Momen Pembalasan Ferrari

Momen Pembalasan Ferrari

  Jumat, 15 April 2016 09:01
PIT STOP: Sebastian Vettel ketika berada di pit stop saat balapan di Melbourne, Australia. REUTERS/Brandon Malone

Berita Terkait

Hamilton Start Lima Grid ke Belakang 

SHANGHAI – This is it. Ferrari belum juga bisa juara di dua grand prix pendahulu. Pada dua seri awal, Skuad Kuda Jingkrak baru sebatas mengganggu dominasi Mercedes. Sebastian Vettel finis nomor tiga di Australia, sementara Kimi Raikkonen merebut runner up di Bahrain. Di sinilah, Shanghai, kesempatan terbaik mereka untuk menuntut balas. 

Kegagalan Vettel start di Bahrain dua pekan lalu memang bukan indikasi bagus. Tapi penampilan Raikkonen tak boleh diabaikan. Posisinya cukup steady di belakang Nico Rosberg, tidak terkejar oleh Lewis Hamilton. Seusai race, Rosberg nyata-nyata menyuarakan kewaspadaan terhadap Kuda Jingkrak. ''Kita belum melihat Ferrari yang sesungguhnya,'' kata Rosberg kala itu. 

Kimi Raikkonen, dalam konferensi pers resmi di Shanghai kemarin, setuju bahwa sudah saatnya timnya meraih kemenangan. Dan Shanghai adalah tempat terbaik untuk mewujudkannya. 

''Kami masih merasa positif dengan apa yang telah dibangun tim selama musim dingin. Itu tidak berubah. Meskipun, ya, hasil dua race pertama tidak ideal,'' tutur Raikkonen. ''Kami naik podium dua kali, tapi juga gagal finis dan gagal dapat poin dua kali juga (dia tidak finis di Melbourne, Red). Tentu kami banyak yang harus kami benahi. Tapi kami sangat cepat. Speed kami sudah terlihat,'' yakinnya. 

Raikkonen menyebut paket SF16-H sangatlah komplet. Mobil telah mengalami peningkatan di berbagai sektor. ''Mesin makin bagus, aerodinamika makin oke. Mobilnya sendiri itu sudah lebih bagus. Hal-hal yang musim lalu bikin kami tidak happy juga sudah diperbaiki. Tapi menurutku, selalu ada ruang untuk perbaikan,'' papar pembalap berjuluk Iceman itu. 

Nah, balas dendam ini benar-benar menemukan momentumnya akhir pekan ini. Mercedes tidak mungkin start 1-2. Hamilton, sebagus apapun hasil kualifikasinya, akan dipotong lima grid. Dia mendapat hukuman penalti start lima posisi ke belakang dari hasil kualifikasi. Penyebabnya, Mercedes memutuskan mengganti girboks pada mobil W07-nya.          

Keputusan itu diambil setelah Mercedes melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap mobil Hamilton Rabu lalu (13/4). Ditemukan beberapa komponen girboks yang pecah setelah mobil bernomor 44 itu bertabrakan dengan mobil Williams Valtteri Bottas pada tikungan pertama di GP Bahrain dua pekan lalu (3/4).

’’Selama bertahun-tahun, Shanghai ini sirkuit yang oke buatku. Aku selalu merasa senang kembali ke sini,’’ ungkap Hamilton kepada Sky Sports F1. ’’Nah, ketika kamu datang ke sini dan menyadari harus start lima posisi di belakang hasil kualifikasi, tentu itu seperti mendapat tendangan di perut. Tapi, harus diterima,’’ lanjut juara dunia tiga kali tersebut. 

Hamilton menjadi ’’korban’’ aturan yang mewajibkan satu girboks sedikitnya digunakan dalam enam seri grand prix. Aturan itu justru tidak berlaku bagi non-starter maupun non-finisher karena problem teknis di race sebelumnya. Dua-duanya tidak bisa diterapkan buat Hamilton.    

Nah, kondisi itu harus dimanfaatkan benar oleh Raikkonen dan Vettel. Mereka dituntut sangat cepat sejak kualifikasi untuk menjegal duo Mercedes sejak awal. Statistik cukup mendukung peraih pole position. Sejak kali pertama masuk kalender F1 pada 2004, tujuh juara di Shanghai memulai lomba dari posisi start terdepan. ''Itu (cepat di kualifikasi) yang belum kami capai,'' Raikkonen mengakui. Namun tentunya, hasil lomba nanti juga akan ditentukan oleh pemilihan ban. Pirelli memberikan jatah kompon medium, soft, dan supersoft. Duo Ferrari memilih tiga medium, empat soft, dan enam supersoft. Bakal agresif. 

Mercedes, di sisi lain, kapok hanya membawa satu set ban medium. Hamilton kini dibekali empat medium, empat soft, dan lima supersoft. Sedangkan Rosberg punya jatah tiga medium, dan masing-masing lima set soft dan supersoft. Tapi Shanghai tidak sama dengan Bahrain. Cuacanya sulit diprediksi, dan itu juga bisa menjadi kunci. 

Persaingan Papan Tengah 

Balapan di Bahrain dua pekan silam juga menjadi bukti bahwa pertarungan tim-tim papan tengah dan bawah sangat menarik. Ini bagus untuk F1 di tengah dominasi Mercedes dua musim terakhir. Banyak kalangan dikejutkan dengan performa mobil Manor MRT05 yang mampu finis di depan Sauber dan Force India. 

Pembalap Sauber Marcus Ericsson mengakui bahwa sebenarnya timnya ingin bertarung di level lebih tinggi. Namun dia menganggap ketatnya pertarungan di grid belakang akan membuat F1 lebih menarik. ''Ketika gap posisi 1 sampai 22 semakin dekat, aku rasa semua orang akan semakin excited. Begitu pula kami para pembalap,'' tuturnya.

Sementara Sauber punya memori indah di Shanghai tahun lalu. Dua mobil mereka lolos ke Kualifikasi 3 (Q3). Di akhir lomba, Ericsson dan Felipe Nasr finis 10 besar. Namun awal tahun ini Sauber mengalami masalah finansial hingga teknisinya telat gajian. ''Trek di sini lebih cocok dengan kami dibandingkan dengan Bahrain. So meski melewati awal musim yang berat kami berharap bisa melakoni balapan bagus akhir pekan ini,'' terusnya.

Bintang Renault Kevin Magnussen mengakui awal musim ini pertarungan tim-tim papan tengah dan bawah lebih ketat dibandingkan sebelumnya. Namun dia menyatakan saat ini baru permulaan musim dimana tim-tim masih terus mengeksplorasi potensi mobilnya di atas sirkuit. ''Sebenarnya aku tak terlalu merisaukan posisi kami saat ini,'' tukasnya.

Sebagai tim baru di grid F1 musim ini Renault punya atmosfer kerja yang bagus. Mereka puas dengan dukungan besar dari pabrikan Prancis tersebut. ''Pada dasarnya kami punya mobil bagus. Memang belum cukup cepat, kami tahu itu,'' kata Magnussen. ''Kelemahan terbesar kami adalah di kualifikasi, tapi lebih kompetitif di balapan,'' tandasnya. Dengan formasi tim baru tahun ini akan digunakan sebagai musim transisi. ’’Kesabaran sangat penting saat ini,’’ sebutnya.

Force India yang juga finis di belakang Manor di GP Bahrain tetap yakin bahwa potensi mereka belum terkuras sepenuhnya. Nico Hulkenberg bahkan menyebut target finis keempat untuk kategori tim akhir musim ini masih sangat relevan. ’’Di Melbourne kami berada di zona poin sangat  lama. Tapi red flag membuyarkan semuanya. Di Bahrain insiden di lap pertama, lalu terjebak traffic, dan gagal menjaga durasi ban dibandingkan pembalap lainnya menjadi masalah besar. Andai itu tak terjadi aku yakin masih bisa finis ke- 6 atau 7,’’ tuturnya. 

Setelah melakoni balapan di dua sirkuit yang berbeda karakter di Melbourne dan Bahrain, seri ketika Formula 1 musim ini akan digelar di Shanghai. Trek sepanjang 5,451 kilometer ini sangat berbeda dengan dua seri sebelumnya, karena memiliki kesulitan lebih besar.

Tantangan terbesarnya adalah tekanan pada roda depan. Di sini terdapat trek lurus sepanjang 1,175 kilometer yang langsung dihadapkan pada tikungan hairpin tajam. Pada bagian tersebut kecepatan mobil yang telah mencapai top speed sekitar 327 kilometer per jam dipaksa untuk  menurunkan kecepatan hingga 87 kilometer perjam. Bisa dibayang betapa kuatnya tekanan pada poros roda depan. Pada lap pembukaan roda depan bagian kiri akan mendapatkan beban sangat berat dengan risiko mengalami degradasi luar biasa.

Selain trek lurus panjang, Sirkuit Shanghai juga memiliki perubahan elevasi naik dan turun. Dengan maksimal kemiringan naik 3 persen dan menurun 8 persen. Tahun ini ada peninggian kerb pada apex di tikungan 9,10,11 dan 16.  Tingginya ditambah 50 milimeter dari yang sudah ada. Panjangnya juga ditambah dari 3 meter da n lebar 1 meter.(cak)

Berita Terkait