemerintah pusat.

“Kita berharap melalui lembaga perwakilan rakyat, harapan pemerintah daerah agar ada dana pusat yang masuk untuk program konservasi ini bisa terwujud,” katanya.

Program konservasi, sebutnya, mendesak untuk segera dilakukan. Lantaran selain memperbaiki kondisi lingkungan. Program tersebut juga memberikan nilai tambah masyarakat di sekitar kawasan konservasi sepanjang aktivitas mereka tidak merusak kawasan tersebut.

“Saya pikir pusat akan sangat mendukung upaya ini karena untuk dibeberapa titik, terutama di kawasan pesisir sudah mulai banyak yang terkikis akibat abrasi pantai,” katanya. Pemerintah daerah sendiri, sebutnya, telah berupaya agar sejumlah

kawasan di Kabupaten Sambas kondisi lingkungannya bisa terus dibenahi.

Termasuk dalam kaitannya meraih penghargaan Adipura.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Daniel Johan ketika berkunjung di Sambas

menyambut baik apa yang disampaikan Kepala BLH Sambas. “Kita akan berupaya mengkomunikasikan dengan kementerian terkait di pusat terkait masalah konservasi itu,” katanya. (*/alamendah's Blog )

 

 

 

Berita Terkait